Awal bulan Februari 2026, saya mewakili PinterPoin terundang untuk menginap di Regent Bali Canggu dan dalam kesempatan yang sama, kami juga diberi waktu untuk berbincang santai dengan Pak Manish Puri selaku General Manager Regent Bali Canggu. Percakapan satu jam tersebut mengambil tempat di Regent Club yang nyaman dan percakapan kami mengalir ringan, tidak formal, tetapi sarat insight tentang bagaimana Regent memaknai luxury hari ini dan mengapa mereka memilih jalur yang berbeda di tengah hiruk-pikuk area Canggu.
Senangnya dapat kembali menginap di Regent Bali Canggu dan mendapati fasilitas-fasilitas hotel sudah semakin banyak yang beroperasi. Dikarenakan ini adalah menginap di kali kedua tentu saya datang dengan ekspektasi yang sudah terbentuk, setidaknya saya tahu what to expect selama menginap dan excited juga untuk mengetahui behind-the-scene hotel ini.
Di luar area hotel, Canggu sekarang ini adalah salah satu destinasi paling hidup di Bali. Surf culture, restoran, dan beach club baru terus bermunculan, hingga nightlife yang semakin ramai membuat Canggu adalah pusat hiburan di Bali saat ini. Namun begitu memasuki area hotel, suasananya berubah drastis. Lebih tenang, santai, dan jauh dari kesan terburu-buru.
(Percakapan dilaksanakan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, namun untuk kepentingan editorial maka diterjemahkan ke Bahasa Indonesia)
Transisi Dari Luxury Yang Satu ke Luxury Lainnya
Dengan pengalaman panjang di berbagai brand luxury internasional, termasuk menjadi General Manager di beberapa hotel Six Senses di dunia dan juga Chief Operating Officer di Potato Head Bali, saya menanyakan bagaimana transisinya menuju Regent, sebuah luxury brand yang masuk dalam keluarga IHG yang dikenal lebih klasik dan refined.
Menurut Pak Manish, perbedaannya tidak sebesar yang terlihat dari luar. “Luxury hospitality selalu tentang emotional connection,” jelasnya. “Brand boleh berbeda, positioning boleh berbeda, tetapi pada akhirnya kita berbicara tentang bagaimana tamu merasa dipahami. Itu adalah benang merah yang saya tangkap selama memegang peranan di hotel-hotel sebelum ini dan juga dengan Regent Bali Canggu”

Beliau menjelaskan bahwa jika Six Senses, yang juga masuk di kategori Luxury di bawah IHG, identik dengan barefoot luxury dan sustainability, serta Potato Head yang sangat lifestyle-driven dan berbasis komunitas, maka Regent Bali Canggu menawarkan sesuatu yang berbeda: ruang dan kembali ke konsep luxury tradisional dan klasik.
“A sense of space is important. Luxury hari ini bukan lagi tentang memberi lebih banyak, tetapi tahu kapan harus berhenti dan membiarkan ruang itu berbicara.” Dan filosofi itulah yang terasa paling dominan di Regent Bali Canggu.
Regent sebagai Oasis di Tengah Canggu yang Enerjik
Apabila brand Regent adalah brand hotel mewah yang terbilang klasik dan refined maka kebalikannya Canggu sering diasosiasikan dengan hiburan, party, dan gaya hidup anak muda yang dinamis. Namun menurut beliau, sisi tersebut hanyalah satu bagian dari cerita dan membuat kontras ini semakin menarik.
“Tidak melulu hiburan hingar-bingar dan pesta, Canggu juga memiliki wellness culture yang sangat kuat: yoga, meditasi, Pilates. Ini tempat yang bohemian, kreatif, dan penuh energi.” Di tengah dinamika itu, Regent tidak mencoba menyaingi energi tersebut. Sebaliknya, hotel ini justru menjadi kontrasnya, Regent mengadopsi konsep Yin dan Yang, Hitam dan Putih yang saling berlawanan namun tidak terpisahkan.
“Kami memahami sebagian besar tamu mungkin ingin keluar dan menikmati apa yang sedang happening di Canggu. Tetapi mereka juga ingin kembali beristirahat ke tempat yang tenang dan privat. Regent menjadi ruang untuk settle down setelah semua energi itu terkuras.”
Konsep Yin dan Yang ini terasa jelas. Di luar hotel, kehidupan dinamis Canggu berjalan tanpa henti. Di dalam resor, suasananya berubah 180 derajat menjadi lebih sunyi, kontemplatif, dan reflektif. “Jika Anda perhatikan, kami tidak berupaya untuk menghadirkan kemewahan secara mencolok dan justru di situlah daya tariknya”.

Wellness sebagai Fondasi, Bukan Sekadar Fasilitas
Hotel ini belum lama telah resmi mengoperasikan fasilitas Regent Spa & Wellness yang menjadi bagian penting dari positioning Regent Bali Canggu. Untuk diketahui, ini adalah fasilitas Spa & Wellness pertama untuk brand Regent sedunia. Proyek percontohan ini pada akhirnya akan diadopsi oleh sebagian hotel-hotel Regent lainnya.

Namun pendekatannya tidak berhenti pada spa semata. “Kami berbicara tentang wellbeing secara keseluruhan,” ujar Pak Manish. “Tentang bagaimana seseorang bisa merasa lebih ringan dan lebih tenang ketika pulang. Menitikberatkan pada wellbeing dan tidak semata-mata pada wellness belaka.”
Regent Spa & Wellness dilengkapi dengan fasilitas berteknologi tinggi moderen maupun produk-produk internasional berkualitas tinggi dengan sentuhan spiritualitas Bali, termasuk juga dengan kolaborasi bersama healer lokal. Menurutnya, berbicara tentang wellness di Bali tanpa memasukkan unsur budaya dan spiritualitas akan terasa tidak lengkap. Pendekatan ini terasa lebih mendalam dibanding sekadar fasilitas tambahan yang sifatnya kosmetik.

Tak Hanya Menginap, Titik Berat Juga di Aspek Kuliner
Dalam percakapan kami, satu hal yang berulang kali muncul adalah kata experience. “Kami tidak menjual kamar sebagai commodity. Kami menawarkan rasa tempat, rasa makanan, rasa ketenangan.” Hal ini terlihat dari keseriusan Regent Bali Canggu di sisi kuliner. Mulai dari Sazón yang energetic dengan pengaruh Mediterranean, hingga CURE Bali yang akan segera dibuka di area beachfront bersama chef Andrew Walsh yang merupakan chef yang telah dianugerahi bintang Michelin.
“Selain itu, kami hadir dengan program Michelin Masters Series menghadirkan pengalaman dining yang sangat intimate, hanya delapan hingga 12 tamu, sehingga memungkinkan interaksi langsung dengan chef berbintang Michelin secara intim. Orang tidak hanya ingin makan enak. Mereka ingin cerita di baliknya dan juga dapat berbincang langsung dalam jarak yang dekat tentu saja merupakan sesuatu yang spesial.”



Anda berminat untuk mengikuti Michelin Masters Series? Event terdekat diadakan di tanggal 27 & 28 Maret 2026 dengan menghadirkan Chef Masahiko Kawano dari Chaleur, Singapura (1-Michelin Star). Tempat sangat terbatas
Saya melihat inisiatif Michelin Masters Series adalah sebuah program yang sangat mengesankan yang tentunya akan sangat diapresiasi oleh para foodie di Bali maupun di Tanah Air. Kapan lagi dapat menikmati sajian spesial chef-chef terbaik di dunia dengan begitu mudahnya dan juga dengan biaya lebih afforadable apabila dibandingkan dengan menikmatinya langsung di restoran tempat mereka berkarya? Belum tentu mudah mendapatkan slot-nya pula!
Luxury Adalah Antisipasi
Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana Regent mendefinisikan value. Minibar (termasuk alcoholic beverages berukuran sedang), snacks, unlimited laundry, hingga breakfast untuk registered guests sudah termasuk dalam harga kamar. Tak hanya itu breakfast di hotel ini mengadopsi konsep 24-hour breakfast.
“Kami ingin menghilangkan friction dan kami sangat berusaha mendengarkan unexpressed needs dari tamu-tamu kami,” jelas Pak Manish. “Luxury seharusnya membuat tamu merasa bebas, jadi tidak melulu setiap sedikit bergerak terus menandatangani bill untuk hal-hal kecil. Anda ingin bersantai sejenak di saat sundowner dengan minuman berat? Kami telah sediakan di kamar secara gratis, mereka tidak perlu dipusingkan untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi.”
Konsep 24-hour breakfast sendiri muncul dari observasi sederhana: tamu di Canggu tidak selalu bangun pagi. “Every day feels like Sunday, tak masalah apabila para tamu bangun di pukul 12:00 siang setelah out-and-about hingga subuh, silahkan nikmati sarapan Anda kapan saja” ujarnya sambil tersenyum. “Kami sangat memahami bahwa semua orang yang tidur terlalu late tidak ingin memaksakan diri untuk membuka mata semata-mata demi sarapan saja.”

Pendekatan ini mungkin terbilang sederhana, tetapi dampaknya besar. Pengalaman terasa seamless dan tidak transaksional. Tamu merasa dirinya dipahami. Unexpressed needs yang dijelaskan oleh beliau ini sepenuhnya saya setujui, bahkan usai menginap pertama kali tahun lalu membuat aspek-aspek ini menjadi sebuah talking points bagi saya yang secara tidak sadar saya rave about ke teman-teman maupun famili yang menanyakan mengenai stay saya di Regent Bali Canggu. Bayangkan saja usai menginap di sini saya tidak membawa banyak pakaian kotor saat kembali di rumah dikarenakan adanya unlimited laundry. Priceless!
Loyalty dan Personalisasi
Sebagai bagian dari jaringan global IHG, Regent Bali Canggu terhubung dengan program loyalitas IHG One Rewards. Namun menurut Manish, loyalty bukan hanya soal status. “Ini tentang mengenal tamu secara lebih baik lagi. Ketika kami mengetahui preferensi tamu, mereka tidak perlu mengulang semuanya dari nol setiap kali datang menginap di any properti IHG. Itu yang membuat seseorang merasa seperti pulang dan itulah mengapa terhubung dengan IHG One Rewards adalah sesuatu yang sangat penting bagi kami.”
Bagi pembaca PinterPoin yang terbiasa memaksimalkan poin dan benefit, aspek ini tentu menjadi nilai tambah tersendiri. 🙂
Impresi Usai Menginap
Untuk pertanyaan terakhir, saya menanyakan ke Pak Manish mengenai impresi dari seorang tamu usai menginap di Regent Bali Canggu yang nantinya disampaikan kepada teman maupun keluarganya. Pak Manish dengan tersenyum merespon saya “Mudah sekali menjawabnya, bahwa: ‘Saya ingin kembali menginap di Regent Bali Canggu lagi dan lagi’, impresi itu menandakan bahwa stay mereka di sini sangat berkesan sehingga membuatnya ingin mengulang rasa yang sama.”
Saya tertegun sejenak dengan jawaban yang diberikan oleh beliau karena ini persis yang saya rasakan pada saat menginap pertama kalinya. Terdapat sebuah keinginan atau ‘kerinduan’ untuk kembali menginap di hotel ini. Tentu saja mungkin apa yang dirasakan tamu lain mungkin berbeda dengan saya, namun secara jujur impresi ingin kembali menginap di hotel yang saya rasakan sepenuhnya berhasil di-capture oleh pak Manish beserta tim Regent Bali Canggu.
Opini PinterPoin: Ketika Luxury Tidak Melulu Mengenai Seberapa Besar Uang Yang Anda Keluarkan
Dari perspektif PinterPoin, Regent Bali Canggu menarik bukan hanya karena kemewahannya, tetapi karena cara hotel ini menjembatani antara ‘luxury’ dengan ‘value’. Banyak hotel luxury memaknai kemewahan dengan menjual kamar dengan harga fantastis, tetapi sayangnya pengalaman saat menginap tetap terasa transaksional.
Di Regent Bali Canggu, pendekatannya terasa berbeda karena Regent mau mendengarkan unexpressed needs dari para tamu. Banyak elemen yang biasanya dianggap tambahan premium justru menjadi hak dari semua tamu menginap. Ini mengubah cara tamu menikmati hotel, bukan lagi menghitung apa yang layak dipesan, tetapi benar-benar menikmati waktu. (Tak hanya itu common area hotel maupun kamarnya pun mewah dan cantik dengan disain yang lagi-lagi… tidak mencolok.)

Penutup
Setelah dua kali menginap di Regent Bali Canggu, kesan yang paling tertinggal bukanlah kemewahan yang mencolok, melainkan rasa nyaman yang muncul secara alami. Di tengah Canggu yang semakin ramai dan kompetitif, Regent Bali Canggu memilih untuk tidak ikut dalam kebisingan tersebut. Ia menawarkan sesuatu yang semakin langka: ruang untuk berhenti sejenak.

Apakah menginap di Regent Bali Canggu terbilang affordable? Jujur saya berkata: Tentu tidak. Namun ketika sebuah hotel mampu menghilangkan friksi, memberikan ruang, serta menghadirkan pengalaman yang terasa utuh dari awal hingga akhir, maka value yang dirasakan menjadi jauh lebih besar daripada sekadar angka harga per malam. Terlebih lagi dengan akses ke Regent Club selama menginap juga membuat pengalaman jadi terasa semakin utuh dan mengesankan. Dan jika sebuah hotel mampu membuat Anda berhenti menghitung, baik harga maupun waktu mungkin di situlah definisi luxury yang sesungguhnya.
Pengalaman menginap kedua di hotel ini akan segera kami publikasikan dalam waktu dekat. Stay tuned!
