Melihat peningkatan kontribusi bisnis kargo ke keuangan perusahaan, Garuda Indonesia akan mengubah 2 pesawat penumpang Airbus A330 menjadi pesawat angkutan kargo untuk menambah kapasitas.

Menurunnya arus penumpang membuat bisnis kargo semakin ditekuni oleh banyak maskapai di seluruh dunia. Nyatanya, ada 4 maskapai dunia yang mencatatkan keuntungan di tengah pandemi COVID-19 tahun lalu berkat operasional kargo.

Kontribusi bisnis kargo ke keuangan Garuda Indonesia meningkat sebanyak 30% selama pandemi, bahkan sempat mencapai 60-70% di waktu tertentu. Diprediksi ketika pandemi usai, bisnis kargo akan tetap memberikan kontribusi 30-40% untuk keuangan perusahaan. Sebagai perbandingan, sebelum pandemi melanda, bisnis kargo hanya menyumbang 10% pendapatan perusahaan.

Selain pengoperasian kargo di jalur normal, Garuda Indonesia juga akan fokus pada rute baru langsung dari daerah untuk kargo dan ekspor. Dengan demikian, biaya ekspor dari daerah ke luar negeri akan lebih murah karena tidak perlu melewati Jakarta yang merupakan hub kargo Garuda Indonesia.

Pengembangan bisnis kargo ini akan membantu pemulihan pertumbuhan ekonomi daerah dan membantu UMKM untuk berkembang. Sejumlah pemerintah daerah juga telah melakukan kerja sama ekspor langsung ke negara tujuan produk daerahnya seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali, Padang, dan Jawa Barat.

Sebagai contoh, pembukaan rute kargo Padang – Guangzhou meningkatkan jumlah ekspor buah manggis dari 2 ton menjadi 30 ton. Kemudian rute Manado – Tokyo Narita juga memungkinkan nelayan untuk mengirim ikan tuna dalam kondisi hidup dan kemudian bisa di lelang pagi harinya di Tokyo.

Pembukaan rute kargo seperti Padang – Guangzhou akan membantu pemulihan ekonomi daerah

2 Airbus A330 Dijadikan Pesawat Kargo

Perubahan yang akan dilakukan adalah melepas seluruh kursi penumpang di kabin pesawat. Dengan demikian, muatan barang akan bisa dimuat di bagian kabin dan area kargo pesawat. Kapasitas muatan pesawat akan meningkat signifikan menjadi 50 ton.

Dua pesawat A330-300 yang sudah dirubah menjadi konfigurasi kargo adalah PK-GPA (berusia 24,3 tahun) dan PK-GPD (24,2 tahun). Kedua pesawat tersebut dimiliki langsung oleh Garuda Indonesia dan sebelumnya berkonfigurasi 360 kursi all-economy class. Kredit kepada pembaca Fajar untuk informasinya.

Selain 2 pesawat A330, seharusnya beberapa pesawat Garuda lain juga akan menyusul untuk dikonversi menjadi angkutan kargo.

Kursi penumpang di pesawat A330 akan dilepas agar bisa menambah muatan kargo. Foto: PinterPoin


Baca juga: AvGeek: Mengenal Armada Pesawat Garuda Indonesia


Penutup

Bisnis kargo kini semakin ditekuni oleh maskapai-maskapai di dunia ditengah merosotnya arus penumpang akibat pandemi COVID-19. Keputusan Garuda Indonesia untuk mengkonversi 2 unit Airbus A330 menjadi kargo tentunya masuk akal. Ketimbang membiarkan pesawat berbadan besar tersebut mengganggur, kini 2 pesawat tersebut bisa menambah revenue perusahaan.

Pada saat yang sama, kedua pesawat tersebut juga hampir berusia seperempat abad sehingga masuk akal untuk dikonversi menjadi pesawat kargo.

Saya rasa rute ekspor baru akan terus bertambah dan tidak menutup kemungkinan juga pesawat-pesawat penumpang milik Garuda lainnya akan difokuskan sementara untuk kargo.