Saya baru saja beberapa waktu ini melakukan honeymoon kedua di sekitar Asia Timur. Kali ini saya ingin menjelaskan sekilas bagaimana proses honeymoon ini terbentuk dan sudah pasti hasilnya.
Kenapa Ada Honeymoon Kedua?
Keinginan utama istri saya untuk honeymoon adalah melihat aurora di Eropa. Mengingat keterbatasan waktu dan tenaga saat mempersiapkan, kami memutuskan untuk melakukan 3 honeymoon secara bertahap:
- Mini-honeymoon sesaat setelah kami menikah ke Boracay dan Manila dengan Cathay Pacific kelas bisnis dan Singapore Airlines kelas bisnis dan first class,
- Honeymoon sedang kali ini di sekitar Asia Timur, dan
- Honeymoon besar ke Eropa nantinya.


Percayalah, walaupun honeymoon ini sekilas se-“tradisional” bayangan orang (tujuan pertama dan terlama honeymoon ini memang ke Jepang; tak terhitung berapa banyak orang honeymoon ke Jepang tiap tahunnya), karena istri saya mempercayakan saya dengan bagian perjalanan antarkota ini tentu menjadi kesempatan emas untuk menyisipkan sebagian keseruan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya.
Rencana Perjalanan
Perjalanan kali ini terdiri dari 13 penerbangan dengan 9 maskapai, di mana 5 penerbangan diantaranya di first class:
- Jakarta (CGK) ke Tokyo (HND) dengan Garuda Indonesia Airbus A330-300 kelas bisnis
- Tokyo (HND) ke Matsuyama (MYJ) dengan Japan Airlines Boeing 737-800 kelas ekonomi
- Matsuyama (MYJ) ke Osaka (ITM) dengan Japan Airlines Embraer 170 kelas ekonomi
- Tokyo (HND) ke Shanghai (PVG) dengan China Eastern Boeing 777-300ER first class
- Shanghai (SHA) ke Beijing (PEK) dengan China Eastern Airlines Boeing 777-300ER first class
- Beijing (PEK) ke Shenzhen (SZX) dengan Air China Boeing 777-300ER first class
- Shenzhen (SZX) ke Beijing (PEK) dengan Shenzhen Airlines Boeing 737-800 kelas ekonomi
- Beijing (PEK) ke Hong Kong (HKG) dengan Cathay Pacific Boeing 777-300ER first class
- Hong Kong (HKG) ke Hanoi (HAN) dengan Cathay Pacific Boeing 777-300ER kelas ekonomi
- Hanoi (HAN) ke Bangkok (BKK) dengan Ethiopian Airlines Boeing 787-9 kelas bisnis
- Bangkok (BKK) ke Kuala Lumpur (KUL) dengan Thai Airways Boeing 787-8 kelas bisnis
- Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN) dengan Singapore Airlines Boeing 737-8 kelas bisnis
- Singapura (SIN) ke Jakarta (CGK) dengan Singapore Airlines Boeing 777-300ER first class
Dari segi hotel sendiri highlight menginap kali ini ada saat menginap di Swissotel Nankai Osaka, yang juga merupakan satu-satunya hotel di mana kami menginap lebih dari 1 malam dalam perjalanan kali ini.
Bagaimana Saya Memesan Perjalanannya?
Anda yang sudah sempat membaca beberapa trip intro saya tentu tahu gaya “tradisional” saya dalam bepergian, dan walaupun ini honeymoon, saya tetap sedikit banyak mengikuti proses serupa.
Cuddling Berhadiah Stay Plus
Saya sudah 2x menginap di Pullman Tokyo Tamachi, dan walaupun hotelnya sedikit polos secara value sangat sulit ditandingi, apalagi dengan Stay Plus versi lama (saya sebut “buy 0 get 1“).
Beberapa hari sebelum perubahan Accor Plus (sekarang ALL Accor+ Explorer) diumumkan, saat saya sedang cuddling dengan istri di akhir pekan dan memutuskan bagaimana cara memakai Stay Plus kami menemukan ketersediaan 1 malam (dan hanya tersisa 1 kamar) di Pullman Tokyo Tamachi di akhir April 2026. Memang karena ini menggunakan Stay Plus istri saya kami tidak mendapatkan akses lounge maupun sarapan, tapi karena kami sering pergi ke luar hotel ini tidak terlalu menjadi masalah.
Tanpa pikir panjang, kami memesan tanpa tahu apa yang menanti.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Edisi Garuda Indonesia First Class
Sampai sebelum honeymoon ini istri saya baru terbang di 2 produk first class regional (Singapore Airlines rute Jakarta (CGK) dan Garuda Indonesia rute domestik), jadi pergi ke Jepang bisa menjadi alasan cukup bagus untuk memperkenalkan produk Garuda Indonesia first class jarak menengah dan sekaligus memberikan pengalaman makan telur ikan dengan krupuk udang di udara.
Mengingat Garuda Indonesia hanya membuka jadwal first class untuk beberapa bulan kedepan, ketika jadwal Garuda Indonesia first class dibuka untuk April-Juni 2026 saya memesan tiket untuk kami berdua dengan 97.200 GarudaMiles + tuslah bahan bakar, tentu dengan harapan agar kami bisa terbang di first class. Sialnya, harapan tersebut pupus ketika 9 hari sebelum berangkat Garuda Indonesia mengirimkan email informasi downgrade.

Walaupun memang bukan kebijakan resmi Garuda, penumpang yang di-downgrade ke kelas bisnis di rute Jepang biasanya mendapatkan selisih miles, ground service standar first class (pendamping dan, khusus di Indonesia, antar/jemput antara bandara dan tujuan akhir di kota), dan juga kompensasi dari station keberangkatan (bukan dari kantor pusat) berupa uang tunai sebesar Rp5.000.000/orang.
Saat itu sebetulnya masih ada opsi Japan Airlines dan Thai Airways first class yang lebih saya pilih, namun untuk lebih “aman” daripada berpotensi membuang biaya pembatalan US$75-120/orang saya meminta ke email Garuda Indonesia first class untuk:
- Endorse tiket untuk bisa terbang di first class maskapai lain (tidak diberikan), lalu
- Kompensasi yang serupa dengan beberapa orang sebelumnya dan juga reroute menjadi dari Jakarta (CGK).
Walaupun permintaan saya untuk reroute dan selisih miles dikembalikan disetujui, saya tidak mendapatkan kompensasi dan ketika email saya dibalas ketersediaan award di kabin first class maskapai lain sudah benar-benar hilang, sehingga tidak ada opsi lain selain terbang hanya di kelas bisnis.

Kalau ada sedikit hiburan, penerbangannya dioperasikan oleh pesawat Airbus A330-300 dengan kursi reverse herringbone “Super Diamond” sehingga sedikit lebih baik dari kursi angled lie-flat.
Efek “Golden Week” di Osaka
Stay Plus yang kami pesan di Pullman Tokyo Tamachi ternyata berdekatan dengan periode “Golden Week“, salah satu periode perjalanan paling sibuk di Jepang mengingat dalam waktu yang berdekatan ada beberapa hari libur sekaligus.
Karena saat itu tidak ada ketersediaan Stay Plus bahkan di versi baru (“buy 1 get 1“), saya memilih untuk bergeser ke Osaka dan memesan 2 malam di Swissotel Nankai Osaka. Memang harga kamar di malam berbayarnya pun tidak murah, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan value yang cukup bagus dari Stay Plus tersebut.

Untuk menghemat cash yang keluar selama perjalanan ini (dan opsi penukaran miles pun value-nya cukup baik) saya memilih untuk terbang dari Tokyo ke Osaka, di mana hanya ada 2 opsi tersisa:
- Tokyo (HND) ke Osaka (ITM) nonstop dengan Japan Airlines kelas ekonomi dengan 7.000 Asia Miles di jam yang sangat pagi, atau
- Tokyo (HND) ke Osaka (ITM) via Matsuyama (MYJ) dengan Japan Airlines kelas ekonomi dengan 10.000 Asia Miles di jam yang sedikit lebih manusiawi, transit yang efisien (25 menit), plus bonus terbang di Embraer 170.
Anda yang tahu saya tentu tahu saya akan memilih opsi kedua hanya demi pesawat regional bahkan apabila pergi sendiri, tapi karena saya membawa pasangan opsi kedua menjadi lebih masuk akal karena kami bisa benar-benar memaksimalkan 1 malam di Tokyo.

Untuk perjalanan kembali ke Tokyo (HND) demi China Eastern Airlines first class, karena sudah betul-betul kehabisan award di kelas ekonomi kami beralih ke kereta listrik “Shinkansen” di gerbong “S Work“. Ini menjadi keputusan yang sangat bagus karena selain istri saya masih ingin jalan-jalan lebih lama di Osaka, gerbong “S Work” masih relatif sepi dibandingkan gerbong standar sehingga kami masih bisa mendapatkan 3 kursi untuk berdua.
Kejarlah First Class Sampai ke Tiongkok
Setelah hampir 2 tahun mengumpulkan miles JAL Mileage Bank, sekarang saat yang tepat untuk menukarkan, dan opsi apa yang lebih seru dari terbang dengan rekanan unik di first class 😀 Halaman daftar maskapai award rekanan JAL Mileage Bank dan award chart-nya ternyata menyimpan misteri tentang maskapai mana saja yang first class-nya bisa ditebus.
Apabila Anda melihat sekilas, berikut maskapai rekanan Japan Airlines yang penerbangannya bisa ditebus dengan miles:
| Aliansi | Ada First Class | Tidak Ada First Class |
| Oneworld | American Airlines (internasional/transkontinental) British Airways Cathay Pacific Malaysia Airlines (“business suite“) Oman Air (“business studio“) Qantas Qatar Airways | Alaska/Hawaiian Fiji Airways Finnair Iberia Royal Air Maroc Royal Jordanian S7 (sementara berhenti) SriLankan Airlines |
| Rekanan Lain | Air France China Eastern Emirates Garuda Indonesia Korean Air | Bangkok Airways LATAM |
Lebih lanjut, di halaman award chart sendiri dijelaskan ada beberapa maskapai yang first class-nya tidak bisa ditebus dengan poin (Malaysia Airlines, Air France, Emirates, Korean Air), jadi dari semua yang bisa ditebus tersebut hanya ada 2 maskapai yang first class-nya bisa ditebus dan saya masih belum pernah coba:
- Oman Air, yang bisa saya tebus dengan Asia Miles (walaupun entahlah apa masih dihitung sebagai first class), dan
- China Eastern Airlines.
Walaupun China Eastern Airlines first class bisa juga diakses oleh Flying Blue dan Qantas Frequent Flyer, saya memilih menebus penerbangan tersebut melalui JAL Mileage Bank karena dalam kasus saya earn rate dalam mengumpulkan miles tersebut jauh lebih baik (Rp7.500/mile dengan BCA American Express Platinum). Ini tentu memiliki tantangan tersendiri, di mana prosesnya cukup panjang dari:
- Memeriksa ketersediaan award dulu di situs Air France atau Qantas,
- Menghubungi call center Japan Airlines kantor Jakarta yang jam bukanya terbatas untuk meminta award, lalu
- Melanjutkan diskusi melalui email sambil menunggu sampai tiketnya jadi dan boleh dibayar, yang saat itu memakan waktu 1 minggu sampai tiketnya jadi, sampai akhirnya
- Menghubungi call center Japan Airlines kantor Hong Kong (ada nomor 021-nya jadi tidak terlalu boros pulsa, pilih nomor yang bisa dalam bahasa Inggris) untuk memproses pembayaran via telepon.

Setidaknya usaha itu terbayarkan dengan pemesanan award China Eastern dengan JAL Mileage Bank pertama di kantor Indonesia yang sekaligus menjadi maskapai ke-15 saya terbang di first class. Oh, dan sebelum Anda bertanya, GarudaMiles tidak bisa dipakai untuk menebus first class maskapai rekanan manapun, bahkan untuk first class maskapai rekanan anggota SkyTeam 😛
Untuk reposition ke Tiongkok saya juga menyiapkan award Japan Airlines dari Osaka (KIX) ke Shanghai (PVG) di kelas bisnis yang sempat saya tebus hanya dengan 25.000 GarudaMiles. Seperti saya jelaskan beberapa waktu lalu, ini merupakan sweet spot karena alternatifnya hanyalah:
- 24.000 miles JAL Mileage Bank (sayang karena saya tidak ada penerbangan lanjutan di dalam Jepang untuk mendapatkan value ekstra), atau
- 33.000 Asia Miles (membutuhkan lebih banyak miles dan miles-nya sendiri lebih sulit didapatkan).
Beberapa hari sebelum berangkat saya menemukan bahwa China Eastern Airlines juga menerbangi rute Tokyo (HND) – Shanghai (PVG) dengan Boeing 777-300ER, dan kebetulan di tanggal yang saya butuhkan juga membuka award untuk first class. Di trip intro saya sebelumnya saya sempat menyebutkan berapa rentannya Air China dalam downgrade, jadi untuk memastikan saya betul-betul bisa terbang di China Eastern Airlines first class:
- Saya memesan China Eastern Airlines first class lagi dari Tokyo (HND) ke Shanghai (PVG) dengan 45.000 miles JAL Mileage Bank,
- Kami berdua reposition kembali ke Tokyo alih-alih berangkat langsung dari Osaka (baca di atas), dan
- Di malam kami seharusnya memulai honeymoon kami mampir dulu ke kantor Garuda Indonesia di Kota Kasablanka untuk mempersiapkan formulir pembatalan tiket – harus segila itu karena:
- Award Garuda Indonesia yang dipesan di kantor hanya dapat dibatalkan juga di kantor (award untuk penerbangan Japan Airlines baru bisa dipesan di kantor ticketing), dan
- Saya masih ingin memiliki opsi cadangan berupa JAL kelas bisnis sampai saya benar-benar yakin tidak akan di-downgrade dari first class, dan benar saja, 1 hari sebelumnya saya meminta untuk memproses formulirnya dan membatalkan tiket via WhatsApp ke kantor tersebut.

“Balas Dendam” dengan Air China
Saya sudah 2x di-downgrade oleh Air China dari first class ke kelas bisnis, termasuk 1x saat check-in di bandara. Oleh karena itu, walaupun perjalanan kami di daratan Tiongkok relatif pendek (2 malam di Shanghai + 1 malam di Beijing), keinginan untuk mencoret Air China first class dari wishlist saya masih mengalahkan keinginan makan bebek Peking langsung di asalnya (atau common sense, tergantung dari mana Anda melihatnya) membuat saya masih memburu Air China first class.

Berbeda dengan China Eastern Airlines yang berbasis di Shanghai (SHA/PEK), Air China berbasis di Beijing (PEK) sehingga beberapa hari sebelum saya tiba di Beijing saya mencari award dari/ke Beijing (PEK) dengan Air China first class. Setelah melihat kembali jadwal penerbangan saya, pilihan saya jatuh pada rute Beijing (PEK) ke Shenzhen (SZX) yang tiba kurang lebih 6 jam setelah saya tiba dari Shanghai (SHA).
Katakan saya procrastinate (menunda-nunda) atau apapun itu, tapi daripada kami berdua di-downgrade lagi (kalau sampai di-downgrade jelas lebih baik kami pergi berkeliling Beijing) saya baru memesan award tersebut 5 1/2 jam sebelum berangkat di area keberangkatan bandara Beijing (PEK) terminal 3. Kalau ditanya apakah ini penukaran miles termepet saya, masih tidak (rekor tersebut jatuh pada penerbangan American Airlines dari New York (LGA) ke Chicago (ORD) demi mengejar Japan Airlines first class saat double round the world yang saya pesan hanya 3 jam sebelum berangkat), tapi tetap saja cukup mepet.
Setidaknya perjuangan tersebut tidak sia-sia, tapi ditunggu ulasan lengkapnya.

Untuk reposition kembali ke Beijing (PEK) kami baru memesan Shenzhen Airlines di kelas ekonomi setelah tiba di Shenzhen (SZX). Saya tidak akan mengulas itu karena saya juga ingin tidur sebentar, tapi sebelum ada yang bertanya kenapa kami tidak langsung naik KRL ke Hong Kong, saya masih ingin mencoba Cathay Pacific first class regional yang tersohor.
Cathay Pacific First Class Versi Murah
Anda yang mengikuti PinterPoin Masterclass tentu tahu bahwa salah satu sweet spot Asia Miles adalah untuk terbang di Cathay Pacific first class mulai dari 24 ribuan miles. Selain tentunya terbang di first class, Cathay Pacific first class regional ini luar biasa worth it karena seperti Singapore Airlines first class di bandara Singapura (SIN) juga bisa membuka akses ke lounge first class Cathay Pacific (The Pier, The Wing, dan sementara The Deck) bahkan walaupun segmen berikutnya atau sebelumnya tidak di first class.
Rencana awal saya adalah pergi ke Tiongkok daratan dulu sebelum menikmati Stay Plus di Tokyo, jadi saya memesan award ke Beijing (PEK) dulu persis seperti yang saya sarankan di Masterclass.

Karena saya baru sadar bahwa keluar Jepang di periode “Golden Week” sangat tidak efisien bahkan setelah jungkir balik sekalipun, saya memutuskan untuk membalik rangkaian perjalanan (dan juga award) menjadi dari Beijing (PEK) ke Hanoi (HAN) yang memerlukan 32.900 Asia Miles. Miles yang dibutuhkan memang lebih mahal karena segmen di kelas yang lebih rendah relatif lebih pendek, tapi ada tujuan lain yaitu ….
Pelajari Caranya
PinterPoin akan kembali mengadakan Masterclass secara offline pada 15 Agustus 2026 mendatang di Shangri-La Jakarta.
Di Masterclass ini, Anda akan diajarkan cara untuk mengumpulkan miles dengan cepat dan menukarkan miles dengan optimal seperti pada kasus penukaran Asia Miles di atas agar miles yang sudah Anda kumpulkan bisa memberikan value maksimal.
Daftarkan diri Anda pada PinterPoin Masterclass di sini.
Reposition ke Hanoi Demi Ethiopian Airlines
Ethiopian Airlines sebagai maskapai yang terkenal dengan rute fifth freedom-nya membuka rute baru yaitu Hanoi (HAN) ke Bangkok (BKK), dan saya tergoda.
Bisa dibilang ada 2 alasan kenapa godaannya kuat:
- Saya sempat memesan Ethiopian Airlines kelas bisnis saat round the world pertama, hanya untuk kemudian diubah menjadi Lufthansa first class, dan
- Ethiopian Airlines merupakan salah satu opsi yang sangat efisien untuk terbang jarak jauh.

Karena ini dipesan dengan KrisFlyer, sesuai tradisi di PinterPoin KrisFlyer Masterclass saya tentu menggabungkan ini dengan segmen:
- Singapura (SIN) – Jakarta (CGK) di Singapore Airlines first class untuk akses lounge “The Private Room”, dan,
- Karena istri saya belum pernah terbang dengan Thai Airways di kelas premium, Thai Airways kelas bisnis di segmen Bangkok (BKK) ke Kuala Lumpur (KUL).
- Sebelum Anda tanya kenapa tidak Bangkok (BKK) langsung ke Singapura (SIN), saya masih ingin makan nasi lemak “Village Park”, plus kalau bisa menambahkan ekstra 1 segmen penerbangan gratis kenapa tidak diambil.
Perjalanan dari Hanoi (HAN) ke Jakarta (CGK) semuanya hanya memerlukan 40.000 KrisFlyer miles. Ini memang 500 miles lebih mahal daripada kalau saya terbang nonstop dari Hanoi (HAN) ke Singapura (SIN) dengan Singapore Airlines, tapi 500 miles dan sedikit tuslah bahan bakar untuk bisa mencoba 2 maskapai tambahan – kenapa tidak 😀

Untuk rute intra-Asia Tenggara sendiri Ethiopian Airlines juga memiliki rute fifth freedom Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN) yang sudah ada dari cukup lama, dan betul itu secara teknis memenuhi syarat “maskapai baru”. Anda mungkin penasaran, kalau begitu kenapa tidak terbang itu saja – ini kata saya:
- Seperti penerbangan Ethiopian Airlines dari Asia Tenggara lainnya, penerbangan Ethiopian Airlines ke Singapura (SIN) baru tiba setelah tengah malam, sedangkan di jadwal musim panas seringkali hanya tersedia penerbangan pagi SQ950 di award first class “Saver” (baca: sangat sebentar di The Private Room), dan
- Kuala Lumpur ke Singapura sependek itu saya akan kesulitan saat ingin betul-betul mengulas, jadi lebih baik di rute yang sedikit lebih jauh.
Penutup
Ini memang tidak sepenuhnya honeymoon “tradisional” dalam konteks honeymoon kebanyakan, tapi seperti yang saya sebut di judul mengandung 2 sisi tradisional (bagian di Jepang dan sedikit banyak di Shanghai mungkin relatif tradisional seperti honeymoon lain karena lebih banyak waktu santai di kota, sisanya tradisional sesuai perjalanan standar saya).
Apabila dilihat dari aspek kedirgantaraan honeymoon ini bisa dibilang sangat sukses:
- Saya bisa memperkenalkan 5 maskapai baru untuk istri (Japan Airlines domestik, China Eastern Airlines, Air China, Shenzhen Airlines walaupun ditinggal tidur, Ethiopian Airlines) plus semua produk lainnya juga pengalaman pertama kali untuk istri saya,
- Istri saya total sudah pernah terbang first class di 5 maskapai (sebanyak Edwin dan Paulo, walaupun memang semuanya first class regional), dan
- Saya akhirnya sudah berhasil terbang di first class semua maskapai yang bisa ditebus dengan KrisFlyer miles.
Di sisi lain, saya juga tidak memungkiri perjalanannya mungkin sedikit intens, termasuk bagi istri saya yang baru pertama kali merasakan perjalanan tradisional versi saya. Bahkan dengan waktu penerbangan yang relatif pendek di hampir semua segmen, di beberapa hari terakhir di mana kami terbang tiap hari dan ada salah satu hari di mana kami terbang 3x kami sudah sering check-in dan naik pesawat istri saya masih berusaha beradaptasi dengan sedikit lebih banyak tidur di sepanjang waktu transit.
Tentunya akan ada perjalanan lain yang lebih seru, tapi untuk sementara ditunggu review-nya (sambil saya melawan mager mengerjakan banyak ulasan dari double round the world – jangan lupa beritahu di komentar kalau ada review yang ingin lebih cepat diterbitkan) 😀




Perjalanan Honeymoon yang sangat seru, selalu kagum dengan jahitan itinerary pak eric yang sangat complicated tapi berhasil di lakukan.