Hotel Review: InterContinental Bali Resort Jimbaran

Pada pertengahan bulan Februari 2020 lalu, saya berkesempatan untuk menginap pertama kalinya di InterContinental Bali Resort yang terletak di area Jimbaran. Biasanya, untuk beach resort di Bali, saya selalu memilih area Nusa Dua karena pantainya yang lebih jernih dan tenang untuk berenang.

Namun kali ini saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda dengan menginap di area Jimbaran. Mengingat saya memiliki tabungan poin IHG dan status Spire Elite, maka InterContinental Bali menjadi pilihan yang obvious.

Harga per malam di hotel ini berada di kisaran Rp3,2 jutaan pada waktu saya menginap. Hotel ini memerlukan 40.000 poin IHG per malam yang saya valuasi sebesar Rp3.600.000 (Rp90 / 1 poin). Meski mendapat valuasi yang ‘kalah’, saya lebih rela menggunakan poin ketimbang membayar Rp3 jutaan.


Baca juga: IHG Mempermudah Status Elit di 2020 & Mengubah Kebijakan Pembatalan


Check In

Setelah selesai dengan urusan di Hilton Garden Inn Bali Ngurah Rai (baca ulasannya disini), saya kemudian menuju ke InterContinental Bali yang berjarak ±15 menit.

Sesampainya di lobi, saya disambut dengan pentungan gong dan dibawa ke area check in duduk.

InterContinental Bali
Pentungan gong untuk menyambut setiap tamu.

Petugas hotel kemudian membawakan welcome drink berupa minuman herbal yang cukup refreshing.

Welcome drink berupa minuman herbal yang cukup refreshing.

Saya juga diberikan welcome gift berupa pembatas buku dan pilihan welcome amenities diantara bonus poin sebesar 700 (Rp 63.000) atau kupon minuman untuk 2 orang yang bisa digunakan di pool bar (termasuk alkohol).

Saya memilih kupon minuman karena yakin bisa mendapat valuasi yang lebih baik. Benar saja, segelas cocktail di pool bar berada di kisaran harga Rp175.000+.

InterContinental Bali
Welcome gift berupa pembatas buku dan kupon minuman untuk 2 orang.

Tidak Ada Akses Lounge Kali Ini

Awalnya, saya tertarik untuk membeli akses Club InterContinental karena setahu saya hadir dengan benefit gratis antar jemput ke & dari bandara.

Saya lalu mengirimkan email yang berisikan pertanyaan seputar benefit dan harga akses (harga tidak diinfokan di website). Setelah mengirimkan email, saya baru mendapat balasan 4 hari setelahnya dengan harga US$200++. Padahal, menurut beberapa review yang saya baca, harga akses Club InterContinental Bali berada di kisaran US$40-50+ per orang dewasa!

Melihat harga yang mahal untuk ukuran Bali, waktu reply yang lama, dan isi email yang ambigu karena tidak menjelaskan benefit akses Club, saya merasa pihak hotel terkesan tidak ingin menjual upgrade tersebut. Alhasil saya memutuskan untuk tidak membeli dan merelakan amenities HARNN favorit saya.

Amenities dari HARNN merupakan salah satu favorit saya. Foto: InterContinental Koh Samui Thailand | PinterPoin.

Area Lobi

Area lobi InterContinental terbilang sangat luas dengan suasana Bali yang kental ditambah alunan musik khas Bali yang menenangkan. Catatan: Beberapa foto dibawah diambil pada saat malam hari.

InterContinental Bali
Area lobi di malam hari.
InterContinental Bali
Area lobi di malam hari.
InterContinental Bali
Area lobi di siang hari.
InterContinental Bali
Area lobi.
InterContinental Bali
Meja check in.
Area lobi.
Pemandangan dari lobi.

Berkat status Spire Elite (status tertinggi di IHG Rewards Club namun kurang berguna di InterContinental), saya diinfokan akan mendapat upgrade kamar dari tipe Jimbaran Deluxe menjadi kategori selanjutnya. Namun sejujurnya saya tidak merasa mendapat upgrade sama sekali.

Saya hanya menginap 1 malam di IC Bali sebelum kembali ke Jakarta. Beruntungnya saya, sedang ada event Bank BUMN ternama seperti yang disampaikan pada surat berikut:

Isi surat.

Untungnya event tersebut tidak terlalu mengganggu meskipun terkadang ada pesta kembang api dan live band.

Kamar

Saya mendapat kamar 3327 yang terletak cukup jauh dari lobi. Untungnya kami dipandu oleh bellman yang sangat ramah.

Kolam ikan?
Lorong menuju ke kamar.
Kamar 3327.

Kesan pertama yang saya rasakan sesaat memasuki kamar adalah dekor yang elegan khas Bali. AC di kamar yang sudah dingin juga terasa menyenangkan setelah berada di luar.

InterContinental Bali
Kamar 3327.
InterContinental Bali
Kamar 3327.
InterContinental Bali
Welcome note di TV.
InterContinental Bali
Welcome note dari hotel dan salak Bali.

Setelah memasuki kamar, biasanya saya segera melepas alas kaki dan mencari sendal hotel. Hal-hal kecil seperti slippers yang diletakkan di sebelah ranjang tentunya memberikan kesan positif.

InterContinental Bali
King bed.
TV yang bisa disesuaikan arahnya.
Kipas angin.
Bath robe, safety deposit, setrikaan.
Kamar mandi dengan bathtub.
InterContinental Bali
Kamar mandi dengan rain shower.
InterContinental Bali
Amenities dari Agraria yang umum ditemukan di tiap properti InterContinental.
InterContinental Bali
Logo InterContinental di kaca jendela.
Balkon.
InterContinental Bali
Pemandangan dari kamar 3327.
Mini bar.
Mini bar.
Set gelas.
Daftar harga mini bar.

Fasilitas

InterContinental Bali mempunyai beberapa kolam renang, namun saya hanya menghabiskan waktu di kolam utama dimana terdapat pool bar.

InterContinental Bali
Kolam renang utama.
InterContinental Bali
Kolam renang utama.
Pool bar.
Menu cocktail di pool bar.
Beach sleeping chair.

Tidak lama setelah duduk di salah satu kursi, petugas hotel datang menawarkan sate buah yang benar-benar menyegarkan di tengah teriknya panas matahari.

InterContinental Bali
Sate buah yang terasa lebih lezat di bawah terik matahari.
InterContinental Bali
Area kolam renang khas Tirta Bali.
InterContinental Bali
Area kolam renang alternatif.
Kolam kecil yang bisa dimasuki dan sepertinya menjadi favorit bagi anak-anak.

Terdapat juga kolam renang khusus tamu Club InterContinental. Namun saya tidak mengambil fotonya karena sibuk menghabiskan waktu di kolam renang utama 🙂 .

InterContinental Bali
Bersantai di kolam renang ditemani dengan cocktail merupakan salah satu kegiatan favorit saya 😉 .
Kolam renang menjelang matahari terbenam.

Menjelang matahari terbenam, tamu hotel disarankan untuk bersantai di sunset beach bar & grill. Suasananya memang sangat relaxing dan agak romantis 😉 .

Sunset beach bar & grill.
InterContinental Bali
Restoran di depan pantai.

Biasanya, saya akan menghabiskan waktu di pantai ketika menginap di beach resort seperti ini. Namun pantai Jimbaran memang bukan pantai terbaik. Airnya nampak keruh dan ombak cukup besar untuk sekedar mengambang. Terdapat banyak sampah, daun, dan ranting yang cukup mengganggu meskipun ada petugas yang terus-terusan membersihkannya.

InterContinental Bali
Pantai Jimbaran.

Dari pantai, saya bisa melihat bandara Ngurah Rai dan sejumlah pesawat lepas landas atau mendarat.

InterContinental Bali
Pantai Jimbaran dan bandara Ngurah Rai di kejauhan.
InterContinental Bali
Kondisi pantai menjelang matahari terbenam.

Breakfast

Sayangnya saya tidak bisa mengulas tentang breakfast di resort ini. Karena menggunakan poin, saya tidak mendapat fasilitas free breakfast meskipun memiliki status Spire Elite.

Keluhan terbesar saya dari status elite IHG adalah benefit yang kalah jauh jika dibandingkan dengan loyalty program hotel lain. Bahkan Hilton dengan status Gold (kedua tertinggi) sudah memberikan free breakfast dan kemungkinan akses lounge jika mendapat upgrade ke kamar Club.

Berada di Bali, tentunya saya lebih memilih untuk memesan makanan diluar ketimbang breakfast hotel, apalagi jika harus bayar 😉 .

Pendapat

Meski sudah berusia, namun kondisi InterContinental Bali Resort masih sangat terjaga. Beberapa area juga sudah direnovasi dan saya cukup menyukai area kolam renang utama yang luas.

Namun resort ini sepertinya tidak akan pernah menjadi favorit saya di Bali karena benefit status elite yang medioker dan pantai yang tidak atraktif. Harga menginap di resort ini juga terbilang cukup mahal jika tidak menggunakan poin. Semoga ulasan ini bisa berguna bagi Anda yang berencana datang ke InterContinental Bali.

Apakah Anda pernah menginap di InterContinental Bali?

Share

2 comments
  1. Interesting!! Saya selama ini selalu beranggapan jika bayar dengan poin udah melebihi valuasi yang ada dibanding bayar dengan uang, maka kita akan memilih bayar dengan uang.
    Namun disini justru Bro Vincent melakukan hal sebaliknya dengan segala pertimbangan yang ada. Mungkin salah satu pelajaran yang bisa dipetik bagi kita semua bahwa tidak selamanya harus berpegang teguh pada prinsip always choose the cheapest option. Bagi saya pribadi, saya sangat menyukai cara mengulas dari Pinterpoin khususnya saat mengulas tempat penginapan. Jujur, selama ini di situs yang lain, saya selalu tertarik dengan ulasan aviasinya saja, namun disini (Pinterpoin) mengulas hotel/akomodasi sangat komprehensif dan sudut pandang yang objektif sehingga terkesan “Pahit” namun “membangun” bagi pembaca maupun bagi manajemen akomodasi tersebut sendiri.
    Artinya kita bisa lebih bijak dalam menentukan pilihan berkat ulasan ini, terima kasih Pinterpoin.

    Keep up the good work dan jika memungkinkan makin diperbanyak ulasan tentang penerbangan dan hotelnya buat kami-kami yang terus belajar dari Anda.

    God bless and stay safe everyone!

    1. Richie,

      Terima kasih untuk komentarnya. Di Indonesia sendiri, IC Bali merupakan penukaran poin IHG paling masuk akal. Dengan harga per malam yang tergolong mahal (Rp3,6 juta), maka saya lebih rela untuk menggunakan poin IHG yang sangat mudah diakumulasikan.

      Ulasan penerbangan dan hotel akan semakin bertambah kedepannya, terutama setelah wabah COVID-19 usai 🙂

      Stay safe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BoardingArea