Akhirnya giliran Indonesia memiliki brand hotel Kimpton setelah sekian lama dinantikan! Kimpton Suntaya Bali Ubud (Kimpton Suntaya) dijadwalkan akan menjadi hotel Kimpton pertama di Indonesia ketika resmi dibuka pada akhir 2026. Brand yang masuk dalam kategori Luxury & Lifestyle milik IHG Hotels & Resorts ini sekaligus akan menambah portofolio hotel mewah IHG di Bali.
Kehadiran Kimpton di Indonesia tentu menjadi kabar menarik, terutama bagi anggota IHG One Rewards tak terkecuali saya sebagai seorang ‘hotelphile‘. Terlebih lagi dengan domisili saya di Bali, tentu saja saya sudah tidak sabar ingin segera menginap di Kimpton Suntaya.

Diam-diam IHG kian menambah koleksi hotel-hotel lifestyle mewah di Indonesia. Lihat saja adanya Hotel Indigo Bandung Dago Pakar dan Hotel Indigo Bintan Lagoi Beach yang keduanya terbilang relatif baru. Tak lupa Hotel Indigo Bali Seminyak Beach yang sudah duluan buka di Bali.
Kimpton akan memberikan alternatif hotel mewah dengan vibe ‘gaya hidup’ yang lebih santai, design-forward, dan mengedepankan interaksi sosial. Karakternya tentu akan jauh berbeda dengan Regent atau InterContinental yang lebih identik dengan classic luxury, maupun Six Senses dengan konsep barefoot luxury-nya.
Meski sama-sama mengusung konsep lifestyle dan desain yang kental dengan karakter lokal, Kimpton memiliki positioning yang berbeda dengan saudaranya, Hotel Indigo. Jika Hotel Indigo banyak menjadikan cerita dari lingkungan sekitar sebagai identitas utama hotel, Kimpton berada di tier lebih tinggi dengan penekanan lebih besar pada interaksi sosial, pengalaman kuliner, serta pelayanan yang personal dan cenderung playful.
Hello… Kimpton Suntaya Bali Ubud!
Nama Suntaya sendiri diambil dari dua kata yang terinspirasi dari bahasa Sanskerta, yaitu Suniya yang berarti ketenangan (stillness) dan Taya yang berarti vitalitas (vitality). Keduanya menggambarkan karakter Ubud yang dikenal sebagai destinasi untuk menenangkan diri, namun di saat yang sama juga menjadi tempat untuk berkumpul dan beraktivitas.
Kimpton Suntaya akan berlokasi di Jalan Bisma, salah satu lokasi yang menurut saya sangat strategis untuk mengeksplorasi jantung kota Ubud. Berbagai destinasi populer seperti Pasar Seni Ubud, Istana Ubud (Puri Saren Agung), hingga Water Palace (Pura Taman Saraswati) bahkan dapat dicapai dengan berjalan kaki dari hotel.
Meski berada begitu dekat dengan pusat keramaian Ubud, bukan berarti pengalaman menginap di Kimpton Suntaya akan kehilangan sisi immersive yang biasa dicari ketika berlibur ke kawasan ini. Area hotel membentang mengikuti kontur alami kawasan Ubud yang menurun hingga ke tepian Sungai Wos.
Lanskap inilah yang kemudian turut memainkan peranan penting dalam keseluruhan desain hotel. Alih-alih meratakan lahan dan mendirikan satu bangunan besar, Kimpton Suntaya terdiri dari beberapa struktur yang tersebar di berbagai ketinggian mengikuti kondisi lahannya.

Desain hotel sendiri digarap oleh Denton Corker Marshall dengan mengambil inspirasi dari prosesi upacara tradisional Bali. Inspirasi tersebut diterjemahkan ke dalam arsitektur dan bagaimana setiap ruang di dalam hotel saling terhubung, sementara aliran Sungai Wos dan kontur alami kawasan Ubud turut menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman.
Hasilnya, Kimpton Suntaya diharapkan dapat terasa menyatu dengan alam di sekitarnya tanpa mengorbankan kemudahan akses menuju pusat Ubud.
Seperti Apa Kimpton Suntaya Bali Ubud Nantinya?
Kimpton Suntaya hanya akan memiliki 101 kamar, mulai dari kamar kategori dasar, pool suite, hingga private pool villa. Dengan jumlah kamar yang relatif terbatas, setidaknya di atas kertas hotel ini sepertinya memang tidak dirancang sebagai resor berskala masif.




Bagi yang sebelumnya pernah menginap di Kimpton, sejumlah ciri khas brand ini tentunya juga akan dibawa ke Ubud. Salah satunya adalah Kimpton Kickstart, di mana tamu dapat menikmati kopi, teh, dan pastry setiap pagi. Kemudian ada Kimpton Social, sesi berkumpul di sore hari sambil menikmati minuman complimentary sekaligus menjadi ajang bagi para tamu untuk saling berinteraksi.
Kimpton Suntaya juga akan menawarkan program “Forgot It, We’ve Got It!” yang menyediakan berbagai perlengkapan perjalanan yang mungkin terlupakan oleh tamu.
Satu lagi tradisi Kimpton yang menurut saya cukup quirky adalah Secret Social Password. Secara berkala, Kimpton akan mengumumkan sebuah kata sandi rahasia yang apabila diucapkan saat check-in, tamu bisa mendapatkan perks atau kejutan tambahan dari hotel (saya sendiri beberapa kali mendapatkan kejutan seperti mini cakes hingga camilan tambahan berkat password ini).
Hal-hal kecil seperti inilah yang menurut saya membuat Kimpton terasa berbeda dibandingkan luxury brand konvensional. Mereka tetap menawarkan pengalaman menginap mewah, namun biasanya membungkusnya dengan suasana yang jauh lebih informal, playful, dan tidak kaku.
Tidak hanya itu, Kimpton Suntaya akan memiliki lima venue makanan dan minuman, jumlah yang terbilang banyak untuk sebuah hotel dengan hanya 101 kamar. Dua di antaranya bahkan akan dipimpin oleh Chef Hirofumi Imamura, yaitu Imamura Ubud yang menawarkan pengalaman omakase serta Shaku by Imamura dengan konsep Japanese izakaya yang lebih kasual. Kehadiran Chef Hirofumi Imamura sendiri cukup menarik mengingat ia merupakan seorang chef berbintang Michelin.

Dengan jumlah outlet sebanyak itu, saya justru penasaran melihat apakah Kimpton Suntaya nantinya juga akan berusaha memposisikan diri sebagai destinasi kuliner tersendiri di Ubud yang turut menyasar pengunjung dari luar hotel.
Tidak lengkap rasanya membuka hotel mewah di Ubud tanpa membawa unsur wellness. Kimpton Suntaya tampaknya cukup serius dalam urusan ini dengan menghadirkan fitness studio dua lantai lengkap dengan fasilitas recovery dan contrast therapy.
Tentunya fasilitas spa juga tetap tersedia melalui Sakshi Spa yang mengambil inspirasi dari tradisi penyembuhan Bali dengan berbagai ritual untuk memulihkan tubuh sekaligus pikiran.

Penutup
Akhirnya, penantian hadirnya Kimpton di Indonesia akan segera berakhir lewat Kimpton Suntaya Bali Ubud. Bagi saya pribadi, pembukaan Kimpton Suntaya sangat menarik mengingat Indonesia sebenarnya relatif terlambat mendapatkan brand ini. Apa kabar Kimpton Naranta Bali?

Brand yang didirikan Bill Kimpton di San Francisco pada 1981 ini sudah lebih dahulu debut di Asia melalui hotel Kimpton Da An Taipei, Kimpton Maa-Lai Bangkok, hingga Kimpton Kitalay Samui. Ekspansinya di Asia belakangan semakin agresif dengan hadirnya Kimpton Tsim Sha Tsui Hong Kong dan Kimpton Naluria Kuala Lumpur.
Saya sendiri telah berkesempatan menginap di Kimpton St Honoré Paris, Kimpton Maa-Lai Bangkok, dan Kimpton Kitalay Samui. Dari pengalaman tersebut, saya merasa Kimpton menjadi salah satu brand hotel lifestyle yang karakternya sangat menarik sehingga kehadiran Kimpton Suntaya di Bali tentu membuat saya semakin tidak sabar untuk mencobanya.
Pemilihan Ubud sebagai lokasi pertama pun terasa cukup masuk akal. Karakter Kimpton yang menggabungkan desain, kuliner, interaksi sosial, dan sedikit unsur quirky menurut saya memiliki banyak ruang untuk diterjemahkan ke dalam konteks budaya dan kreativitas Ubud.

Terlebih lagi, lokasinya di Jalan Bisma membuat Kimpton Suntaya memiliki kombinasi yang cukup menarik: dekat dengan pusat Ubud, tetapi tetap memiliki lanskap perbukitan dan tepian Sungai Wos sebagai bagian dari pengalaman resor.
Reservasi Kimpton Suntaya sendiri sudah mulai tersedia melalui situs IHG untuk periode menginap paling awal mulai 1 Januari 2027. Untuk bulan Januari, tarif kamar termurah berada di kisaran Rp6.700.000 hingga Rp8.800.000 per malam (best available rate untuk tipe kamar ‘Essential’), sementara penukaran menggunakan poin IHG One Rewards membutuhkan sekitar 51.000 hingga 70.000 poin per malam.
Tentunya harga maupun jumlah poin yang dibutuhkan masih dapat berubah tergantung tanggal menginap, tetapi setidaknya angka tersebut sudah memberikan sedikit gambaran mengenai positioning harga Kimpton pertama di Indonesia ini. Dengan tarif mulai Rp6 jutaan per malam, jelas Kimpton Suntaya memang akan bermain di segmen hotel mewah di Ubud.


jujur IHG Loyalty Program paling tidak menarik dibanding Accor, Hilton, Hyatt, Marriott dan GHA
loyalty recognationnya pun paling lemah. dan untuk mencapai level diamond (untuk sweetspot) sangat sulit
Ray,
Setuju, kalau dari sisi loyalty recognition memang IHG bukan yang terkuat dan bahkan sebagai Diamond Elite sekalipun benefit-nya belum tentu sebaik top-tier status di program lain (misal: musti kejar milestone untuk dapetin club access dan bukan diberikan sebagai benefit sebagai anggota Diamond). IHG sendiri juga bukan loyalty program utama saya.
Tapi menurut saya semua program ada plus minus nya dan IHG ini sebenarnya cukup underrated. Salah satu yang saya suka justru dari penggunaan poinnya karena masih cukup banyak properti IHG yang bisa memberikan outsized value untuk point stay. Dibandingkan Marriott atau Hilton misalnya, saya merasa opportunity seperti ini masih lebih sering saya temukan di IHG (in fact ini juga berlaku untuk Kimpton Suntaya, coba bikin perbandingannya, worth it pakai point stay). Dapetin poin juga mudah karena sering promo pembelian poin juga. Programnya juga konsisten ngadain promo global.
Jadi memang kalau mengejar elite recognition saja mungkin kurang menarik, tapi kalau tahu cara memanfaatkan poinnya, IHG bisa sangat rewarding. Again, semuanya ada plus minus nya sih ya.. Hyatt paling sip tapi jadi Globalist juga paling susah didapetin, propertinya dikit dan tendensi lebih mahal semua.