Disclaimer
Konten ini dibuat semata-mata untuk tujuan edukasi dan berbagi informasi. Seluruh analisis, data, atau saham yang penulis sebutkan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau paksaan untuk membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun.
Investasi saham mengandung risiko kerugian. Pembaca diharapkan selalu melakukan analisis mandiri (do your own research) sebelum mengambil keputusan finansial apapun.
Pada career path yang lain, saya mungkin tidak menjadi seorang blogger dan edukator di bidang points & miles melainkan di bidang investasi instrumen keuangan terutama saham.
Hanya saja, sebagai seorang survivor yang selamat dan masih bertahan dari berbagai crash di IHSG dari jaman taper tantrum di tahun 2013 lalu hingga crash di era Covid-19 pada tahun 2020 lalu, saya merasa memiliki kewajiban untuk membantu menenangkan investor (terutama retail seperti Anda dan saya) pada crash akibat keluarnya investasi asing (foreign flow) yang terjadi di tahun 2026 ini.

Sebagai seorang penyintas aneka market crash dan seseorang yang sudah menulis lebih dari 8 buku seputar investasi, saya tanpa ragu akan mengatakan bahwa Anda tidak perlu khawatir membeli saham perusahaan Indonesia yang memiliki fundamental kuat karena harga saham tersebut akan rebound dengan sendirinya ketika krisis ini berakhir.
Di penghujung hari, melihat laporan keuangan aneka perusahaan yang masih berkembang namun harganya terus turun akibat crash kali ini, saya tidak akan ragu untuk merekomendasikan Anda membeli saham Indonesia (atau istilah kerennya ‘Buy Indonesia’) di harga yang sangat terdiskon.
Anda mau:
- Berinvetasi untuk 1 atau 3 atau 5 atau 10 tahun ke depan? Sekarang (hampir) adalah saatnya
- Mencari perusahaan bagus dengan valuasi yang menarik? Sekarang (hampir) adalah saatnya
- Membeli perusahaan dengan dividend yield yang konstan mencapai belasan persen dan masih memiliki potensi upside dari segi harga saham? Mudah jika Anda membeli saham yang tepat di saat krisis ini.
Singkat kata – bisa jadi 2026 ini (spesifiknya di bulan Juni atau mungkin Juli) menjadi momen terbaik di hidup Anda untuk membeli saham Indonesia karena harganya sangat sangat terdiskon sampai di titik too good to be true.
Pak Edwin, Pinterpoin ini kan membahas mengenai points & miles ya? Lantas apa relevansinya dengan ilmu investasi yang Anda baru saja jelaskan?
.
.
Bagus Anda bertanya seperti itu. Izinkan saya menyampaikan sebuah ide, gagasan, hint, apapun itu namanya yang cukup absurd namun tidak sepenuhnya gila yaitu menggunakan kartu kredit sebagai tambahan likuiditas Anda membeli saham.
Saya yakin, pernyataan saya di atas akan menimbulkan pro dan kontra yang tidak sedikit di kalangan investor atau trader saham atau bahkan points & miles itu sendiri.
Tetapi tidak mengapa, itulah gunanya disclaimer di awal dan sekali lagi saya mengatakan bahwa strategi ‘gila’ ini mungkin cocok atau tidak cocok bagi Anda.
Satu hal yang pasti – metode ini cocok bagi Anda yang bisa memilih dan memilah saham yang bagus, memiliki kartu kredit yang tepat (memiliki earning rate yang bagus), dan memahami cara menekan biaya MDR secara drastis untuk cashflow ataupun likuiditas yang lebih baik (mudah, jika Anda tahu caranya).
Anyways, let’s get to the point.
Berspekulasi & Berinvestasi Saham Dengan Kartu Kredit
Saya akan langsung mengatakan bahwa metode ini memungkinkan jika Anda sudah terbiasa menggunakan platform invoicing dan memiliki kartu kredit yang tepat (lebih baik jika transaksinya bisa dijadikan cicilan 0% tapi masih dapat poin seperti pada kartu kredit Jenius).
Dengan menggunakan platform invoicing sebagai salah satu sarana ‘mengakses’ limit kartu kredit Anda (tidak perlu saya jelaskan di sini), maka Anda bisa memiliki manuver ekstra dalam berinvestasi spesifiknya membeli saham.
Yang perlu Anda ketahui adalah, tidak semua kartu kredit layak Anda gunakan sebagai sarana likuiditas berinvestasi.
Saya sendiri meskipun memiliki 38 kartu kredit, hanya menggunakan setidaknya 10 kartu kredit yang akan saya gunakan untuk mengakses likuiditas ini. Saya membaginya berdasarkan 3 kriteria sebagai berikut:
- Apakah limit kartu kredit ini signifkan terhadap portofolio saya?
- Apakah kartu kredit ini memiliki earning rate yang baik sebagai kompensasi tambahan biaya transaksi yang ada?
- Apakah ada alasan lain untuk menggunakan kartu kredit ini sebagai sarana likuiditas?
Sebagai contoh, akan lebih masuk akal bagi saya untuk mengoptimalkan (baca: menggunakan limit) kartu kredit Jenius dibandingkan dengan kartu kredit BRI OVO U saya dengan alasan sebagai berikut:
1. Limit kartu kredit Jenius saya Rp499.000.000 sedangkan BRI OVO U saya ‘hanya’ 50 Juta Rupiah saja. Tambahan likuiditas sebesar 499 Juta Rupiah akan banyak berpengaruh pada portofolio saya sebagai sarana averaging down sedangkan 50 juta Rupiah tidak akan berpengaruh banyak pada portofolio saya.
2. Saya akan mendapatkan 99.800 Yay Points dari transaksi Double Yay di kartu kredit ini yang ekuivalen dengan 74.846 KrisFlyer Miles yang bisa ditukarkan dengan tiket PP Business Class Singapore Airlines ke Asia Tenggara. Dengan BRI OVO U, saya hanya akan mendapatkan cashback 0,2% dari nominal transaksi yang mana tentu tidak menarik sama sekali.
3. Transaksi di kartu kredit Jenius bisa dijadikan cicilan (installment) dengan bunga 0% dan tetap mendapatkan poin. BRI OVO U? Tidak bisa.
Oleh karena itu, tentu pemilihan kartu kredit yang tepat menjadi sebuah hal yang krusial dalam pertimbangan mengakses likuiditas kartu kredit Anda untuk berspekulasi ataupun berinvestasi saham.
Baca juga: 10 Kartu Kredit Terbaik Untuk Mengumpulkan KrisFlyer Miles
Baca juga: 10 Kartu Kredit Terbaik Untuk Mengumpulkan Asia Miles
Penutup
Karena keterbatasan waktu, saya terpaksa harus memecah artikel ‘investasi saham dengan kartu kredit’ ini menjadi beberapa bagian. Kebetulan ini adalah bagian pertamanya.
Sekali lagi, artikel ini hanyalah sebuah ide gila (atau mungkin tidak gila) dari saya dan Anda bebas untuk pro & kontra mengenai isi daripada artikel ini. Saya juga sudah siap menerima kritik pedas akibat artikel ini selama saya bisa mencurahkan isi pikiran saya beberapa minggu ini.
Hanya saja, saya yakin dengan conviction dan pengalaman saya di pasar modal bahwa kesempatan kali ini justru menjadi kesempatan emas bagi Anda untuk bisa mendapat return yang maksimal dari instrumen keuangan saham.

Lantas, saham apa yang pantas diinvestasikan Pak Edwin di saat seperti ini? Kan semuanya turun? Pak Edwin beli apa?
Saya akan memberi hint bahwa Anda perlu jeli melihat saham apa yang penurunan harganya tidak bisa dijustifikasi dibandingkan dengan kinerjanya yang masih bagus. Itu saja 🙂
Selengkapnya akan dibahas di lain waktu.


