Beberapa bulan lalu saya pergi ke Tokyo dan Amerika Serikat karena “terganggu” oleh miles dan voucher yang akan kedaluwarsa. Perjalanan kali ini memang relatif sederhana, tapi sebisa mungkin saya tetap berusaha memasukkan sedikit keseruan supaya tidak menjadi perjalanan yang terlalu generik 😀
Rencana Perjalanan
Perjalanan kali ini terdiri dari 8 penerbangan, di mana 6 diantaranya di kelas bisnis dan bahkan 4 di antaranya di EVA Air (produknya cukup bagus, tapi memang sedikit kurang variasi saja dibandingkan dengan beberapa perjalanan sebelumnya):
- Jakarta (CGK) ke Shanghai (PVG) dengan Garuda Indonesia Airbus A330-300 kelas bisnis
- Beijing (PEK) ke Guangzhou (CAN) dengan Air China Airbus A330-300 kelas bisnis
- Hong Kong (HKG) ke Taipei (TPE) dengan EVA Air Airbus A321-200 kelas bisnis
- Taipei (TPE) ke Tokyo (NRT) dengan EVA Air Boeing 787-10 kelas bisnis
- Tokyo (NRT) ke Honolulu (HNL) dengan All Nippon Airways Airbus A380 first class
- Honolulu (HNL) ke San Jose (SJC) dengan Hawaiian Airlines Airbus A321neo kelas ekonomi
- San Francisco (SFO) ke Taipei (TPE) dengan EVA Air Boeing 777-300ER kelas bisnis
- Taipei (TPE) ke Jakarta (CGK) dengan EVA Air Boeing 787-9 kelas bisnis.
Berbeda dengan perjalanan-perjalanan lain di mana saya banyak menginap di hotel (tapi masih mager mengulas), bisa dibilang kali ini saya hanya menginap 1 malam di hotel yang layak diulas, Pullman Tokyo Tamachi.
Bagaimana Saya Memesan Perjalanannya?
Berbeda dengan perjalanan double round the world saya yang persiapannya relatif lebih intens, trip ini bisa dibilang “apa adanya” (paling tidak dengan standar saya).
Hotel Mana yang Paling Worth It Untuk Menukarkan Stay Plus?
Sebetulnya ada logika yang bisa dibilang sedikit cacat di sini.
Apabila melihat dari faktor kemewahan (dan mungkin keunikan) propertinya sendiri, saya kemungkinan besar akan menjawab Sofitel Legend Metropole Hanoi, hotel dengan merek tertinggi di jajaran grup Accor di Asia Pasifik. Walaupun begitu, kalau melihat dari popularitas tentu akan menjadi seperti ini:
- Kota mana yang masuk bucket list paling banyak orang Indonesia? Tokyo (walaupun saya selalu berpikir maksimal 1 malam di sana sudah lebih dari cukup – ingat terbang jauh lebih seru dari onsen, Don Quijote, atau penyeberangan jalan sibuk dekat stasiun KRL), apalagi di first class,
- Hotel mana yang paling mewah di sana dan masih ada harapan mendapatkan Stay Plus (dalam arti, yang 1 malam menginap masih Rp0 alih-alih buy 1 get 1 sejak Oktober 2025)? Pullman Tokyo Tamachi
- Kapan waktu paling populer untuk orang pergi ke Tokyo? Musim panas.
Kurang lebih 1 1/2 bulan sebelum saya berangkat, saya menemukan ketersediaan 1 malam (dan hanya tersisa 1 kamar) di Pullman Tokyo Tamachi di bulan Agustus 2025.
Oleh karena itu, sudah pasti bahwa perjalanan saya akan berkisar di sekitar Tokyo untuk periode tersebut.

Ada Miles EVA Air akan Kedaluwarsa? Sekalian Dinikmati Saja 😀
Anda yang dulu mengikuti PinterPoin Masterclass hingga pertengahan 2022 tentu tahu bahwa salah satu sweet spot Infinity MileageLands, frequent flyer program EVA Air, adalah untuk terbang dari Amerika Utara ke Asia hanya dengan 75.000 miles di kelas bisnis.
Masalahnya:
- Seperti KrisFlyer atau GarudaMiles masa berlaku miles-nya tidak activity-based dan hanya berlaku fixed 3 tahun, dan
- Karena saya terlalu semangat menghabiskan poin dari Citi PremierMiles ke Qatar Airways Privilege Club saat ada bonus 40%, saya hanya menyisakan sedikit poin untuk ditukarkan ke Infinity MileageLands, sesedikit itu sampai saya hampir lupa ada miles akan kedaluwarsa.
Ditambah dengan ada menginap gratis di Tokyo dan fakta bahwa saya perlu membawakan PinterPoin KrisFlyer Masterclass edisi offline perdana bersama Paulo di Jakarta, saya memutuskan untuk menukarkan miles untuk terbang dari San Francisco (SFO) ke Jakarta (CGK) hanya 1-2 hari setelah saya menginap di Tokyo.
Visa Transit “240 Jam” Tiongkok Memanggil
Di kuartal kedua 2025 Garuda Indonesia UOB Card sedang mengadakan promo dengan hadiah voucher diskon penukaran miles 50%. Walaupun teorinya dibatasi maksimal diskon 15.000 miles, saat itu promonya tidak dibatasi dalam hal batas miles maksimum, yang membuat promonya menjadi sangat menarik.
Kurang lebih di periode yang sama (dengan tanggal pemesanan tiketnya), Tiongkok memberlakukan kebijakan visa transit 240 jam bagi warga negara Indonesia.
Saya yang belum pernah ke daratan Tiongkok ikut tergoda dengan penawaran ini, dan kemudian memilih memakai voucher tersebut untuk terbang ke Shanghai (PVG) di kelas bisnis dengan hanya 27.000 GarudaMiles.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana saya bisa pergi dari Tiongkok ke Jepang? Saya memutuskan untuk memesan tiket kereta listrik dari Guangzhou ke Hong Kong (ya, diminta tiketnya saat check-in penerbangan ke Shanghai), lalu kemudian melanjutkan dengan EVA Air ke Tokyo (NRT).
Saat itu sebetulnya ada juga award Shenzhen Airlines dari Shenzhen (SZX) ke Osaka (KIX) di kelas bisnis yang seharusnya bisa mengizinkan saya jauh lebih fleksibel mencoba Air China first class, namun saya putuskan untuk tidak ambil karena jadwalnya yang tidak ideal untuk mengulas Pullman Tokyo Tamachi (baca: kehilangan sesi evening cocktail) dan produknya pun relatif sederhana.
Kembali lagi, saya hanya mendapatkan visa transit “24 jam” karena rencana perjalanan keluar Tiongkok saya yang terlalu awal (naik kereta listrik hanya 1 hari setelah tiba di Shanghai), jadi jadwal saya juga sudah terkunci saat saya masuk Tiongkok.
Air China First Class: Jauh di Mata, Dekat di Hati
1 hal yang saya potong dari trip intro perjalanan double round the world saya sebelumnya adalah alasan kedua kenapa saya sampai muncul ide pergi memutar Australia, dan itu adalah Air China first class.
Saya sempat menemukan ketersediaan award Air China first class internasional dari Beijing (PEK) ke Sydney (SYD), dan ya, itu lebih langka daripada bahkan Qantas first class di program rekanan seperti Asia Miles.
Masalahnya, itu terjadi hanya karena Air China salah memuat pesawatnya dari yang normalnya Airbus A330-300 menjadi Boeing 777-300ER, sehingga begitu pesawatnya disesuaikan saya ikut di-downgrade dan akhirnya memilih mencari cara lain ke Australia yaitu Virgin Australia kelas ekonomi ke Cairns (CNS).


Pelajari Caranya
PinterPoin akan kembali mengadakan KrisFlyer Masterclass secara offline di St. Regis Jakarta pada 18 April 2026 mendatang.
Di Masterclass ini, Anda akan diajarkan cara untuk mengumpulkan KrisFlyer Miles dengan cepat dan menukarkan KrisFlyer Miles dengan optimal seperti pada kasus penukaran KrisFlyer Miles di atas
Pastikan KrisFlyer Miles yang sudah Anda kumpulkan dengan susah payah bisa membawa Anda sejauh dan semewah mungkin tapi masih murah dari segi penukarannya.
Daftarkan diri Anda pada PinterPoin KrisFlyer Masterclass 18 April 2026 di sini.
Oleh karena itu, untuk bisa mengejar maskapai ke-15 terbang di first class tersebut saya berusaha mencoba lagi kali ini dan untuk meningkatkan keberuntungan saya:
- Memesan award H-1 (dan itu pun malamnya)
- Memeriksa penerbangan mana saja yang peluangnya lebih besar mendapatkan Boeing 747 (karena Air China sudah memiliki reputasi sangat sering mengubah pesawat di rute itu), serta
- Reposition dari Shanghai ke Beijing dengan duduk di bordes kereta karena kehabisan kursi.
Ketika saya check-in di Beijing (PEK), saya mendadak ditolak check-in sebelum akhirnya diarahkan ke konter bantuan dan, tentu saja, diarahkan terbang “hanya” di kelas bisnis alih-alih dipindahkan ke penerbangan lain dengan first class.

Yakin Bisa Berharap Award JAL A350-1000 First Class Saat Last-Minute Lagi?
Walaupun semua tim PinterPoin sudah pernah terbang di JAL first class internasional, baru ada 2 yang sudah terbang di JAL first class di pesawat Airbus A350-1000, dan keduanya bukan saya. Mengingat berbagai ulasan yang ada sudah mengabarkan produknya luar biasa, tentu sangat wajar bagi saya untuk ikut tergoda, apalagi karena memang ada perjalanan transpasifik yang perlu saya lakukan.
Pada dasarnya, ada 3 cara untuk berburu JAL first class dengan hasil yang cukup bisa diandalkan:
- Tukar miles sangat jauh di awal (dalam arti, H-350 sampai H-360 – baik JAL Mileage Bank maupun Asia Miles membuka pemesanan award dari H-360),
- Upgrade tiket award kelas bisnis menjadi first class, baik di awal maupun saat di bandara, dengan syarat baik award awal maupun upgrade award harus sama-sama menggunakan miles JAL Mileage Bank, atau
- Menunggu hingga sangat mepet dan berharap JAL membuka ketersediaan award seperti saat saya terbang dari Chicago (ORD).
Sialnya, pilihan pertama dan kedua bisa dibilang mustahil atau tidak make sense:
- Perjalanannya baru mulai disusun sekitar H-1 bulan, dan
- Award JAL kelas bisnis rute transpasifik di periode saya pergi membutuhkan miles yang sangat banyak (lebih dari 100.000 miles untuk tiket awal di kelas bisnis dan selalu ada risiko upgrade gagal, misalnya karena tidak cukup stok makanan).

Untuk mengantisipasi opsi ketiga, saya menebus ANA first class ke Honolulu (HNL) dengan KrisFlyer miles.
Ini memang produk yang sudah pernah saya ulas dan secara jumlah miles kurang efisien karena hanya mencakup 1 penerbangan alih-alih 5 seperti sebelumnya (ANA first class dari Honolulu (HNL), Thai Airways first class ke Bangkok (BKK), Thai Airways kelas bisnis ke Yangon (RGN), Singapore Airlines kelas bisnis ke Singapura (SIN), dan Singapore Airlines first class ke Jakarta (CGK)), tapi ANA first class harusnya lebih baik daripada American Airlines Flagship Business International dan kebetulan saya belum pernah mengulas ANA first class yang berangkat dari Tokyo.
Entahlah apakah ada perahu dari Hawaii ke daratan AS, tapi kalau ada pun lama 😛 (dan tiket rute Hawaii di musim panas dipesan mepet juga tidak murah), jadi ….
Dipaksa Memesan Tiket Domestik AS Saat Check-In
Saya masih setengah berharap ada award United untuk penerbangan ke daratan AS, tapi award itu tak kunjung tiba bahkan hingga saat saya check-in di Tokyo (NRT).
Kalau ditanya apakah ada award sama sekali, sebetulnya masih ada award American Airlines kelas ekonomi lewat Phoenix (PHX), tapi karena tujuan akhir saya di pantai barat AS jarak totalnya sudah melebihi 2.750 mil sehingga sangat mahal apabila ditebus dengan Asia Miles.

Anda tentu tahu seberapa by the book orang Jepang, dan sialnya ini terjadi saat saya check-in di area prioritas “ANA SUITE CHECK-IN“.
Memang sesuai aturan Amerika Serikat saya perlu memberikan alamat saat di sana, tapi masalahnya karena saya mengisi alamat hotel di San Francisco dan rencana kepulangan saya yang hanya besoknya, saya dipaksa untuk menunjukkan tiket penerbangan ke San Fransisco.
Kebetulan di saat itu masih ada opsi untuk memesan penerbangan ke San Jose (SJC) yang jauh lebih murah dan hanya 1 jam naik kereta listrik ke San Francisco, jadi saya tidak memiliki pilihan lain selain memesan penerbangan tersebut di tempat.
Paling tidak penerbangan domestik dengan Hawaiian Airlines tersebut tidak terlalu buruk, tapi itu cerita untuk lain waktu.

Penutup
Walaupun perjalanan kali ini memang belum seberhasil itu, setidaknya saya berhasil memaksimalkan voucher Stay Plus di Pullman Tokyo Tamachi dan mencoba beberapa produk yang relatif sulit ditebus dengan miles seperti EVA Air kelas bisnis rute transpasifik maupun ANA first class (walaupun masih rute Honolulu lagi).
Tentunya akan ada perjalanan lain yang lebih seru, tapi untuk sementara ditunggu review-nya (sambil saya melawan mager mengerjakan banyak ulasan dari double round the world) 😀




