Setelah sekian lama saya akhirnya kembali berkesempatan untuk mengulas penerbangan perdana, yang kali ini dibuka oleh Scoot di rute Singapura (SIN) ke Pontianak (PNK) dan dioperasikan oleh Embraer E190-E2.
Ini adalah penerbangan ke-3 dari seri mengejar penerbangan perdana di bulan Juni 2026.
Saya memesan tiket saya melalui website Scoot menggunakan award “Saver” dan dikenakan 4.500 KrisFlyer miles + biaya bandara S$66,63 (Rp925.000) sekali jalan. Apabila dipesan dengan tunai penerbangan ini memerlukan S$152,48 (Rp2.120.000), sehingga saya mendapatkan value penukaran miles sebesar Rp265/KrisFlyer mile, 47% lebih tinggi dari valuasi KrisFlyer miles menurut PinterPoin.


Jaringan Rute Grup Singapore Airlines di Indonesia
Setelah berbagai proses penggabungan grup Singapore Airlines akhirnya hanya memiliki 2 maskapai:
- Singapore Airlines sebagai maskapai layanan penuh yang lebih berfokus pada rute bisnis maupun premium, dan
- Scoot sebagai maskapai berbiaya rendah yang lebih berfokus pada rute wisata maupun yang terlalu kecil untuk dioperasikan Singapore Airlines.
Di Indonesia sendiri maskapai grup Singapore Airlines terbang ke 17 tujuan, 4 diantaranya oleh Singapore Airlines dan Scoot sekaligus dan 13 sisanya hanya dioperasikan oleh Scoot:
| Daerah | Rute | Singapore Airlines | Scoot |
| Sumatera | Medan (KNO) | Boeing 737-8 | Airbus A320 |
| Padang (PDG) Palembang (PLM) Pekanbaru (PKU) Tanjung Pandan (TJQ) | – | Embraer E190-E2 | |
| Jawa | Jakarta (CGK) | Airbus A350-900 (konfigurasi regional/jarak jauh) Boeing 777-300ER | Airbus A320 |
| Majalengka (KJT) | – | Embraer E190-E2 | |
| Semarang (SRG) | – | Airbus A320 | |
| Surabaya (SUB) | Airbus A350-900 (konfigurasi regional) Boeing 737-8 | Airbus A320 Boeing 787-8 | |
| Yogyakarta/Kulon Progo (YIA) | – | Airbus A320 Airbus A321neo | |
| Sunda Kecil | Bali (DPS) | Boeing 787-10 | Airbus A321neo Boeing 787-8 Boeing 787-9 |
| Labuan Bajo (LBJ) Lombok/Praya (LOP) | – | Embraer E190-E2 | |
| Kalimantan | Balikpapan (BPN) | – | Airbus A320 Embraer E190-E2 |
| Pontianak (PNK) | – | Embraer E190-E2 | |
| Sulawesi | Makassar (UPG) Manado (MDC) | – | Airbus A320 Embraer E190-E2 |
Ini artinya, Scoot juga sedikit banyak melengkapi jaringan Singapore Airlines, di mana Anda bisa saja terbang di 1 tiket di mana sebagian penerbangannya dioperasikan oleh Scoot (tapi tidak perlu khawatir, selama dipesannya sebagai tiket Singapore Airlines Anda bisa mendapatkan beberapa manfaat seperti bagasi check-in dan makanan panas)
Sebelum Berangkat
Setelah makan di pujasera di kota dan juga berbelanja di supermarket saya kembali di bandara Singapura (SIN) menggunakan bus dan tiba kurang lebih 6 jam sebelum jadwal keberangkatan awal. Saya sengaja datang sejak malam sebelumnya karena jam keberangkatannya sangat pagi.

Proses check-in di mal “Jewel” sendiri relatif mudah, dan setelah itu saya mendapatkan pas naik (boarding pass). Alternatifnya, saya bisa juga check-in di area check-in Scoot di terminal 1.


Berikut pas naik saya untuk penerbangan pagi itu, yang dicetak di stok kertas kios check-in mandiri bandara.

Begitu mendapatkan pas naik dan berputar-putar sebentar saya melewati pemeriksaan imigrasi.

Penerbangan dari Singapura (SIN) ke Pontianak (PNK) berangkat sangat pagi, jadi saya pergi ke SATS Premier Lounge di terminal 2 dengan Priority Pass dari BCA American Express Platinum. Sebelum Anda bertanya kenapa terminal 2, ada 2 alasan utama:
- Sebagai satu-satunya lounge SATS yang tidak bisa diakses gratis dengan LoungeKey dari kartu “JCB” saya sedikit banyak berharap lounge-nya tidak terlalu ramai, dan
- Informasi awalnya saya akan berangkat dari gerbang D sehingga sedikit lebih dekat dari terminal 2.

Setelah menghabiskan waktu di SATS Premier Lounge, saya pergi menuju area keberangkatan 1 jam 20 menit sebelum jadwal keberangkatan.

Sialnya, saat saya mengkonfirmasi kembali gerbang keberangkatannya diubah ke gerbang C sehingga saya perlu berjalan sekitar 5 menit lebih lama.

Seperti di bandara Singapura (SIN) terminal 1-3, pemeriksaan keamanan dilakukan di tiap gerbang keberangkatan. Saya menunggu beberapa saat sambil menunggu pemeriksaan dibuka, dan setelah pemeriksaan keamanan pas naik saya kemudian diperiksa.

Penerbangan ini dioperasikan oleh pesawat Embraer E190-E2 yang berumur 1 1/2 tahun saat saya terbang.

Di ruang tunggu sendiri tidak disiapkan fasilitas khusus penerbangan perdana.

Satu-satunya yang membedakan adalah adanya staf bandara yang membagikan tag bagasi.

Proses naik pesawat dimulai 35 menit sebelum berangkat dan cukup tertib. Karena saya mendapatkan kursi cukup belakang (baca: kursi paling belakang yang diisi penumpang), saya bisa naik pesawat cukup awal di grup 2.
Karena pesawat terhubung oleh garbarata, saya melewati garbarata untuk naik pesawat dari pintu depan.

Setelah melewati garbarata tiba saatnya untuk masuk ke dalam pesawat.

Di Dalam Pesawat
Perkenalan Kursi
Pesawat Embraer E190-E2 Scoot hanya memiliki kabin kelas ekonomi dengan 112 kursi dalam konfigurasi 2-2. Ini merupakan konfigurasi terpadat di dunia untuk pesawat E190, tapi setidaknya seperti pesawat Embraer lainnya semua kursi merupakan kursi jendela atau lorong.

Untuk penerbangan ini saya awalnya duduk di kursi 26D, kursi ekonomi lorong standar. Kursi ini merupakan kursi standar dari Embraer untuk seri pesawat E2 dan sangat lebar sampai saya tidak perlu bersentuhan bahu dengan tetangga saya.

Ruang kaki di kursi ini sendiri tidak terlalu longgar, tapi sudah cukup untuk penerbangan pendek. Di belakang kursi hanya terdapat 1 kantong bacaan.

Kursi ini memiliki meja sederhana standar kelas ekonomi, tapi tidak bisa ditarik karena keterbatasan jarak antarkursi.

Kursi di pesawat ini bisa sedikit direbahkan.

Bacaan di penerbangan ini terdiri dari katalog belanja di pesawat, kartu petunjuk keselamatan, dan kantong mabuk udara, yang semuanya bisa ditemukan di kantong kursi.

Seperti biasa, berikut foto saya di kursi tersebut. Kursi ini tidak memiliki sandaran kepala terpisah sehingga relatif pendek dibandingkan dengan tinggi badan saya.

Penerbangan
Pemandangan di sebelah saya awalnya nampak pesawat Qantas Boeing 787-9 yang parkir di sisi kanan. Bicara tentang jendelanya, berbeda dengan saat saya terbang dengan Qantas E190 ke Dili (DIL) (perbandingan denah kursi Qantas dan Scoot untuk referensi) jendela di pesawat ini memang tidak betul-betul persis di sebelah tiap kursi karena jarak antarkursinya berbeda dari “bawaan”, tapi kebetulan untuk baris saya masih cukup tepat di sebelah kursi dan berukuran besar.

Di atas kabin terdapat panel yang terdiri dari katup udara, tombol untuk memanggil awak kabin, dan juga lampu baca. Uniknya, berbeda dari panel di pesawat lain yang biasanya berbagi untuk semua penumpang dalam 1 baris, panel di sini terpisah untuk tiap penumpang.

Oh, saya juga lupa memfoto, tapi salah satu hal yang sedikit menyebalkan di pesawat ini adalah tempat penyimpanan peralatan awak kabin. Peralatan awak kabin seperti kit petunjuk keselamatan mengisi penuh rak bagasi 3 baris kursi terakhir, tapi untungnya penerbangan kali ini tidak begitu penuh dan rak bagasi barunya bisa memuat lebih banyak bagasi ukuran carry-on.
Proses demonstrasi petunjuk keselamatan dilakukan secara manual saat kami mulai meninggalkan tempat parkir.

Lampu kabin langsung diredupkan setelah petunjuk keselamatan.

Walaupun jarak ke landasan pacu relatif dekat, kami memerlukan 15 menit sejak meninggalkan area gerbang karena proses taxi sangat pelan.

Bahkan dengan itu sekalipun, kami lepas landas 10 menit setelah jadwal keberangkatan.
Setelah lepas landas ke arah selatan, kami perlahan meninggalkan Singapura sebelum berbelok ke arah timur menuju Pontianak.

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan 15 menit setelah lepas landas, lalu layanan penjualan makanan dan pembagian makanan preorder dimulai beberapa menit kemudian. Karena hanya ada 3 awak kabin yang bertugas, penjualan pun dilakukan oleh 1 awak kabin yang hanya memegang EDC dan 2 awak kabin yang membagikan sekaligus berjualan dengan troli.

Di penerbangan ini tidak disediakan makanan atau minuman apapun secara gratis. Anda bisa saja membeli di pesawat atau memesan di awal, tapi karena penerbangannya relatif pendek opsi yang tersedia relatif terbatas:
| Item | Preorder | Beli di pesawat |
| Hidangan utama panas (misal: lasagna, laksa) | Tidak tersedia | Tidak tersedia |
| Kudapan (misal: wrap, roti panas) | Ada | Tidak tersedia |
| Air mineral | Ada | Ada |
| Minuman lain | Tidak tersedia | Ada |
Berikut opsi preorder makanannya:

Sebagai perbandingan, berikut menu yang bisa dibeli di tempat (ya, hanya halaman terakhir menu).

Anda yang tahu saya tentu tahu seberapa banyak saya minum di pesawat, jadi saya membeli kombo air mineral dan air kelapa seharga S$6 (~Rp83.000). Sebagai maskapai yang berbasis di Singapura minuman dan makanan Scoot sangat mahal dibandingkan dengan maskapai lain seperti AirAsia atau Lion Air, jadi tentu jauh lebih baik untuk memiliki kartu dengan akses lounge yang komprehensif.

Oh, bicara tentang hiburan, saya sendiri tidak masalah tidak ada hiburan mengingat ini maskapai berbiaya rendah. Hanya saja, Wi-Fi internal “ScootHub” yang diiklankan di stiker di balik meja lipat tidak dinyalakan di sepanjang perjalanan jadi saya belum bisa melihat isinya. Sebagai referensi, berikut ulasan lain (dalam bahasa Inggris) yang juga menunjukkan ScootHub.
Sebetulnya tidak masalah juga pada akhirnya, karena pemandangan matahari yang mulai terbit dari sisi kiri jauh lebih bagus.

Pesawat E190-E2 memiliki 2 kamar kecil, 1 di kabin bagian depan dan 1 di kabin bagian belakang. Saya pergi ke kamar kecil di sisi depan, dan untungnya cukup bersih dan masih terawat walaupun sederhana.


Saya sempat berbincang sebentar dengan awak kabinnya setelah dari kamar kecil, dan setelah itu diajak untuk berfoto bersama untuk penerbangan perdana. Sebelum Anda bertanya kenapa awak kabinnya tidak berkeliling kabin untuk ini – ingat ini penerbangan sangat pagi.

Sebelum saya lupa, berikut foto kabinnya dari belakang. Walaupun ini pesawat regional, pesawat Embraer E-Jets (E170 sampai E195, termasuk varian terbaru “E2”) terasa cukup lapang.

Setelah hanya 25 menit di ketinggian jelajah sudah waktunya untuk mulai turun. Pemandangan di sisi kiri menghadap pesisir pulau Kalimantan, di mana mulai tampak pesisir di sepanjang jalan sepanjang rute dari Pontianak menuju Singkawang dan Sambas.

Dari jauh nampak daerah jauh di dalam pulau Kalimantan yang masih tertutup kabut pagi.

Lampu tanda kenakan sabuk pengaman dinyalakan 15 menit sebelum mendarat, dan setelah itu kabin dipersiapkan untuk mendarat.

Beberapa menit sebelum mendarat kami melewati muara sungai Kapuas.

Karena Pontianak sisi selatan dan utara dipisahkan oleh sungai Kapuas, salah satu ciri khas kota Pontianak adalah beberapa jembatannya, yang nampak saat kami semakin mendekati bandara Pontianak (PNK).

Kami mendarat di bandara Pontianak (PNK) 20 menit lebih awal dari jadwal awal. Karena bandaranya relatif kecil dan sebagian dihuni oleh militer kami harus memutar dulu sebelum ke terminal penumpang.

Sesuai tradisi di dunia kedirgantaraan, penerbangan perdana ini diiringi dengan sambutan berupa water salute, yang kali ini dilakukan sesaat sebelum memasuki area parkir.

Salah satu kelebihan terbang dengan pesawat regional adalah proses turun pesawat lebih cepat daripada kalau terbang dengan pesawat lain yang lebih besar.

Saat saya akan meninggalkan pesawat saya baru sadar bahwa ada Rico Tuerah yang juga sama-sama ke Singapura demi mengejar penerbangan perdana ini, jadi kami berdua berfoto bersama lagi dan karena ini satu-satunya foto bersama di kabin kemudian masuk ke pos Instagram Scoot 😀

Saya meninggalkan pesawat melalui garbarata dan menjadi penumpang terakhir yang turun.

Kedatangan
Setelah acara di sisi ruang tunggu keberangkatan internasional, sesi foto bersama antara para pejabat, beberapa penumpang, dan awak kabin dilakukan di koridor.

Sebelum turun ke area pemeriksaan imigrasi kami diberikan kuki dari Novotel Pontianak. Entah karena apapun itu, tapi hanya sebagian penumpang yang mendapatkan goodie bag dari operator bandara, dan lebih sedikit lagi yang mendapatkan kain.

Selain kuki terdapat juga booth kopi susu dari jaringan kedai kopi lokal “Aming Coffee“.

Proses pemeriksaan imigrasi hanya memakan waktu kurang dari 5 menit, tapi karena tidak ada gerbang otomatis saya tetap mendapatkan stempel di paspor sebelum masuk ke area pengambilan bagasi. Karena ini hanya perjalanan pendek (dan biaya bagasi check-in Scoot mahal 😛 ), saya bisa langsung melewati area ini dan menunjukkan kode QR dari All Indonesia ke petugas bea cukai.

Setelah melewati pemeriksaan bea cukai saya tiba di area kedatangan domestik, di mana saya menaiki shuttle untuk membawa saya pergi ke Singkawang.

Kesimpulan
Kapan ada lebih banyak pesawat Embraer masuk ke Indonesia?
Penerbangan Scoot dengan pesawat Embraer E190-E2 kali ini sangat nyaman dengan kursi yang sangat lebar (lebarnya mungkin hanya bersaing dengan kelas ekonomi internasional Japan Airlines atau Airbus A220, plus tidak sampai keras walaupun masih agak firm), kabin yang modern dan tenang bahkan di baris belakang, dan juga pelayanan yang cukup efisien untuk rute sependek ini. Ditambahkannya Pontianak (PNK) ke jaringan grup Singapore Airlines tentu juga membantu warga Kalimantan Barat untuk bepergian ke berbagai tujuan dengan lebih cepat, di mana kedua maskapai tersebut mengoperasikan penerbangan ke ratusan kota di seluruh dunia.
Di sisi lain, jadwal penerbangan ini masih terbatas dan sangat pagi sehingga tidak praktis bagi Anda yang berangkat dari Singapura atau negara lain di Asia Tenggara (kecuali Anda transit dari Singapore Airlines First Class dan bisa tidur di The Private Room dulu), dan juga seperti ciri khas Scoot makanan maupun minumannya sangat mahal. Kembali lagi, dua hal tersebut relatif minor dibandingkan dengan kepraktisan dan kenyamanan yang ditawarkan.
Saya akan merekomendasikan Scoot di pesawat Embraer E190-E2 apabila harga dan jadwalnya tepat. Tentunya, kalau Anda tidak masalah reposition ke tujuan Singapore Airlines saya tetap akan lebih menyarankan itu agar Anda bisa menikmati terbang di kelas bisnis atau first class.


mantap.. semoga BDO menyusul segera ada penerbangan perdana scott
jangan scoot dong pak, sq 🙂