perahu, dalam ruangan, pesawat, lantai

Flight Review: Japan Airlines First Class Tokyo (HND) – Bangkok (BKK)

Untuk pulang dari Jepang, setelah menyadari bahwa Japan Airlines betul-betul membuka first class di rute intra-Asia, saya langsung memilih untuk mencoba penerbangan Japan Airlines dari Tokyo (HND) ke Bangkok (BKK) yang saya tulis beberapa waktu lalu.

Penerbangan dari Tokyo ke Bangkok sendiri memakan waktu kurang lebih 6 jam, sehingga termasuk penerbangan dengan jarak menengah.

Ini adalah penerbangan ke-5 dari seri 6 penerbangan dalam perjalanan saya ke Jepang di bulan Juni 2023.

Bumi, peta, teks

Japan Airlines sendiri merupakan maskapai anggota Oneworld, sehingga tiketnya bisa dipesan dengan miles dari beberapa program, termasuk dari Cathay Pacific.

Saya memesan penerbangan ini di situs British Airways (BA) sekitar 6 hari sebelum terbang dengan membayar 51.500 Avios (bisa dipindahkan dari akun Qatar Airways apabila Anda mengambil promo bonus 40% miles tahun lalu) + biaya dan pajak Rp2.377.700.

Alternatifnya, tiket ini bisa dipesan dengan harga mulai dari Rp79.800.000, sehingga penukaran ini memberikan valuasi sebesar Rp1.500/mile; lebih dari 8x lipat valuasi Avios menurut PinterPoin.

teks, cuplikan layar, software, Laman internet, Situs, nomor, Ikon komputer, Font, deasin
Sebelum Berangkat

Bahkan walaupun terbang di first class, kecuali taksinya terjangkau atau airport transfer sudah termasuk dalam tiket pesawat, saya masih pergi ke bandara dengan transportasi umum, kali ini menggunakan KRL tepat di jam sibuk di Senin pagi hari.

pakaian, orang, pria, orang-orang, plafon, wanita, bangunan, penumpang, Layanan, grup, dalam ruangan, keramaian, kereta, berdiri

Saya tiba di bandara kira-kira 2 (dua) jam sebelum jadwal keberangkatan.

Japan Airlines sendiri memiliki 1 baris konter check-in khusus untuk penumpang first class dan anggota Oneworld Emerald dan proses check-in sendiri cukup cepat (selain karena agennya mengira orang Indonesia butuh visa untuk ke Thailand sampai saya menunjukkan hasil pencarian dari ExpertFlyer).

Tas ransel saya pun tak lupa diberikan tag khusus first class.

teks, tas, Bagasi dan tas, label, aksesori, merah

Berikut pas naik (boarding pass) saya untuk penerbangan ini.

teks, tiket, orang

Saat saya terbang, bandara Tokyo Haneda tidak membuka jalur pemeriksaan prioritas, sehingga proses pemeriksaan dan imigrasi memakan waktu total 20 menit (dan betul, antrean pemeriksaannya sampai ke area check-in).

bangunan, Bandara, plafon, orang-orang, bagasi, alas kaki, Mall perbelanjaan, Terminal bandara, Layanan, Mendaftar masuk, orang, dalam ruangan, besar, keramaian, kereta

Setelah pemeriksaan saya pun tiba di tengah area keberangkatan.

alas kaki, pakaian, orang, bangunan, Mall perbelanjaan, orang-orang, lobi, plafon, pria, wanita, dalam ruangan, berjalan, lantai, Bandara, berdiri

Silakan cari dimana tanda lounge first class Japan Airlines dari denah tersebut (jawaban: tidak ada; saya sampai harus mencari di situs Japan Airlines dulu sebelum menuju ke sana).

teks, komputer, Tidak bisa, dalam ruangan, bunga

Lounge-nya sendiri terletak di sebelah gerbang 112; akses ke lounge kelas bisnis (Sakura Lounge) sendiri berada setelah gerbang 114. Lounge-nya sendiri akan diulas terpisah, namun sedikit sneak peek: Sushi-nya enak.

Setelah gagal mencoba shower, saya pun segera pergi menuju gerbang keberangkatan. Karena gerbang keberangkatan saya berada di pier gerbang 140-an, perjalanan sendiri membutuhkan 5-7 menit.

plafon, dalam ruangan, lobi, lantai, orang-orang, orang

Saat saya tiba, statusnya sendiri sudah proses naik pesawat.

teks, komputer, dalam ruangan, layar komputer, Perangkat tampilan, cuplikan layar, multimedia, Layar panel datar, layar

Ruang tunggunya sendiri sudah cukup sepi mengingat penumpang kelas ekonomi sendiri sudah mulai naik pesawat.

dalam ruangan, bangunan, teknik, aula, orang-orang, plafon, orang, Bandara

Penerbangan ini dioperasikan oleh pesawat Boeing 777-300ER, satu-satunya jenis pesawat milik Japan Airlines yang memiliki kabin first class, dengan seri JA731J yang berusia 20 tahun (dan Anda tentu tidak akan mengira ini pesawat berumur 20 tahun).

pesawat, outdoor, langit, transportasi, kendaraan, pesawat terbang, pesawat terbang sipil, Perjalanan udara, Perusahaan penerbangan, Bandara, landasan, Mesin pesawat terbang, Pesawat jet, Pelataran pesawat, Mesin jet, tanah, penerbangan, Pesawat lorong tunggal, Twinjet, Terbang, Rekayasa dirgantara, Layanan, Garbarata, tarmak, diparkir, awan, jalan, Pabrikan dirgantara, jet, duduk, airbus, besar, gerbang

Setidaknya Japan Airlines menggunakan garbarata depan khusus bagi penumpang first class; penumpang kelas bisnis sampai ekonomi semuanya menggunakan garbarata kedua.

dalam ruangan, dinding, teks, pintu, Memasang lantai, lantai, penahan perabotan, tangga berjalan

Saya sudah menjadi penumpang first class terakhir yang naik pesawat kali ini, sehingga prosesnya sendiri cukup cepat.

kendaraan, dalam ruangan, orang, pintu, lantai
Di Dalam Penerbangan
Perkenalan Kursi

Setelah sampai di pesawat, saya pun diantar ke kursi saya. Karena saya kehabisan kursi jendela, kali ini saya duduk di kursi 2G, kursi suite terbuka di kabin sisi tengah. Kursi ini sendiri berada tepat di depan kabin kelas bisnis bagian depan, namun tetap tidak berisik di sepanjang penerbangan.

Apabila Anda sempat membaca ulasan Qatar Airways atau Singapore Airlines first class saya, satu hal yang sama dari ketiganya adalah desainnya yang semuanya tidak memiliki pintu.

Hal ini dikarenakan desain ketiga kursi tersebut sudah berumur minimal 10 tahun (bentuk kursi Japan Airlines first class sendiri sudah ada sejak 2008).

perahu, dalam ruangan, pesawat, lantai

Kursinya sendiri memiliki ruang kaki yang sangat lega.

Susunan kursinya yang berbentuk “kotak” juga membuat ottoman-nya bisa dipakai sebagai tempat duduk tamu, bahkan bagi orang yang berukuran besar (tidak seperti di, misal, first class Cathay Pacific atau British Airways).

dalam ruangan, abin pesawat terbang, kabin

Sisi depan kursi sendiri bisa dibilang merupakan kombinasi antara kursi first class Singapore Airlines 777-300ER dengan Garuda Indonesia 777-300ER; di depan sendiri terdapat meja dan penyimpanan kecil beserta (tentunya) layar, walaupun ottoman-nya bisa diakses setelah mejanya digeser ke tengah.

dalam ruangan, mebel, lantai

Di depan sendiri terdapat tempat penyimpanan terbuka untuk menaruh sandal, beserta juga tempat penyimpanan tertutup dengan stopkontak (kembali lagi, stopkontak jauh di depan = desain kursi lama).

Di samping sendiri sudah tidak ada tempat yang menyimpan meja; sebagai penggantinya, terdapat tempat untuk menaruh minuman dan juga kantong bacaan.

teks, mebel, dalam ruangan, kereta, lantai

Di kantong tersebut terdapat kartu petunjuk keselamatan, panduan kursi, majalah, katalog belanja di pesawat, dan panduan Wi-Fi. Panduan kursinya sendiri sudah cukup lengkap, jadi saya tidak perlu lagi menebak apa saja fasilitasnya di kursi ini.

Remote yang saat ini dipakai untuk menggunakan sistem hiburan ada di dekat kendali kursi utama.

dalam ruangan, gadget

Kendali kursinya sendiri masih relatif sederhana untuk standar kursi first class walaupun sudah cukup fungsional.

mobil, dalam ruangan, teks, kontrol, remot, lantai

Tepat di sebelah kursi terdapat tempat penyimpanan tas kantor yang cukup besar, tempat penyimpanan kecil, dan juga remote sistem hiburan lama.

Di dalam area penyimpanan sendiri sudah terdapat amenity kit, kit skincare dari Shiseido, dan earphone noise-cancelling merek Bose.

teks, Ponsel, aksesori, Barang yang dibawa setiap hari, Bagasi dan tas, tas, dalam ruangan, lantai

Earphone Bose yang diberikan sendiri cukup mirip dengan di Cathay Pacific first class; Walaupun yang ini lebih praktis (noise-cancelling-nya bisa dinyalakan tanpa harus terpasang), earphone ini memiliki suara statis yang cukup terasa.

Headphone, Peralatan elektronik, pengeras suara, dalam ruangan

Di tiap sisi dinding kursi terdapat lampu baca; Selain itu, walaupun tidak seempuk lainnya, dinding kursinya sendiri sudah cukup nyaman untuk saya tidur sejenak sebelum kursinya boleh direbahkan.

Seperti biasa, berikut foto saya di kursi tersebut – sandaran kepalanya sendiri tidak bisa dinaikkan (walaupun bisa berputar turun), di penerbangan ini masker sudah tidak diperlukan saat terbang, dan tentunya tak lupa kebahagiaan saya mendapatkan value penukaran miles yang mencapai Rp1.500/mile.

Wajah manusia, orang, pakaian, dalam ruangan, Selfie, Dahi, rahang, Dagu, pria, alis, dinding, perawatan penglihatan, kacamata, senyum, pipi
Penerbangan

Japan Airlines tidak menaruh menu di kursi, namun menunya diberikan dalam folder kulit yang juga berisi majalah dan kupon Wi-Fi.

Wi-Fi di penerbangan ini sendiri masih belum gratis seperti maskapai lain namun harganya tidak terlalu mahal, apalagi untuk kategori penerbangan jarak menengah sampai jauh.

teks, elektronik, cuplikan layar, software, Situs, Laman internet, deasin

Bicara tentang kecepatan wi-fi sendiri, saya menguji kecepatannya 30 menit sebelum mendarat dan hasilnya relatif memadai.

teks, cuplikan layar, software, Software multimedia, multimedia, Ikon komputer, Sistem operasi, deasin

Walaupun Japan Airlines first class sendiri terkenal dengan sampanye (champagne) merek Salon yang legendaris (salah satu sampanye termahal yang disajikan di pesawat), sebelum lepas landas sampanye yang disajikan sebagai minuman selamat datang hanya menggunakan Drappier Carte d’Or NV, yang juga disajikan di kelas bisnis.

minum, orang, botol, anggur, Botol kaca, Minuman beralkohol, dalam ruangan, botol anggur, alkohol, wanita

Sampanye pun disajikan dengan handuk sekali pakai dingin.

perlengkapan meja, Perlengkapan minum, minum, meja, Gelas anggur, Gelas bertangkai, Barware, Minuman beralkohol, anggur, Gelas tangkai sampanye, dalam ruangan, wadah, Tatanan meja, makanan, kaca, kosong, restoran

Video petunjuk keselamatan pun ditayangkan.

teks, cuplikan layar, monitor, Perangkat tampilan, multimedia, media, televisi, Layar panel datar, video, orang

Lampu kabin pun diredupkan sebelum lepas landas walaupun di sepanjang penerbangan sendiri kabinnya terus dibiarkan redup.

abin pesawat terbang, pesawat terbang, pesawat, penumpang, dalam ruangan, plafon, penerbangan

Saya tidak sedang mood untuk mencari opsi hiburan di awal penerbangan jadi saya hanya menonton peta penerbangan.

Petanya sendiri bisa dikendalikan dengan remote, walaupun sistemnya tidak terlalu responsif.

teks, Perangkat tampilan, tampilan, multimedia, monitor, Layar panel datar, media, layar, Layar lcd led-backlit, video, peta, Peralatan elektronik, Set televisi, elektronik, televisi, Perangkat keluaran, komputer, layar komputer

Setelah lepas landas, saya tidak melewatkan kesempatan untuk meminum sampanye Salon yang hanya tersedia di Japan Airlines first class.

Makan siang sendiri dimulai 45 menit setelah lepas landas, dimulai dengan hors d’oeuvre berupa dada bebek asap dan acar.

perlengkapan meja, Gelas anggur, makanan, garpu, minum, Peralatan dapur, hidangan, Piring, Gelas bertangkai, piring, peralatan perak, peralatan makan, Seni Kuliner, Perlengkapan minum, anggur, Gelas tangkai sampanye, dalam ruangan, meja

Pertama, meja saya diatur dengan setting meja untuk opsi makanan Barat. Saya sendiri memilih set Jepang, jadi set mejanya pun diangkat dan diganti dengan tatanan yang sesuai.

perlengkapan meja, Peralatan dapur, garpu, meja, serbet, peralatan perak, dalam ruangan, tas, ungu

5 jenis pembuka pun disajikan, yang masih saya pasangkan dengan gelas kedua (dan terakhir) sampanye Salon.

perlengkapan meja, piring, Peralatan dapur, peralatan makan, Piring, garpu, peralatan perak, Tatanan meja, dalam ruangan, duduk, makanan, ungu, meja

Makan siang pun dilanjutkan dengan sup dumpling lobster, dimana saya pun disarankan untuk “meminum” supnya (dalam arti, minum dari mangkoknya sendiri).

Di meja sendiri hanya terdapat sumpit untuk mengambil dan memotong dumpling-nya, dan nanti akan sama juga saat di hidangan utama.

lingkaran, dalam ruangan, meja, ungu

Salah satu minuman favorit saya, baik di darat maupun udara adalah es teh (atau setidaknya teh dingin) dan Japan Airlines first class juga menyajikan teh yang tidak tanggung-tanggung yaitu Royal Blue Tea “Queen of Blue” Deluxe.

anggur, orang, minum, Gelas anggur, Minuman beralkohol, botol, pakaian, botol anggur, Botol kaca, dalam ruangan, alkohol

Tehnya sendiri disajikan seperti wine, dan tentunya enak (apakah tehnya worth it untuk harga ~Rp500.000/botol tentu cerita lain; ~100x harga Teh Pucuk Harum yang disajikan Garuda saat saya terbang ke Jayapura di kelas bisnis).

minum, Minuman beralkohol, Perlengkapan minum, Gelas anggur, Barware, Gelas bertangkai, perlengkapan meja, anggur, dalam ruangan, Bir, gelas, meja, Gelas tangkai sampanye, Minuman didistilasi, koktail, minuman keras, alkohol, kaca, wadah

Teh tersebut saya pasangkan dengan menu kaviar, yang disajikan dengan irisan daging sapi “Wagyu” dan landak laut/bulu babi (uni).

perlengkapan meja, minum, Peralatan dapur, hidangan, Piring, piring, garpu, peralatan makan, Perlengkapan minum, peralatan perak, Tatanan meja, makanan, dalam ruangan, ungu, meja

Saya pun berganti minuman lagi ke sampanye Lanson “Le Vintage” 2012.

Walaupun sampanye Salon yang saya sebut sebelumnya seenak (dan semahal) itu, Japan Airlines sendiri hanya membawa 1 botol untuk tiap penerbangan dari Jepang sehingga untuk seterusnya yang tersedia hanya sampanye Lanson ini.

minum, orang, anggur, Gelas anggur, Minuman beralkohol, botol, dalam ruangan, Botol kaca, pakaian, Barware, sampanye, alkohol

Setelah ini, saya pun menikmati hidangan utama berupa dumpling belut conger dan sayur, yang disajikan bersama dengan nasi dengan jagung (bukan nasi jagung), sup miso, dan acar.

perlengkapan meja, Piring, hidangan, makanan, peralatan makan, piring, mangkuk, Peralatan dapur, Masakan, makan siang, Sumpit, dalam ruangan, Hidangan, Tatanan meja, garpu, Baki, Seni Kuliner, Alas meja, peralatan perak, baki, makan, meja, ungu, merah

Untuk mengakhiri makan siang kali ini, saya mendapatkan mochi rasa kelapa dan minuman teh hijau.

perlengkapan meja, meja, dalam ruangan, ungu

Makan siang di penerbangan ini baru selesai 2 1/2 jam setelah lepas landas, yang menurut saya cukup lama mengingat penerbangan ini dari lepas landas sampai mendarat hanya memakan waktu sedikit kurang dari 6 jam.

Berikut adalah menu makan siangnya:

  • Hors d’oeuvre: Dada bebek asap dengan acar

  • Set Jepang oleh Ishikawa Hideki dan Koizumi Koji (restoran Kagurazaka Ishikawa dan Kohaku Kagurazawa, 3 Michelin star di Tokyo; dipilih):
    • Pembuka:
      • Abalon dan terong kukus
      • Daging kepiting horsehair dan timun dengan kuah cuka
      • Belut pike dan labu emas dengan saus ume plum
      • Ikan cutlass dengan saus wijen
      • Scallop dengan saus truffle
    • Sup: Sup dumpling lobster dari Ise dengan yuzu,
    • Hidangan sedang: Daging wagyu iris dan landak laut/bulu babi (uni) dengan saus citrus Sudachi dan kaviar
    • Hidangan utama: Dumpling belut conger, sayur beligo/kundur (winter melon), paprika, dan jahe
    • Nasi: Pilih satu dari:
      • Nasi kukus dengan jagung manis (dipilih)
      • Nasi putih kukus
    • Sup miso: Sup miso dengan tunas teratai jeli
    • Acar: Potongan sayur dengan shiso merah
    • Penutup: Mochi warabi rasa kelapa, teh hijau

  • Set barat oleh Kishida Shuzo (restoran Quintessence, 3 Michelin star di Tokyo):
    • Pra-pembuka: Bavarois susu kambing
    • Pembuka:
      • Sup jagung dingin dengan sorbet jagung bakar
      • Kaviar dengan tomat, scallop, udang botan, krim asam, seledri, akar teratai, selada rocket
      • Iga babi dengan saus wine
    • Hidangan utama: Fillet daging sapi Wagyu dengan saus jamur chanterelle
    • Roti: Brioche kecil, pain de campagne kecil, ciabatta kecil, roti standar (dari Maison Kayser)
    • Penutup: Parfe markisa dan ume plum dengan sedikit teh Assam, kopi, teh

  • Minuman: Bervariasi, alkohol maupun non-alkohol.

Bagaimana makan siangnya? Dua kata: Luar biasa.

Karena ini merupakan penerbangan jarak menengah, saat itu saya hanya berharap makanan yang sedikit lebih enak dari kelas bisnis ANA (yang bisa didapatkan dari spending reward CIMB Niaga JCB Ultimate) namun ternyata makan siangnya jauh lebih lengkap dan berkualitas tinggi, sama seperti di penerbangan ke Amerika.

Bukan hanya semua makanannya enak (kecuali daging sapi dan uni yang sudah dingin sehingga sedikit eneg), pelayanannya sendiri juga bagus. Andaikan pelayanannya bisa sedikit lebih cepat, makan siang set masakan Jepang kali ini tentu akan sangat cocok bagi Anda.

Setelah makan saya pun pergi ke kamar kecil. Pesawat ini memiliki 2 kamar kecil bagi penumpang first class, di sisi kiri dan tengah kabin antara pintu depan dan kokpit.

Kamar kecil di sisi kiri sendiri cukup luas, bersih, dan sebagai maskapai Jepang juga menawarkan bidet.

dalam ruangan, Perlengkapan pipa, dinding, kamar mandi, toilet, saluran pipa, Aksesori kamar mandi, tenggelam, Tempat duduk toilet

Kamar kecil ini menggunakan amenity dari Cle de Peau.

dalam ruangan, keran, Perlengkapan pipa, tenggelam, kamar mandi

Di antara pintu kiri depan dan kursi 1A terdapat etalase yang bisa dipakai untuk menaruh wine dan air mineral; Sayangnya ‘bar’ ini sendiri bukan bar lengkap, jadi tidak ada yang pergi ke sini untuk bersantai seperti, misal, di bar beberapa maskapai lain.

dinding, dalam ruangan, Botol kaca, minum, anggur, botol anggur, botol, alkohol, kosong

Seperti biasa, saya meminta tolong untuk mengubah kursi saya menjadi kasur, dan berikut hasilnya.

dalam ruangan, tempat tidur, dinding, bantal

Kasurnya sendiri cukup nyaman untuk tidur siang dan matrasnya memiliki 2 jenis permukaan yang bisa dipilih (lembut atau keras) walaupun ukuran matrasnya yang tidak terlalu lebar dan agak tipis terasa kurang memberikan perbedaan.

Seperti saya sebutkan di awal, ruang kakinya sendiri sangat lega.

monitor, dalam ruangan, Perangkat tampilan, orang, dinding, televisi

Saya sendiri sempat tidur selama setengah jam lebih sedikit sebelum mencoba menu makanan ala carte-nya kurang lebih 1,5 jam sebelum mendarat.

Kali ini, saya memilih campuran sate gaya Jepang (sate ayam dan sate babi, plus telur dadar) dan nasi kare daging sapi. Nasi karenya sendiri tidak istimewa, namun satenya sendiri enak.

perlengkapan meja, hidangan, meja, makanan, piring, Masakan, Peralatan dapur, dalam ruangan, minum, garpu, Hidangan, makan siang, Sarapan siang, Piring, sendok, peralatan makan, peralatan perak, Sumpit, makan malam, nasi, duduk, restoran, kosong, sarapan

Setelah sebelumnya lebih memilih menggunakan HP berkat Wi-Fi gratis tak terbatas, akhirnya saya menyempatkan diri untuk melihat hiburannya.

Salah satu kebiasaan saya saat terbang di kelas apapun adalah minum yang banyak sehingga saya tak lupa meminta 1 botol air minum; Kali ini saya mendapatkan air mineral merek lokal (seperti yang tersedia di bar) yang disajikan dengan gelas.

makanan, teks, minum, air minum, botol air, Botol plastik, Air dalam botol, Air mineral, Air didistilasi, Material transparan, air, Larut, cairan, kaca, botol, dalam ruangan, meja, biru

Kurang lebih 40 menit sebelum mendarat semua penumpang diberikan baju santai; saya sendiri mendapatkan baju ukuran besar, tapi apakah bajunya muat tentu cerita lain šŸ˜‰

Terbang di first class sendiri selalu merupakan pengalaman yang spesial jadi saya pun meminta tolong untuk mengabadikan momen ini.

orang, pakaian, Wajah manusia, senyum, pria, dalam ruangan, dinding

Tak terasa perjalanan pun sudah hampir selesai, jadi kabin pun dipersiapkan untuk mendarat.

pesawat terbang, komputer, dalam ruangan, abin pesawat terbang, pesawat, plafon, penerbangan

Walaupun kami terbang dari arah timur, saat turun kami melewati kota Bangkok sebelum akhirnya mendarat dari arah selatan.

Setelah mendarat, kami pun tiba di gerbang 15 menit lebih awal dari jadwal kedatangan lalu turun dari garbarata depan khusus penumpang first class.

pakaian, orang, dinding, dalam ruangan, alas kaki, berdiri, plafon, wanita
Kedatangan

Waktu saya tiba di gedung terminal, sudah ada petugas yang membawa papan informasi pengambilan bagasi, namun seperti biasa tidak ada pendamping.

pakaian, alas kaki, bangunan, pria, orang, lobi, dalam ruangan, Memasang lantai, Cahaya matahari, lantai, seni, museum

Berkat jalur imigrasi fast track, saya pun tiba di area pengambilan bagasi hanya 11 menit setelah meninggalkan pesawat yang termasuk sangat cepat untuk ukuran bandara Bangkok apalagi dengan saya tiba dari gerbang paling ujung.

dalam ruangan, Stasiun metro, plafon, peron, pengambilan bagasi, Bandara, orang, kereta

Tas pertama pun muncul 18 menit setelah saya turun, dan kali ini prioritas bagasi pun diperhatikan. Tas saya sendiri tiba kurang dari 1 menit setelah itu.

Setelah melewati bea cukai saya pun tiba di area kedatangan, yang untungnya tidak seramai saat saya terakhir ke Bangkok.

bangunan, Bangunan komersial, Mall perbelanjaan, kota, orang-orang, dalam ruangan, orang, lantai

Bandara Bangkok (baik BKK maupun DMK) sendiri terhubung dengan kereta bandara, jadi seperti biasa, apapun terbangnya, ke kotanya tetap naik kereta listrik.

pakaian, orang, penumpang, transportasi umum, orang-orang, pria, kendaraan, transportasi, alas kaki, kereta, dalam ruangan, grup

Kesimpulan

Bahkan saat di penerbangan pun, saya sudah mengirimkan WhatsApp ke grup tim PinterPoin seperti ini: “Wah gila mantep bener JAL (Japan Airlines). … Best use of 51k miles BA (British Airways)/40k miles AA (American Airlines), no question.

Bagi Anda yang ingin mencoba Japan Airlines first class, penerbangan ini merupakan opsi yang sempurna.

Anda memang tidak bisa tidur terlalu lama (saya sendiri selalu berpendapat kalau tujuan utamanya mau tidur nyaman kelas bisnis saja sudah cukup), tapi waktu penerbangannya sudah cukup untuk merasakan pelayanan seperti penerbangan ke Amerika, tanpa memerlukan miles yang banyak.

Selain itu, produk Japan Airlines first class sendiri masih cukup kompetitif mulai dari kursinya yang nyaman, fasilitas yang lengkap (bahkan hampir overkill untuk penerbangan jarak menengah), makanan yang enak, sampai pelayanannya yang bagus.

Anda mungkin bertanya juga, apakah lebih baik arah dari Bangkok atau dari Tokyo; Untuk penerbangan ini saya lebih menyarankan untuk terbang dari Tokyo karena:

  • Betul jadwalnya cukup pagi sampai Anda mungkin kesulitan sarapan di hotel, tapi lounge-nya sendiri sudah cukup untuk menggantikan sarapan tersebut,

  • Anda bisa lebih banyak menikmati perjalanan daripada tidur,

  • Hanya penerbangan dari Tokyo yang bisa mendapatkan sampanye merek Salon, bahkan walaupun hanya ada 1 botol di tiap penerbangan, dan

  • Makanannya sendiri lebih lengkap (makan siang dari Tokyo, sarapan dari Bangkok).

Saya sendiri sangat menyarankan Anda untuk mencoba penerbangan ini kalau Anda ingin terbang di first class tanpa takut ketersediaan kursi terbatas, suka masakan Jepang, dan tentunya bisa cukup fleksibel dalam hal rute.

Apakah Anda akan mencoba terbang dengan Japan Airlines first class dari Tokyo ke Bangkok?
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.