Cerita pembaca kali ini berasal dari sahabat baik saya yang juga pembaca setia PinterPoin yaitu Paulo (@anonymouslycurated) yang berkesempatan untuk mengunjungi Amerika Serikat di tengah pandemi Covid-19 menggunakan Japan Airlines (JAL).

Jujur saya kagum dengan semangat dan insight beliau akan berbagai loyalty program sehingga saya memutuskan bahwa cerita beliau sangat layak untuk dimuat di PinterPoin terutama karena saya sangat yakin banyak dari kita sudah sangat kangen untuk traveling kembali. Berikut adalah kisah beliau:


disunting untuk kemudahan membaca

 

“Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim PinterPoin terutama Edwin yang memberikan saya kesempatan untuk menyumbang tulisan di blog ini, semoga informasi yang saya sharing-kan ini dapat berguna untuk Anda.

Perkenalkan, nama saya Paulo dan saya telah menjadi pembaca setia blog PinterPoin sejak tahun 2018 lalu dan sekarang dengan senang hati dapat menyebut tim PinterPoin sebagai teman-teman saya 🙂

Saya sangat bahagia dan tidak pernah menduga bahwa hobi travel hacking yang saya jalankan sejak tahun 2016 lalu dapat mendatangkan banyak teman baru dan menemukan salah satu komunitas terbesarnya di Indonesia dalam PinterPoin ini.

Saya akan membagi pengalaman traveling ke Amerika Serikat menggunakan Japan Airlines (JAL) selama masa pandemi ini menjadi beberapa bagian karena saya merasa jika digabung, maka isinya akan terlalu panjang. Untuk artikel pertama, saya akan sharing sedikit mengenai pengalaman terbang saya dari Jakarta (CGK) menuju ke Tokyo Narita (NRT). Berikut adalah kisah saya:

Dikarenakan saya memiliki banyak Alaska MileagePlan, saya memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat menggunakan JAL yang mana memang redemption partner dari loyalty program ini.

Biaya yang dibutuhkan adalah 75.000 miles + pajak penerbangan sebesar 66,65 USD (sekitar 966 ribu Rupiah) untuk penerbangan dari Indonesia ke Amerika Serikat. Saya cukup beruntung untuk bisa menemukan ketersediaan 2 kursi dari Jakarta (CGK) menuju Chicago (ORD) dengan transit di Tokyo Narita (NRT).

Selain itu, masih dalam satu itinerary dan kode booking yang sama, saya memutuskan untuk stopover di Chicago selama 2 malam lalu kemudian terbang ke Burbank (BUR) dengan transit di Seattle (SEA) menggunakan maskapai Alaska Airlines.

Ya, sekali lagi saya tekankan bahwa penerbangan CGK-NRT-ORD-SEA-BUR ini hanya membutuhkan 75.000 Alaska MileagePlan dan itulah indahnya travel hacking di mana saya bisa membayangkan cash rate untuk rute penerbangan ini mungkin akan memakan biaya puluhan atau bahkan ratusan juta 😉

Itinerary Penerbangan yang saya tebus dengan 75,000 Alaska miles dan USD66.65

Sekarang, saya akan bercerita mengenai pengalaman terbang saya di leg pertama yaitu CGK – NRT menggunakan Japan Airlines Business Class:

Saya tiba di bandara CGK sekitar pukul 6 malam. Proses check-in di konter JAL berlangsung cepat karena terdapat lajur check-in khusus untuk penumpang kelas utama (first class). Perlu Anda ketahui bahwa penerbangan Japan Airlines untuk rute CGK-NRT tidak memiliki First Class jadi lajur tersebut adalah lajur yang sering ‘kosong’.

Petugas check-in memeriksa beberapa kelengkapan dokumen seperti visa berkunjung ke Amerika Serikat yang masih berlaku, hasil rapid tes antigen negatif yang dilakukan dalam kurun waktu 3×24 jam sebelum penerbangan (untungnya tidak melulu diharuskan mengambil tes PCR yang biayanya sendiri dapat mencapai lebih dari 1 juta rupiah dan hasil tidak instan), dan formulir pernyataan bahwa memang saya tidak sedang dalam kondisi terpapar virus Covid -19.

Maskapai JAL sebenarnya tidak mengharuskan Anda untuk menunjukkan hasil tes negatif Covid-19 apabila hanya sekadar transit; Jadi hasil tes negatif Covid-19 adalah murni persyaratan masuk Amerika Serikat.

Lajur check in khusus penumpang kelas utama dengan signature karpet merah JAL First Class

Sebagai penumpang First Class, saya diberikan akses ke lounge Garuda Indonesia namun saya lebih memilih untuk mencoba Saphire Lounge/Plaza Premium Lounge yang terletak lebih dekat dengan gate keberangkatan saya. Penumpang Business dan First Class JAL diperbolehkan untuk mengakses airport lounge ini namun anehnya saya tidak diinfokan oleh petugas check-in bahwa saya bisa memilih lounge lain selain lounge Garuda Indonesia.

Situasi di dalam Saphire Lounge/Plaza Premium Lounge yang tampak sangat sepi

Sekitar pukul 21:00 WIB, tibalah waktu boarding. Saya segera masuk gate dan menuju kabin kelas bisnis yang terletak di bagian depan pesawat. Rupanya, kabin kelas bisnis di bagian depan untuk penerbangan ini hanya ditempati oleh dua orang yaitu saya dan teman saya.

Kabin kelas bisnis yang lebih kecil yaitu yang terletak di bagian tengah sendiri hanya ditempati oleh tiga penumpang lainnya. Rupanya situasi semacam ini adalah pemandangan normal di era pandemi Covid-19 ini dan saya cukup bersyukur karena tidak harus ‘berbagi’ udara dengan terlalu banyak orang namun perasaan miris juga tidak terelakkan melihat begitu sedikit pemasukan yang didapatkan oleh JAL dari penerbangan ini. 

Proses boarding berlangsung cepat dan tepat pada pukul 21:25 WIB pesawat dengan kode penerbangan JL726 ini memulai proses push back dan akhirnya mengudara.

Situasi di dalam kabin kelas bisnis bagian depan yang lenggang.

Perasaan saya campur aduk pada detik-detik pesawat akan take off. Saya sudah sangat merindukan perasaan terbang dan walaupun saya harus terbang di kala pandemi yang membuat saya takut dan cemas akan kemungkinan untuk terpapar virus ini selama terbang, saya jujur tetap excited menyambut penerbangan internasional pertama saya setelah sempat hiatus selama setahun lebih.

Sekembalinya di Indonesia, ternyata ketakutan saya tidak terbukti karena saya kembali dalam kondisi sehat karena selama perjalanan benar-benar menerapkan protokol kesehatan yang baik.

JAL terbang menggunakan pesawat 787-9 Dreamliner dengan konfigurasi kursi bisnis 1-2-1 dengan tempat duduk yang disebut sebagai JAL Sky Suite III. Kebetulan Edwin juga pernah me-review kursi ini sebelumnya. Kursi bisnis di pesawat ini berjumlah 52 kursi dan seperti yang sudah saya informasikan sebelumnya, kabin kelas bisnis secara total hanya terisi 5 penumpang saja.

Tempat duduk saya dengan konfigurasi 1-2-1 yang dinamakan JAL Sky Suite III

Peta tempat duduk JL726 yang saya ambil dari website Japan Airlines.

Penerbangan yang ditempuh selama 7 jam 30 menit ini menyajikan welcome champagne Ayala dan ditemani oleh canapes berupa omelet Jepang, bola-bola cumi goreng kering, dan 2 potongan filet dada bebek asap.

Mengingat penerbangan ini adalah penerbangan red-eye, maka saya meminta kepada pramugari agar hidangan berat yang seharusnya disajikan sebagai makan pagi (breakfast) untuk dihidangkan sekarang agar saya bisa memaksimalkan waktu tidur saya yang boleh dibilang sangat singkat.

Champagne Ayala & Canapes

Hidangan berat segera menyusul dan disajikan dalam bentuk bento tipikal sajian ala Jepang. Selain memikat mata, cita rasa dari hidangan ini sangat cocok dengan lidah saya! Porsi hidangan ini cukup besar dan sangat mengenyangkan bagi saya.

Menulis hal ini mengingatkan saya betapa susah mengontrol berat badan kala sering bepergian dengan kursi premium sebelum pandemi 🙂 di mana makanan enak sepertinya tidak pernah berhenti dari ketika Anda berada di airport lounge hingga di dalam pesawat.

Di bawah ini adalah foto menu makanan dan minuman beserta set makanan yang berhasil mengobati kerinduan saya akan makanan Jepang otentik.

Menu makanan

Menu minuman

Sajian makanan Jepang otentik lengkap dengan sup Miso dan acar khas Jepang

Hidangan penutup yang berupa puding mangga dengan strawberry compote

Selesai makan, pencahayaan kabin mulai perlahan-lahan diredupkan dan tiba saat melepas lelah dan berharap mata segera terpejam. Business class JAL menyediakan bantal berukuran cukup besar, slippers, selimut, dan amenity bag yang di dalamnya terdapat sikat gigi, masker untuk menjaga kelembapan kulit wajah, penutup mata, dan penutup telinga yang siap membantu saya tidur dengan nyenyak.

Walau kesulitan tidur di awal akibat excitement terbang setelah sekian lama, pada akhirnya saya berhasil tidur selama kurang lebih 2-3 jam yang cukup membuat saya terasa lebih segar. Jam telah menunjukan pukul 5 pagi waktu Tokyo dan saya bergegas menuju lavatory untuk menyikat gigi dan mencuci wajah agar terlihat lebih segar lagi.

Lavatory di kabin kelas bisnis dilengkapi lotion dan emulsion kelembapan dari perusahaan kosmetik terkenal Jepang yaitu Shiseido, sikat gigi, obat kumur individual dan semprotan disinfektan (merk Biore) yang sepertinya sudah menjadi ‘kewajiban’ bagi setiap maskapai di era new normal ini.

Perlengkapan tambahan yang ada di dalam kamar kecil

Jam menunjukkan pukul tepat 06:45 waktu Tokyo dan tibalah saya di Narita International Airport. Hati saya kembali gembira melihat bandara Narita ini walaupun tidak diperbolehkan masuk ke dalam kota. Saya sungguh berharap dalam waktu dekat Covid-19 akan berakhir agar kita semua bisa kembali traveling seperti sedia kala.

Sekian pengalaman saya dari check-in hingga terbang dengan business class JAL rute CGK – NRT. Selanjutnya, saya akan menceritakan pengalaman transit saya di Narita dan situasi first class lounge JAL. Sekali lagi, terimakasih Edwin dan Tim PinterPoin lainnya yang memberikan saya kesempatan untuk sharing kisah saya terbang First Class ke Jepang.


Baca juga: Flight Review – Japan Airlines Business Class Boeing 787-9 Jakarta – Tokyo Narita

Baca juga: Panduan Lengkap Alaska MileagePlan


Penutup

Cerita yang sangat menarik dari Paulo, saya sendiri boleh dikatakan sudah sangat kangen untuk terbang long-haul dan mengunjungi negara lain yang sayangnya sangat sulit jika tidak hampir mustahil dilakukan ditengah pandemi Covid-19 ini.

Bagian pertama ini memuat mengenai kisah sukses Paolo dalam menukarkan Alaska Miles yang sempat sangat populer pada penghujung tahun 2019 dan awal tahun 2020 lalu serta pengalaman beliau terbang di business class JAL rute Jakarta – Tokyo Narita di tengah pandemi Covid-19.

Sebagai sahabat, Paulo adalah orang yang sangat baik dan insightful mengenai loyalty program di mana keahlian beliau mengenai dunia point & miles sudah tidak perlu diragukan lagi. Beliau juga sempat menjadi guest star acara MasterClass PinterPoin di Surabaya beberapa saat yang lalu.

Paulo, Vincent, dan saya pada acara MasterClass PinterPoin Surabaya pada 3 April 2021 lalu

Selanjutnya, mari kita tunggu kisah Paulo dalam transit di Jepang dan melanjutkan penerbangan ke Amerika Serikat menggunakan Japan Airlines (JAL).

.

Apa pendapat Anda mengenai bagian pertama kisah Paulo terbang ke Amerika Serikat menggunakan Japan Airlines ini?