Bandung adalah sebuah kota yang memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi saya dan orang tua saya. Namun sayang sekali saya yang berdomisili di Denpasar dibuat ‘ribet’ apabila ingin mengunjungi kota ini, ini dikarenakan sudah tidak ada penerbangan langsung ke bandara BDO sejak beberapa tahun belakangan. Cara termudah untuk mencapai Bandung adalah dengan melibatkan kota Jakarta dan disambung dengan menaiki kereta api reguler maupun Whoosh ataupun metode transportasi darat lainnya. Wew!
Nah, di akhir bulan Januari 2026 saya dan tim PinterPoin mengadakan event Masterclass offline di Jakarta selama dua hari berturut-turut. (Btw, terima kasih untuk para peserta yang telah membuat kedua acara Masterclass kami yang bisa dibilang sangat sukses ini.) Usai dengan acara di Jakarta saya mengemas koper dan bergegas menuju ke Bandung untuk bertemu orang tua saya yang akan bersama-sama berwisata ke kota yang sering dijuluki sebagai Paris van Java ini.
Saya menginap selama tiga malam di hotel pertama yang berada di area pusat kota untuk quality time dengan kedua orang tua saya. Empat malam berikutnya saya berpindah ke Hotel Indigo Bandung Dago Pakar (Indigo Bandung) dan InterContinental Bandung Dago Pakar (InterContinental Bandung) yang berlokasi sedikit di luar pusat kota yang vibe-nya ‘retreat‘. Tiba saatnya saya untuk ‘staycation‘ dan mengunci diri untuk menikmati kedua hotel tersebut.

Di dalam post ini:
Pendahuluan
Di awal bulan Januari 2026 setelah memutuskan bahwa saya akan mengunjungi kota Bandung, saya berinisiatif untuk reach out ke tim Hotel Indigo Bandung Dago Pakar. Terima kasih untuk Ms. Dea dari Hotel Indigo Bali Seminyak Beach (telah saya ulas sebelumnya) yang telah menghubungkan saya dengan tim Hotel Indigo Bandung! 🙂
Tak lama berselang, Ms. Dina Novia selaku Director of Marketing Communications dari Indigo Bandung memberi respon yang sangat positif dan setelah sejenak berkoordinasi dengan beliau, ditetapkanlah tanggal 29 hingga 31 Januari sebagai periode stay saya di Hotel Indigo Bandung dan 31 Januari ke 2 Februari di Hotel InterContinental Bandung.
Secara pribadi saya merasa senang sekali rasanya mendapatkan kesempatan untuk menginap di hotel Indigo kedua di Indonesia tersebut. Ini juga menandakan bahwa saya selaku perwakilan PinterPoin telah menginap dan mengulas di semua hotel Indigo di Indonesia (to date). Saya sangat menikmati pendekatan disain dari brand Indigo yang terasa muda, design-forward, namun dengan arahan filosofi disain yang berkiblat erat dengan lingkungan tempatnya berdiri. Membuatnya menginap di any Hotel Indigo di dunia akan terasa unik dan ‘berbeda’.
Berikut adalah hotel Indigo yang sebelumnya telah saya ulas:
Hotel Lifestyle yang Sarat Makna dan Filosofi Sekitaran Kota Bandung
Saya menginap di Hotel Indigo Bandung bersama dengan teman baik saya yang memang berdomisili di kota ini, ia menjemput saya di hotel sebelumnya dengan mobil pribadi dan tibalah di Hotel Indigo Bandung sekitar pukul 13:45. Saya menurunkan barang-barang bawaan dan bergegas masuk ke lobi utama dengan bantuan bell men yang bertugas.
WOW! saya memang sudah berekspektasi bahwa lobi hotel ini akan bagus namun tidak sebagus ini!


Banyak sekali sensory pleasures yang saya rasakan, dari lobi yang harum dengan disain yang trendi dan megah, penggunaan warna-warna cerah yang saling juxtaposing satu sama lainnya. Menurut saya, disain lobi yang terasa bold ini terlihat kohesif dan sangat Indigo coded. Hutan sekitaran Dago Pakar terpampang sangat jelas melalui jendela floor-to-ceiling raksasa yang mengelilingi salah satu sisi ruangan membuat area lobi selalu dipenuhi pencahayaan alami yang berlimpah.


Saya berjalan ke arah meja penerimaan dan Ms. Faiza dengan bantuan Ms. Mega membantu proses check-in. Usai registrasi ia menjelaskan mengenai aspek-aspek hotel dan detail menginap saya. Ia menyerahkan kunci kamar dan mengkonfirmasi bahwa saya akan menempati kamar nomor 921 yang merupakan kamar dengan tipe 1-King Suite with City Room.

Pak Aldi Rinaldi yang menjabat sebagai Marketing and Communications Manager dari Hotel Indigo Bandung datang menghampiri saya dan dengan hangat mengucapkan selamat datang. Beliau selama beberapa hari sebelumnya telah banyak membantu mengatur segala hal berkenaan dengan stay ini. Pak Aldi berinisiatif untuk memberi saya tur singkat mengenai filosofi disain dari hotel ini dan semakin banyak saya dijelaskan, semakin fascinated saya dibuatnya.
Karya artistektur dan disain interior dari hotel ini sepenuhnya diinspirasi oleh kekayaan budaya Sunda dan alam sekitaran Dago Pakar. Budaya Sunda seperti legenda Sangkuriang (Tangkuban Perahu), alam Curug Dago diinfuskan ke dalam disain yang menghiasi banyak sudut ruangan.
Daerah Dago Pakar yang sangat hijau dengan pepohonan tinggi juga diadopsi ke dalam disain pilar-pilar kayu yang menjulang tinggi selayaknya pepohonan. Partisi-partisi mengadopsi dari Tangkuban Perahu, tokoh wayang golek Sunda seperti si Cepot juga ikut muncul lewat dinding dekoratif motif batik yang melatar belakangi area front desk.




Saya menangkap dari tur sejenak ini bahwa saat menginap di Hotel Indigo Bandung, para tamu tak hanya menginap di sebuah hotel lifestyle pada umumnya namun juga hendak dibawa masuk ke dalam neighborhood Bandung dan Dago Pakar yang immersive. I couldn’t agree more.
Bandung yang banyak dikenal sebagai pusat seni Art Deco di Indonesia juga dapat dirasakan dari pemilihan furnitur dengan sentuhan minimalis dan moderen. Hal ini dapat dilihat dari area Dagoan Lounge yang berbagi ruangan langsung dengan lobi utama hotel. Dagoan Lounge menempati sebuah space yang terbilang sangat prime dan menjadi salah satu area tercantik dan termegah di hotel ini.



Jika Anda menginap di kamar tipe suite apapun, Anda akan diberikan sebuah voucher untuk menikmati afternoon tea sebanyak satu kali yang mengambil tempat di Dagoan Lounge. Afternoon tea dimulai dari pukul 15:30 dan berakhir di pukul 17:30. Kami disuguhi cemilan baik manis maupun gurih yang disajikan di wadah kayu tiga tumpuk dan masing-masing dari kami diperkenankan untuk memilih satu minuman. Saya memilih minuman yang dinamakan ‘Ti Bandung’ yang merupakan perpaduan dari coldbrew coffee, sirup rempah, dan busa dari bajigur.

Hari menjelang malam dan lampu di sekitaran lobi mulai dinyalakan dan membuat Dagoan Lounge yang dari awalnya cantik menjadi terasa makin megah dan area bar di tengah lounge sangat mencuri perhatian!


1-King Suite City View yang Quirky
Kami menginap di tipe kamar 1-King Suite City View yang berada di lantai 9. Kamar kami bernomor 921 yang berada dekat dengan lift. Area hallway lantai 9 ini terlihat nyaman dengan warna-warna pastel yang lebih netral, dinding-dinding berkurva yang terkesan dinamis, dan karpet yang mengingatkan saya dengan topografi sekitar hotel lengkap dengan sungainya. Penanda nomor kamar juga terinspirasi dari batu-batuan sungai!



Untuk memasuki kamar tidur kami melewati lorong yang diapit dengan kamar mandi dan lemari pakaian beserta luggage rack-nya. Di dalam lemari pakaian terdapat luggage rack tambahan, bath robes, bantal tambahan, alat setrika dan steamer beserta mejanya, safe deposit box, slippers, laundry bags, dan juga mesin pengering rambut.




Kamar mandi dilengkapi dengan single vanity, bathtub, ruang shower, dan juga ruang kloset. Anda diberi pilihan untuk dapat membuka atau menutup jendela ke arah kamar apabila menggunakan bathtub. Tersedia garam mandi dan juga bath bomb untuk menyempurnakan mandi berendam Anda.
Ruangan shower dilengkapi dengan dua mode pancuran, yaitu pancuran air hujan dan juga pancuran genggam gantung. Toiletries yang digunakan bermerek Aromele yang merupakan produk lokal, aroma keseluruhan produknya menurut saya enak hanya saja formulasi body lotion-nya terasa kurang sempurna dalam artian saat dioleskan ke badan ia membuat gumpalan bola-bola kecil (pilling) yang cukup mengganggu.





Kamar saya yang disebut dengan tipe 1-King Suite City View ini lebih tepat jika disebut sebagai dengan tipe Junior Suite karena area ranjang dan living room menjadi satu dan tidak terpisah selayaknya sebuah tipe suite yang proper. Walaupun begitu, dikarenakan tidak adanya partisi maka membuat kamar seluas 47 meter persegi ini terasa lebih lega dan nyaman.

Disediakan area mini bar dengan air minum berbotol kaca, mesin kopi beserta kopi kapsulnya, dan juga disediakan secara gratis tiga bungkus cemilan ringan yang dinamakan Cangcimen. Cangcimen adalah akronim dari Ka-CANG, Kua-CI, dan Per-MEN yang notabene adalah makanan kecil yang lazim dijual di transportasi publik di Indonesia. Quirky!



Saya sangat menyukai kamar yang berlimpah dengan cahaya alami dan kamar yang dilengkapi dengan jendela kaca floor-to-ceiling ini tentu saja membuat cahaya dapat masuk ke kamar dengan maksimal. Pemandangan khas Dago Pakar menjadi daya tarik tersendiri untuk kamar ini.


Sangat salut dengan Hotel Indigo Bandung yang memberi identitas tersendiri untuk ruangan kamar ini dengan wallpaper di belakang ranjang maupun disain headboard nya pun mengingatkan saya akan area perbukitan dan topografi sekitar Dago Pakar. Banyak sekali elemen tradisional dimasukkan ke dalam disain interior kamar ini membuat saya jadi semakin memperhatikan detil-detil setiap sudut ruangan.

Tak lupa meja kerja yang disediakan pun juga terdisain dengan grafiti-grafiti Dagoan yang unik! Disain grafiti ini juga terlihat di korden kamar.


Pihak hotel menyediakan welcome amenity berupa sekotak buah-buahan utuh dan juga roti-roti kecil dan juga coklat yang dipajang di atas wadah yang menyerupai permainan tradisional yang dinamakan Congklak. Tak lupa welcome letter juga menemani welcome amenity yang meriah ini.


Mari Berjumpa di Joempa
Hotel ini memiliki dua rumah makan yaitu Joempa dan Karbon. Joempa adalah rumah makan all-day dining yang dimiliki oleh Hotel Indigo yang berada di lantai satu. Selama menginap dua malam di sini kami berulang kali mengunjungi Joempa untuk menikmati santapan makan pagi, makan siang, dan juga makan malam. Joempa beroperasi dari pukul 06:30 hingga 22:00 setiap harinya.
Restoran ini terbilang berukuran besar dengan pilihan tempat duduk indoor dan semi outdoor. Area ini juga didisain secara menarik dan terasa eklektik. Salah satu ruangan indoor didominasi dengan pintu harmonika yang mengingatkan saya akan area pertokoan tua di dalam kota Bandung dan ruangan lainnya didominasi dengan daun jendela kayu dan payung-payung melayang yang terasa oriental.







Saya sangat beruntung di saat sekitaran Bandung barat kala itu banyak terkena banjir, namun selama menginap di Hotel Indigo cuaca sangatlah bersahabat dan terbilang cerah walaupun kadang berawan. Saya sempat menikmati makan pagi dan makan malam secara alfresco di sisi ruangan semi outdoor yang sangat sejuk!





Makan Pagi
Sarapan di Joempa sepenuhnya disajikan secara buffet dengan pilihan makanan yang melimpah ala hotel-hotel bintang lima lainnya. Di ruangan utama terlihat sebuah counter berbentuk island empat sisi yang digunakan untuk memajang sajian roti-rotian. Tersedia waffle, pancake, bread pudding, bomboloni tiga rasa, muffin, beberapa macam roti tawar hingga pastries, donat, dan juga beberapa pilihan roti bebas gluten. Di counter ini juga terdapat showcase berpendingin yang dipergunakan untuk menyajikan beberapa macam sushi.
Saling berhadapan dengan counter pertama terdapat sederet kulkas chiller yang menyajikan buah-buahan potong, salad bar, charcuterie, yogurt, dan sarapan pagi manis berbasis susu.
Di ujung ruangan pertama terdapat ruangan tertutup yang diperuntukkan untuk hot dishes khas Asia. Hidangan-hidangan Asia favorit (nasi goreng, mie goreng, teriyaki, dimsum, dll) maupun lokal (seperti lontong gulai kambing) dapat ditemukan di sini. Para tamu juga dapat memesan telur sesuai keinginan di egg station ataupun sajian mie di noodle station yang juga berada di dalam ruangan ini.
Bagi Anda yang menyukai sereal untuk sarapan juga telah tersedia di sebuah counter terpisah yang berada di koridor yang menghubungkan antara ruangan indoor satu ke ruangan indoor kedua.

Di sisi ruangan indoor kedua tersedia counter minuman dan di sini Anda juga diperkenankan untuk memesan jus buah segar sesuai selera Anda.

Di sisi semi outdoor juga masih tersedia makanan-makanan hot dishes penting lainnya yaitu hidangan sarapan ala Amerika. Dua macam sosis, baked beans, kentang, jamur sautéed, dan lain-lain. Di sini juga terdapat egg station tambahan.
Jika Anda seperti saya, mungkin akan mengapresiasi adanya hidangan tradisional seperti soto ayam, bubur ayam, bubur sumsum, bubur kacang hijau hingga kudapan manis seperti martabak manis, kueh ku, dan juga beberapa minuman jamu.
Selama dua kali menikmati sarapan saya selalu mendapat kiriman spesial langsung ke meja saya berupa hidangan khusus yang tidak disajikan untuk tamu lainnya. Gestur yang menyenangkan!



All-Day Dining
Sebagai sebuah restoran all-day dining, Joempa memiliki satu buku menu yang sama untuk sajian makan siang maupun makan malam maka dari itu walaupun saya dua kali bersantap di Joempa di luar jam sarapan, saya memutuskan untuk menjadikan satu bagian saja untuk keperluan ulasan ini.
Sajian all-day dining di Joempa adalah sajian internasional dan secara cita rasa bisa dibilang sangat cocok dengan lidah saya. Semua hidangan yang ditawarkan terasa enak dan medok, kami sempat menikmati sajian steak ala barat dan juga sajian Asia seperti wonton dengan bumbu Szechuan, salad udang mangga, sup buntut madu, dan tongseng salmon.
Rooftop di Lantai 16
Jika memang ada satu lantai yang terbilang eksklusif di hotel ini, tentu saja adalah rooftop yang berada di lantai 16. Tidak semua tamu hotel dapat mengakses lantai ini hanya sebagian tamu yang ‘berkepentingan’ saja yang diberi akses ke lantai ini.
Terdapat kolam renang yang khusus diperuntukkan bagi para tamu menginap di kamar tipe Corner Suite ke atas, dengan begitu saya yang ‘hanya’ menginap di tipe King Suite juga seharusnya tidak mendapat akses ke kolam renang ini.





Makan Malam Mengesankan di Karbon
Selain kolam renang juga terdapat restoran yang dinamakan Karbon di lantai 16 ini. Ketika mengetahui nama restoran, saya menebak bahwa Karbon adalah sebuah restoran steakhouse namun pada saat berbincang-bincang dengan pihak hotel mengenai konsep restorannya, bukannya makin paham namun saya malah dibuat makin bingung. The more you know, the less you learn sepertinya!
Dijelaskan bahwa memang daging sapi menjadi salah satu protein utama yang ditawarkan namun cara pengolahannya tidaklah seperti steakhouse kebanyakan. Iya, memang sebagian menu makanan akan dipanggang namun teknik pemanggangannya akan menggunakan kayu dan banyak melibatkan smoke. Hmm, lalu bukan steakhouse? 😉
Tenang saja setelah menikmati makanan di Karbon, saya sudah mendapatkan sebuah pencerahan dan paham dengan konsep restoran ini. Haa!

Karbon hanya beroperasi di pukul 18:00 hingga dini hari pukul 01:00 dan agar dapat memasuki venue Anda diwajibkan untuk memiliki konfirmasi pemesanan terlebih dahulu. Hal ini tentu saja membuat Karbon terkesan sangatlah eksklusif, ditambah lagi mood dan pencahayaan yang redup membuat Karbon makin terasa ‘cool‘.



Chef de Cuisine yang bernama Chef Dillah menyambut kedatangan kami dan membawa kami tur hingga memasuki ke dalam dapur terbuka yang telah berkobar api dan asap memenuhi area tersebut. Tenang saja, exhaust nya bekerja maksimal sehingga asap tidak mencekik pernafasan! Usai tur singkat tersebut kami dipersilahkan untuk memilih tempat duduk yang kami kehendaki dan beliau kembali ke dapur untuk mempersiapkan makanan kami.


Chef Dillah telah memilihkan menu-menu andalannya untuk kami dan satu per satu makanan mendarat ke meja kami. Beliau dengan passionate menjelaskan bahan dari setiap menu yang disajikan sekaligus dengan cara pengolahan, cerita di baliknya bahkan ekspektasi sensasi dan rasa yang hendak dicapai. Senang sekali kami juga dapat merasakan makanan yang disajikan memang enak dan spesial sesuai deskripsi dari Chef Dillah.
‘Spesial’ untuk konteks ini adalah dalam artian saya tidak pernah merasakan makanan serupa di tempat lain, perpaduannya inovatif dan out of the box. Makanan di sini terasa eksperimental namun tetap enak tentunya. Harus kembali saya tekankan, enak tidaknya sebuah makanan sangatlah subyektif sehingga apa yang saya bilang enak tentu saja debatable. Namun jika saya ditanya apakah saya menyarankan tempat ini ke teman-teman saya? ‘Iya’ adalah jawaban singkat saya.










Bersantai Sejenak Setelah Makan Malam di Vinyl
Usai bersantap malam yang mengesankan di Karbon, kami dibawa masuk mengunjungi Vinyl. Vinyl berada di sebelah Karbon namun lokasinya tersembunyi, sangat discreet, dan unassuming. Vinyl adalah sebuah bar yang mengambil konsep speakeasy. Sebagai sebuah speakeasy maka untuk mengaksesnya pun juga diperlukan kode rahasia, para tamu dapat mengutip kodenya dari apps Instagram resmi Vinyl dan membisikkannya ke host yang berjaga di depan.
Apabila kode rahasianya benar maka host akan membukakan pintu melalui alat pemutar vinyl hijau yang terlihat seperti hiasan dekoratif. Konsep bar yang terbilang lucu dan unik!

Sesuai dengan namanya, Vinyl dipenuhi dengan koleksi vinyl dari musikus lintas genre dan generasi. Semisterius pintu masuknya, venue dari Vinyl juga dibuat redup dengan vibe ruangan yang misterius dan ‘old‘. Para tamu diperkenankan memilih vinyl yang diinginkan dan para petugas akan memutarkannya di sini. Vinyl juga beroperasi dari pukul 18:00 hingga 01:00 dini hari.




Apabila Anda menyukai minuman cocktail dan spirit, Anda mungkin akan senang berada di sini. Menu-menu minuman di sini sangatlah eksperimental, dibuat dengan teknologi tinggi dan merupakan karya award winning bartender. Pada saat ulasan ini dibuat, Vinyl adalah salah satu (atau bahkan satu-satunya) bar di Bandung yang memiliki mesin sentrifugal dan distilasi untuk meracik sebuah minuman. Cool gizmos!



Fasilitas-fasilitas Penunjang di Hotel Indigo Bandung
Pusat Kebugaran
Fitur penting yang dipunyai Hotel Indigo Bandung adalah pusat kebugaran. Pusat kebugaran di sini dibuat dengan sangat cantik dan menarik. Ia beroperasi 24 jam dan berada di lantai LG. Semua piranti olahraga disini dari pabrikan TechnoGym yang tentunya salah satu pemimpin di industri kebugaran. Alat-alatnya pun bisa dibilang lengkap dan semua alat olahraga yang terbilang esensial disediakan disini.
Pusat kebugaran ini berukuran relatif besar dengan dominasi parket kayu berwarna natural yang dikombinasikan dengan warna hitam. Mesin-mesin kardio ditempatkan di depan jendela floor-to-ceiling berpemandangan alam sekitaran Dago Pakar.










Kolam Renang
Selain kolam renang eksklusif di lantai 16 yang hanya bisa diakses oleh sebagian kecil tamu hotel, maka juga disediakan kolam renang model infinity yang berada di lantai LG. Letak kolam renang ini juga berdekatan dengan pusat kebugaran. Kolam renang keluarga ini beroperasi dari pukul 07:00 dan tutup di pukul 19:00 tiap-tiap harinya.



Kancil Club: Kids Club
Kancil Club adalah sebuah nama yang lucu dan sangat spesifik untuk kids club sebuah hotel. Hotel Indigo Bandung adalah sebuah hotel yang ramah untuk keluarga dengan anak-anak kecil, sehingga di saat orang tua hendak menikmati santai sejenak maka dapat mengantarkan anak-anaknya untuk menghabiskan waktu (dan energi!) untuk bermain sambil belajar di Kancil Club.
Kancil Club ini beroperasi dari pukul 08:00 hingga pukul 17:00 dan juga berlokasi di lantai LG. Disain interior dari Kancil Club juga terlihat cantik dan dilengkapi dengan berbagai macam mainan dan bahkan juga tersedia alat musik tradisional Angklung. Kids club ini juga diperlengkapi dengan sebuah ruangan khusus untuk menonton film.







Penutup
Menginap di sebuah hotel berbendera Indigo adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Hotel Indigo adalah hotel kategori lifestyle yang berada di dalam naungan program loyalti hotel IHG One Rewards. Disain-disainnya trendi dan selalu berkiblat pada lokasi tempatnya berdiri, maka dari itu tidak ada hotel Indigo yang terbilang sama antara satu dengan lainnya.
Hotel Indigo Bandung Dago Pakar adalah hotel Indigo kedua di Indonesia setelah Hotel Indigo Bali Seminyak Beach dan yang lebih baru lagi adalah Hotel Indigo Bintan Lagoi Beach. Senang sekali saya sebagai perwakilan PinterPoin berkesempatan untuk diundang menginap dan mengulas ketiga hotel ini. Saya diperkenankan untuk menikmati hotel secara penuh dan as intended dari pihak pengundang.

Menurut saya, berikut adalah kelebihan dan kekurangan hotel ini murni berdasarkan pengalaman saya kala itu:
(+) Hotel ini adalah hotel yang terbilang baru (beroperasi di Agustus 2024) dan kehadirannya menjadi sebuah tambahan hotel yang ‘penting’ untuk kota Bandung. Hotel ini menurut saya bukanlah hotel ‘kebanyakan’ namun dibuat dengan konsep yang matang dan menyatu dengan alam sekitarnya di area Dago Pakar dan kota Bandung
(+) Hotel yang penuh cerita dan semua karyawan yang bekerja siap bercerita mengenai aspek gedung, interior, maupun menginap Anda. Carilah karyawan yang memakai seragam dengan tulisan ‘Let me tell you a story’ di bagian punggungnya dan bersiaplah untuk mendengar ‘dongeng’ mengenai hotel ini. Servis di sini juga bersinar dengan talents yang berjiwa muda, supel, dan ramah.
(+) Hotel yang ramah untuk keluarga dengan fasilitas kids club yang dinamakan Kancil Club dan juga fasilitas pusat kebugaran yang lengkap dan didisain memukau!
(+) Memiliki restoran bernama Karbon yang menyajikan makanan-makanan unik, inovatif, dan eksperimental yang susah didapatkan di tempat lain dan menurut saya pricing harganya pun sangat masuk akal dan relatif terjangkau untuk sekelasnya. Karbon adalah salah satu restoran yang boleh dimasukkan ke dalam daftar destinasi makanan wajib dikunjungi di Bandung bahkan untuk Anda yang tidak menginap di hotel ini
(-) Lokasinya yang berada sedikit di luar pusat kota Bandung tentu saja akan banyak mengundang para tamu menginap untuk rehat sejenak retreat di libur akhir pekan atau hari libur lainnya, sehingga akan sangat ideal apabila ia memiliki fasilitas spa atau sejenisnya. Is it just me?
(-) Hal yang sangat minor adalah formulasi toiletries-nya (body lotion) kurang bagus dan tekanan air di shower yang kurang kencang.
Saya ingin berterima kasih untuk tim Hotel Indigo Bandung yang telah membantu mengkoordinasi segala sesuatu yang berhubungan dengan aspek dari sebelum hingga akhir stay khususnya untuk Ms. Dina Novia dan Pak Aldi Rinaldi. Saya jelas akan kembali menginap di sini jika rencana perjalanan membawa saya ke Bandung!






































