Cerita pembaca kali ini berasal dari Kevin yang menceritakan pengalaman beliau terbang ke Indonesia selama pandemi Covid-19 dan menjalani proses isolasi sesampainya di Tanah Air.
.
Siapkan popcorn karena cerita beliau cukup panjang 😉 berikut kisahnya:

(disunting untuk kemudahan membaca)
Saya WNI yang berdomisili di Eropa. Kebetulan ada keperluan keluarga yang mendesak yang mengharuskan saya mengunjungi Indonesia di awal bulan ini. Seperti yang sempat saya tulis di komentar lainnya, saya sempat memegang tiket SQ namun karena aturan transit Changi bulan lalu masih belum memungkinkan untuk berkunjung ke Indonesia, maka akhirnya saya memilih opsi refund dan terbang dengan Qatar Airways (QR).
Saya secara pribadi sangat lega memilih QR, selain benefit yang sangat banyak walaupun saya masih QRPC Silver, pesawat yang digunakan untuk terbang juga diubah ke pesawat yang lebih besar (dari B787-8 ke A350-900) dan semua middle seat di-blok. Awalnya saya sempat khawatir karena teman saya yang terbang awal Juli bilang flight ke Jakarta cukup penuh, namun saya merasa aman karena saat saya terbang semua middle seat sudah diblok. Dengan suasana flight seperti ini, saya cukup beruntung untuk bisa memperoleh row kosong.
Untuk protokol di penerbangannya sendiri, QR mewajibkan penggunaan face mask DAN face shield saat boarding (keduanya diberikan saat masuk gate). Dalam penerbangan dari Eropa ke Doha, hampir semua orang memakai keduanya saat terbang. Namun seperti foto diatas, pada penerbangan dari Doha ke Jakarta, hampir semua orang melepas face shield setelah duduk. Service dari QR normal, termasuk hot food.
Sesampainya di CGK, di koridor kedatangan yang panjang itu disiapkan banyak kursi yang diberi jarak. Petugas bandara akan menghampiri kita dan menanyakan apakah kita membawa hasil PCR atau tidak. Apabila membawa, maka kita akan disuruh maju ke antrian untuk dicek hasil PCR-nya. Jika tidak, maka kita akan diberi formulir pengantar karantina seperti ini untuk diisi.
Setelah itu, saya lanjut ke antrian yang tidak bawa PCR (jauh lebih pendek dibanding yang bawa PCR) lalu dicek temperatur dan nadi lalu lanjut ke loket rapid test. SOP-nya sebenarnya harusnya wawancara dan rapid test di loket ini (menurut pengalaman teman saya yang sampai awal Juli), namun pada saat saya tiba di loket rapid test, saya tidak disuruh melakukan apapun. Hanya sekedar dicek apakah formulir sudah benar diisi lalu diberi kalung hijau (seperti yang ada di gambar dibawah) dan dipersilahkan langsung lanjut ke imigrasi.
.
Proses imigrasi sendiri berjalan normal, hanya autogate yang tidak dapat digunakan. Saya lewat tanpa masalah, mengambil bagasi, dan keluar melalui bea cukai seperti biasa. Saat keluar, ada petugas yang mengecek formulir saya. Dikarenakan saya memilih untuk karantina mandiri di hotel dengan biaya sendiri, maka saya dipersilahkan ke counter hotel. Berdasarkan cerita teman saya, terdapat juga pilihan untuk karantina mandiri tanpa biaya di wisma karantina Pademangan. Jika ada orang yang memilih opsi ini, orang tersebut akan diarahkan untuk ke tempat tunggu khusus sembari menunggu orang lain yang belum keluar, lalu naik bus yang disediakan ke wisma.
.
Sebagai loyalis Marriott saya agak sedih dengan pilihan hotel yang semuanya Accor (kecuali satu IHG), namun dari.foto kamar dan cek lokasi, menurut saya hotel untuk isolasi yang paling menarik adalah Novotel Gajah Mada, jadi saya memilih hotel itu. Biaya-nya sendiri dipatok 700 ribu Rupiah per malam termasuk makan 3x dan laundry 2pcs per hari per orang (kalau berdua dengan suami/istri biayanya dipatok 1,05 juta Rupiah per malam).
Teman saya ada yang memilih Holiday Inn Kemayoran dan beliau mengatakan bahwa biaya akomodasinya kurang lebih sama. Waktu saya datang, tidak ada representatif dari Pullman Central Park dan waktu saya hubungi via telepon katanya hotel tersebut sudah tidak lagi menerima tamu karantina pada saat itu. Hanya saja, saya mendengar khusus di hotel Pullman Central Park, rate yang ditawarkan adalah lebih dari 1 juta Rupiah per malam
.
Setelah memilih hotel yang diinginkan, pihak hotel akan menemani ke counter golden bird untuk memesan mobil untuk diantar ke hotel (tidak bayar, semua diurus pihak hotel). Sesampainya di hotel saya segera check-in agar bisa beristirahat di kamar. Pihak hotel menyampaikan bahwa jam 8 pagi keesokan harinya saya dapat turun ke lantai dengan meeting room untuk proses tes PCR-nya. Saya merasa sangat aman di hotel dikarenakan semua staff memakai Protective Personal Equipment (PPE) dan menanggapi proses karantina ini dengan serius.
Waktu check-in, pihak hotel akan menanyakan apakah kita ingin ingin tes PCR yang:
  1. Disubsidi pemerintah tanpa biaya, namun hasil baru keluar sekitar 4 (empat) hari; atau
  2. PCR swasta dengan biaya sendiri (kalau tidak salah sekitar 2,8 juta Rupiah) namun hasil keluar dalam 1 (satu) hari
Jika Anda ingin PCR swasta, maka Anda harus bilang pada saat check-in agar bisa dipersiapkan terlebih dahulu.
.
Didepan setiap kamar telah disediakan meja khusus yang bisa dipakai untuk menaruh makanan, minuman dan barang lainnya. Setiap harinya pada pagi, siang, dan malam hari pintu akan diketuk jika hidangan sudah siap dan seusai makan, hidangan juga bisa ditaruh di meja tersebut. Untuk laundry juga tinggal taruh pakaian di laundry bag yang disediakan dan ditaruh di meja khusus ini. Setelah selesai, laundry akan dikembalikan ke meja tersebut. Semua ini dilakukan untuk meminimalisir interaksi dengan staf hotel.
Kamarnya sendiri cukup nyaman. Secara prinsip, kita tidak boleh sama sekali keluar kamar, ada notice-nya di lobby lift. Sebagai contoh, saya waktu itu belum sempat ambil uang Rupiah, jadi saya telepon pihak reception hotel untuk menanyakan apakah saya dapat turun ke ATM dibawah untuk menarik cash. Pihak hotel meminta izin untuk menanyakan terlebih dahulu ke staf medis, lalu saya akan ditelepon kembali. Saya dapat telepon dan mereka bilang tidak boleh dan saya ditawarkan opsi untuk transfer ke rekening staf hotel, lalu akan ditarikkan uang cash-nya.di ATM dan kemudian dan uang cash tersebut akan ditaruh di meja khusus di depan kamar tersebut. Akhirnya itu yang saya lakukan.
.
Kenapa saya perlu cash? Selama di kamar kita boleh menerima makanan atau paket dari ojek online. Jadi, saya sering memesan makanan atau paket online. Untuk setiap makanan atau paket yang diterima, kita harus membayar 10 ribu Rupiah yang cash only untuk biaya disinfektasi. Foto berikut dari salah satu driver ojek online yang mengantar pesanan saya.
Keesokan paginya pukul 8 pagi saya turun ke lantai meeting room. Bagi yang memilih tes PCR swasta bisa masuk ke ballroom untuk diproses disana, sisanya diberikan formulir untuk diisi. Tes PCR yang disubsidi pemerintah diambil sampel swab-nya di wisma karantina Pademangan dan terdapat bus khusus untuk pengantaran dan penjemputan yang disediakan oleh pihak hotel. Saya sendiri memilih tes PCR tanpa biaya yang disediakan oleh pemerintah.
.
Pengambilan swab di wisma karantina Pademangan sendiri berjalan dengan cepat. Lokasi tes terletak tidak terlalu jauh dari tempat saya turun bus dan dilakukan di area outdoor, jadi saya merasa aman. Begitu selesai dan kembali ke kamar, saya hanya perlu menunggu sampai hasil tes PCR keluar saja. Saya sendiri sengaja terbang pada saat weekend agar tidak perlu mengambil cuti lebih dari kantor. Selain itu, saya juga bisa menghabiskan waktu saya di kamar mulai hari Senin dengan cara bekerja secara remote sambil memesan makanan secara online.
Empat hari kemudian, saya ditelepon oleh pihak reception yang menginformasikan bahwa hasil PCR saya sudah keluar dan hasilnya negatif. Formulir clearance karantina sudah dipersiapkan di front desk dan saya sendiri sudah diperbolehkan untuk check-out. Saya secara pribadi memang sudah berencana untuk isolasi mandiri di hotel selama 2 minggu untuk meminimalisir resiko ke keluarga saya (sambil lanjut kerja remote). Namun, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sendiri lebih prefer dengan hotel jaringan Marriott sehingga saya check-out dari hotel ini dan kemudian melanjutkan isolasi mandiri di The Westin Jakarta sampai tepat 2 minggu setelah saya tiba di CGK sebelum akhirnya pulang untuk menemui keluarga saya 🙂
.
Begitulah kira-kira pengalaman saya tiba di Indonesia dan menjalani isolasi pada awal bulan kemarin.

Opini

Kisah yang sangat menarik dari pembaca Kevin. Sebelumnya, saya kurang paham mengenai proses isolasi untuk WNI yang kembali ke tanah air, namun setelah mendengar cerita ini, saya jadi memiliki gambaran mengenai proses tersebut.

Jadi, apa opini saya mengenai proses isolasi di Indonesia ini?

  1. Siapkan hasil tes PCR dari luar negeri jika Anda tidak mau diisolasi sekembalinya ke Tanah Air. Tapi kembali lagi, tidak ada jaminan bahwa Anda tidak terkena Covid-19 pada periode antara tes PCR sampai tiba kembali di Indonesia yang mana saya setuju dengan langkah pembaca Kevin untuk melakukan isolasi mandiri jika Anda memang benar-benar sayang dengan keluarga.
  2. Jika mau hasil keluar dengan cepat, gunakan layanan PCR swasta yang mana hasil keluar hanya dalam 1 (satu) hari. Jika mau berhemat dan tidak terburu-buru, gunakan layanan PCR yang disubsidi pemerintah tanpa biaya.
  3. Pilihan hotel untuk isolasi cukup terbatas dan sekilas hampir seluruh hotel adalah hotel jaringan Accor. Anda bisa tetap memperoleh EQN maupun poin Accor pada periode menginap selama isolasi ini.
  4. Proses isolasi di Indonesia boleh dikata cukup baik namun tidak mengesampingkan kenyamanan & keamanan. Terlihat dari cerita pembaca Kevin dan bagaimana pihak hotel menanggapi hal ini dengan sangat serius.

Hasil tes PCR Covid-19 adalah sesuatu yang diwajibkan jika Anda mau kembali ke Indonesia

.
Saya juga sempat meminta opini dari pembaca Kevin mengenai proses isolasi ini dan perlu tidaknya tes PCR yang mana sempat menjadi trending topic belakangan ini. Berikut jawaban dari beliau:
“Menurut saya sangat bagus adanya persyaratan PCR test atau karantina sambil menunggu hasil PCR test ini. Namun, sebenarnya SOP yang ada sekarang menurut saya kurang sempurna. Menurut saya selama perjalanan saya, resiko paling tinggi adalah saat saya transit di Doha, dimana ada orang dari seluruh dunia berkumpul disana. Sedangkan waktu inkubasi dapat sampai 2 minggu, idealnya harusnya harus karantina 2 minggu dan di PCR test dua kali, saat sampai dan sebelum keluar karantina, namun saya sadar bahwa tes PCR tidak murah”
Sekali lagi, saya berterimakasih pada pembaca Kevin yang mau berbagi kisah menarik mengenai pengalaman terbang selama pandemi Covid-19 dan pengalaman isolasi sesampainya di Indonesia.
.
Apa pendapat Anda mengenai proses isolasi di Indonesia ini? Apakah sudah bagus atau menurut Anda masih kurang?