Salah satu highlight perjalanan saya ke Tokyo beberapa tahun lalu adalah mencoba terbang dengan New Central Airservice ke Niijima di kepulauan Izu, 1 dari sangat sedikit penerbangan komersial terjadwal rute dalam kota di dunia.
Ini adalah penerbangan ke-2 dari seri 7 penerbangan dalam perjalanan saya ke Jepang di bulan Mei 2024.
Penerbangan ini dipesan 1 hari sebelum perjalanan dan membutuhkan ¥15.100 sekali jalan (~Rp1.580.000), plus biaya kelebihan bagasi saat di bandara. Penerbangan ini bisa dipesan di situs web New Central Airservice (hanya dalam bahasa Jepang) atau di bandara, dan bisa dibayar dengan:
- Dipesan awal: Kartu kredit atau di bandara (ada batas waktu), atau
- Dipesan mepet: Kartu kredit atau di bandara saat berangkat.

Tentang Penerbangan Dalamkota Tokyo
Anda yang pernah ke Tokyo biasanya familiar dengan 2 bandara besar: Tokyo (Haneda; HND) dan Tokyo (Narita; NRT). Walaupun begitu, sebetulnya di Tokyo (dan sekitarnya) ada jauh lebih banyak bandara yang melayani penerbangan komersial, diantaranya:
- Daratan Tokyo dan sekitarnya:
- Haneda (HND) di prefektur Tokyo,
- Chofu (RJOA; hanya memiliki kode bandara ICAO) di prefektur Tokyo,
- Narita (NRT) di prefektur Chiba, dan
- Ibaraki (IBR) di prefektur Ibaraki,
- Kepulauan Izu (yang percayalah, lebih Tokyo daripada bandara Narita karena semuanya di prefektur Tokyo 😀 ):
- Oshima (OIM),
- Niijima (RJAN; hanya memiliki kode bandara ICAO),
- Kozushima (RJAZ; hanya memiliki kode bandara ICAO),
- Miyakejima (MYE), dan
- Hachijojima (HAC).
Penerbangan dalam kota dari daratan Tokyo sendiri dilayani oleh dua maskapai: ANA (rute Tokyo/Haneda ke Tokyo/Hachijojima) dan New Central Airservice (rute dari/ke Tokyo/Chofu). Sebetulnya ada lagi penerbangan helikopter di dalam kepulauan Izu, tapi itu mungkin cerita untuk lain waktu.
Selain karena jumlah penumpang yang sangat terbatas, penerbangan dari daratan Tokyo ke kepulauan Izu ada juga karena alternatifnya adalah kapal yang memerlukan 1 malam (kapal lambat) atau 3 jam (kapal cepat) – terlalu lama bagi saya yang biasa hanya menghabiskan 1 malam di Jepang 😀
Penerbangan dari Tokyo (HND) ke Tokyo/Hachijojima (HAC) sendiri dioperasikan oleh Boeing 737-800 yang tentunya sangat standar, sehingga membawa saya ke penerbangan kali ini ….

Sebelum Berangkat
Setelah paginya tiba di Tokyo (HND) saya bergegas menaiki KRL untuk pergi ke bandara Chofu di sisi barat Tokyo.

Bandara Tokyo/Chofu (RJTF) terletak di sisi barat kota Tokyo, dan hanya bisa diakses dengan bus lokal atau taksi (dan kalau salah baca rute sedikit seperti saya waktu itu, selamat berjalan 10 menit dari perhentian bus ke bandara).

Bandara Tokyo/Chofu (RJTF) sendiri bisa dibilang cukup kecil dengan landasan yang panjangnya kurang dari 1 km (sebagai perbandingan, landasan di bandara Tokyo (HND) maupun Tokyo (NRT) sendiri bisa 3-4x lipatnya).

Saya tiba di bandara 40 menit sebelum jadwal keberangkatan, dan ini sangat normal karena bandaranya relatif kecil.

Begitu masuk saya langsung menghadap 1 aula yang berisi ruang tunggu umum, kamar kecil di sisi kiri, dan area check-in di sisi kanan.

Saya melakukan proses check-in untuk penerbangan kali ini, sekaligus juga membayar tiket karena dipesan relatif mepet. Di papan di belakang konter nampak jadwal penerbangan hari itu dari bandara Chofu, yang hanya ada 12 penerbangan/hari – ini artinya, bahkan walaupun semua penerbangan penuh, jumlah penumpangnya masih lebih sedikit daripada 1 penerbangan dari Tokyo (HND) ke Osaka (ITM) 😮

Proses check-in sendiri diawali dengan mengisi data diri termasuk berat badan, kemudian semua tas ditimbang. New Central Airservice memiliki kebijakan yang sangat unik, di mana jatah bagasi yang diberikan hanya 5 kg, dan itu berlaku untuk semua bawaan selain diri saya sendiri (tidak peduli mau dibawa ke dalam kabin atau check-in). Biaya kelebihan bagasi sendiri bervariasi tergantung rute, tapi di rute ini saya dikenakan ¥300/kg.

Pas naik (boarding pass) berwarna kuning dan juga nota atas pembelian tiket dan kelebihan bagasi saya diberikan setelah selesai check-in.
Tak lupa tentunya tag untuk pengambilan bagasi yang masih ditulis manual.
Hiburan di sini sangat terbatas, dan terdiri dari brosur-brosur yang (hampir) semuanya hanya berbahasa Jepang.
Setidaknya terdapat toko kecil yang menjual beberapa barang khas dari kepulauan luar Tokyo.

20 menit sebelum jadwal berangkat semua penumpang baru melewati pemeriksaan keamanan manual dan menunggu di ruang tunggu steril. Di sini sudah tidak ada fasilitas apapun dan di pesawat juga tidak ada kamar kecil, jadi silakan pergi ke kamar kecil dulu sebelum melewati pemeriksaan dan masuk sini.

Hiburan yang ada juga terbatas pada TV dan peraga jaket pelampung.

Pesawat ini dioperasikan oleh Dornier 228-212NG. Setelah kami dipanggil naik pesawat dan semua penumpang sudah berada di samping pesawat, kami dipanggil satu persatu, diberikan nomor kursi, lalu baru naik pesawat dari pintu belakang (tidak ada informasi nomor kursi di pas naik, semua baru ditentukan setelah proses check-in selesai dan diumumkan saat naik pesawat).

Di Dalam Penerbangan
Perkenalan Kursi
Pesawat Dornier 228NG memiliki kursi dengan konfigurasi 1-1, kecuali 3 kursi sebaris di baris paling belakang. Anda tentu tidak akan berkata pesawatnya mewah, namun sudah lebih dari cukup untuk penerbangan 40 menit ini.

Saya duduk di kursi 5C, kursi kelas ekonomi jendela sekaligus lorong. Selain kursi di baris paling belakang, semua kursi di pesawat ini merupakan kursi jendela sekaligus lorong

Ruang kaki di kursi ini tidak begitu luas, namun sudah cukup untuk penerbangan pendek ini. Selain itu, tas ransel saya yang ikut dilaporkan (di-check-in) juga sedikit membantu ruang kaki.

Di kantong kursi terdapat kartu petunjuk keselamatan dan juga apa saja yang bisa dilihat di kepulauan Izu, tentunya yang kedua hanya dalam bahasa Jepang.


Kami juga disediakan kipas dan kantong mabuk udara. Kabinnya memang sedikit hangat sebelum mesin dinyalakan, tapi setelah itu cukup nyaman jadi tidak terlalu masalah.
Tradisi ulasan saya di PinterPoin mewajibkan saya untuk berfoto di kursinya. Kursinya sendiri cukup nyaman untuk perjalanan hingga 1 jam, dan mungkin bisa lebih selama saya tidak masalah kursinya tidak bisa direbahkan.
Penerbangan
Pesawat Dornier 228 memiliki katup udara yang mengalirkan udara relatif sejuk, walaupun baru beroperasi setelah mesin pesawat dinyalakan.
Setelah kedua mesin dinyalakan kami meninggalkan apron menuju landasan pacu.

Situasi kabin bisa dibilang cukup tenang di sepanjang perjalanan, hanya ditemani oleh suara turboprop. Suara mesinnya memang relatif lebih berisik daripada suara mesin jet terutama saat lepas landas, namun setelah itu tidak terlalu masalah (kalau masih merasa bermasalah, silakan gunakan headphone noise-cancelling).

Berikut video bagaimana kami lepas landas.
Kami perlahan meninggalkan Tokyo, walaupun uniknya masih belum meninggalkan prefektur Tokyo. Sepanjang perjalanan ini kami akan melewati prefektur Kanagawa sebelum akhirnya kembali ke prefektur Tokyo di kepulauan Izu.

Setelah lepas landas ke arah utara, kami berbelok kiri untuk putar balik sambil terus menanjak.

Setelah memutar nampak bandara Tokyo (RJAN) yang berukuran sangat kecil. Dari atas nampak persebaran area metropolitan Tokyo yang sangat luas sampai mulai menyentuh kaki bukit.

Karena kami terbang cukup pendek, kami bisa mengambil rute tercepat ke kepulauan Izu melalui sisi timur Yokohama sehingga di sepanjang perjalanan dari sisi saya nampak gunung Fuji dengan jelas. Sebelum Anda bertanya, Anda tidak bisa memilih di awal untuk duduk di sisi yang menghadap gunung Fuji (atau apapun itu), jadi anggap saja hoki – lagipula peluangnya hampir 50% karena semua kursi selain 1 di baris paling belakang merupakan kursi jendela.

Setelah menyeberangi teluk Sagami di dekat Yokohama kami melewati lautan bebas menuju kepulauan Izu.

Ya, sejelas itu gunung Fuji di sepanjang perjalanan 😀

Setelah menikmati pemandangan kepulauan Izu dari atas, kami mulai turun dan nampak pulau Toshima, salah satu pulau yang dekat dengan pulau Niijima. Pulau ini termasuk salah satu pulau yang terlalu kecil untuk memiliki bandara, jadi sebagai penggantinya terdapat helipad di sisi utara pulau ini dengan penerbangan rutin ke bandara-bandara yang memiliki landasan pacu.

Kami mulai mendekati pulau Niijima dari sisi utara. Landasan di bandara Tokyo/Niijima (RJAN) sendiri menghadap ke barat/timur di sisi rendah pulau, jadi beberapa menit sebelum mendarat kami baru berbelok.

Walaupun landasan bandara Tokyo/Niijima (RJAN) masih lebih panjang dari Tokyo/Chofu (RJAN), landasannya masih cukup pendek sehingga perlu mengerem cukup cepat.
Setelah mendarat, dengan landasan pacu sependek ini kami perlu berputar balik sebelum bisa menuju apron.

Bandara Tokyo/Niijima (RJAN) hanya memiliki 2 stand parkir dan tidak dilengkapi dengan truk pendorong, jadi kami parkir menyamping dari terminal.

Setelah mesin dimatikan kami turun melalui tangga dari pintu dan kemudian berjalan menuju gedung terminal.

Kedatangan
Dengan jumlah penumpang yang terbatas (dan jatah bagasi yang pelit), area pengambilan bagasi sendiri hanya berupa meja dengan permukaan baja nirkarat, di mana koper dan ransel saya bisa langsung diambil.

Setelah menitipkan bagasi di kantor maskapai sambil saya berkeliling Niijima, saya pergi meninggalkan bandara.

Sebagai pulau yang kecil, Niijima memiliki opsi transportasi yang relatif terbatas, jadi saya berjalan kaki dan menyewa sepeda kira-kira 1 km dari bandara.

Kesimpulan
Selain mempermudah akses ke kepulauan Izu, terbang dengan New Central Airservice dari daratan Tokyo ke kepulauan Izu juga menawarkan kesempatan unik untuk bisa terbang dengan pesawat Dornier 228. Selain
Seperti penerbangan Susi Air atau Air Borneo “Twin Otter” (dulu MASwings – ya, itu ulasan saya sebelum di PinterPoin), kalau Anda berharap pengalaman terbang seperti pada umumnya tentu Anda akan kecewa karena tidak ada pelayanan sama sekali. Walaupun begitu, bagi Anda yang suka mencob terbang dengan pesawat unik ini wajib masuk dalam bucket list Anda sebagai pecinta penerbangan saat perjalanan berikutnya ke Jepang.







