Pada 1 Oktober 2020 lalu, sempat berhembus rumor pembentukan maskapai baru oleh Lion Air Group yang dijuluki Super Air Jet. Bahkan ada spekulasi bahwa brand Lion Air akan diintegrasikan menjadi Super Air Jet demi bisa mendapatkan “fresh start” karena kondisi Lion Air Group yang terus dilanda masalah dalam beberapa tahun belakangan.

Kini, maskapai Super Air Jet sudah resmi terbentuk dan untuk membantu Anda memahami tentang maskapai baru ini, berikut sejumlah informasi yang perlu Anda ketahui:

  • Super Air Jet bukan merupakan bagian dari Lion Air Group
  • Dimiliki sepenuhnya oleh orang Indonesia (rumornya dimiliki oleh Rusdi Kirana, owner Lion Air Group)
  • CEO-nya, Ari Azhari, adalah bekas General Manager Service Lion Air Group
  • Didirikan pada bulan Maret 2021 dengan kode penerbangan “IU” dari IATA dan “SJV” dari ICAO
  • Menyasar kaum milenial sebagai target market
  • Sedang dalam proses mendapatkan Air Operator Certificate (AOC) dan harus melalui berbagai tahapan dan prosedur yang dibutuhkan agar bisa segera lepas landas
  • Sudah mempunyai 1 unit pesawat, yaitu Airbus A320-200 berusia 10,5 tahun dengan nomor registrasi PK-SAJ yang sebelumnya beroperasi untuk maskapai IndiGo asal India. Pesawat ini berkonfigurasi 180 kursi economy class bekas IndiGo yang “ergonomis” 😉
Super Air Jet | PinterPoin

Kursi pesawat asli milik IndiGo masih akan digunakan

Opini

Pertama-tama, pemilihan nama Super Air Jet menurut saya sangat tidak kreatif, sama halnya dengan livery pesawatnya yang tidak menarik. Kemudian, meskipun bersifat baru & anti-mainstream di dunia penerbangan Indonesia, saya tidak terbiasa dengan seragam awak kabin yang sekilas mirip seperti mekanik atau ranger di kebun binatang.

Mungkin saja saya akan terbiasa dengan nama, livery dan seragam awak kabin tersebut seiring berjalannya waktu..

Kemudian, Super Air Jet juga membuat istilah baru; “super cost airline”, yang sebenarnya berkonsep sama dengan ultra-low cost carrier yang sudah umum ditemui di Amerika & Eropa. Realitanya, konsep ultra-low cost ini memang masih belum familiar bagi orang Indonesia.

Jika Anda melihat low-cost carrier seperti AirAsia dan Lion Air sudah cukup “budget”, maka Anda wajib tahu bahwa pada konsep “super cost” ini, penumpang bisa melakukan penghematan biaya tiket pesawat hingga ke level ekstrim. Contohnya:

  • Penumpang bisa memilih untuk mencetak tiket/boarding pass sendiri atau dikenakan biaya tambahan di bandara
  • Jangankan bagasi pesawat, penumpang akan diberikan pilihan sejauh membeli jatah tentengan kabin (ransel, tas laptop, dsb)
  • Membeli tiket pesawat di konter bandara bisa lebih murah ketimbang membeli online (biaya infrastruktur online), konsep ini diterapkan oleh maskapai Spirit di Amerika Serikat
  • Penumpang bisa membayar untuk memilih kursi/melakukan check in lebih awal atau menunggu hingga saat check in di bandara untuk mendapatkan kursi random (gratis) atau bahkan dipindahkan ke penerbangan selanjutnya apabila oversold.

Dari sisi pengeluaran maskapai, penghematan biaya bisa dilakukan dengan cara seperti tidak menggunakan fasilitas garbarata di bandara dan memilih boarding gate yang jauh.

Sayangnya, hingga saat ini masih belum ada detil lebih lanjut tentang operasional Super Air Jet dan konsep diatas saya cantumkan berdasarkan apa yang dilakukan oleh ultra-low cost carrier di berbagai negara. Tentunya perkembangan maskapai baru ini sangat menarik untuk diikuti.

Seragam bergaya milenial?

Penutup

Rumor pembentukan maskapai baru di Indonesia berjuluk Super Air Jet kini telah menjadi kenyataan. Menariknya, maskapai ini ternyata bukan merupakan bagian dari Lion Air Group, melainkan entitas terpisah dengan tim management bekas Lion Air Group.

Pemilihan pesawat Airbus A320-200 ex-IndiGo dengan mesin IAE V2500 juga menarik perhatian karena armada A320 milik Batik Air/Lion Air Group mengoperasikan mesin CFM56. Artinya Super Air Jet harus memiliki peralatan & tim maintenance khusus untuk pesawatnya. Alternatifnya SJV bisa menggunakan fasilitas milik Citilink yang menggunakan kedua mesin pesawat tersebut.

Saya juga sangat penasaran mengenai rute yang akan dilayani & pesawat-pesawat yang akan didatangkan oleh maskapai ini. Melihat pesawat pertama yang diresmikan adalah pesawat berusia 10,5 tahun, maka aman untuk diasumsikan bahwa Super Air Jet tidak akan mendatangkan pesawat baru dari pabrik.

Terakhir, saya cukup optimis Super Air Jet bisa mendapatkan market share yang besar di Indonesia dengan konsep ini. Semoga saja maskapai ini bisa terus berkembang & selalu mengedepankan aspek keselamatan penumpang diatas profit. Bertambahnya opsi maskapai domestik harus disambut positif karena bisa menimbulkan perang harga, yang mana baik bagi customer.

.

Apa pendapat Anda tentang maskapai baru ini?