Halo dari St. Petersburg, Russia & Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H! Kali ini saya akan mengulas bagian pertama dari perjalanan Russia & Scandinavia saya (klik disini untuk membaca artikel trip intro), yaitu penerbangan dari Jakarta menuju ke Muscat dengan Oman Air Boeing 787-9.

Mohon maaf karena saya tidak bisa mempublikasikan artikel harian seperti biasa. Namun, terima kasih kepada tim PinterPoin, yang selalu siap menghadirkan artikel menarik 😉 .

Berikut adalah ulasan yang akan saya tulis dalam beberapa pekan ke depan:


Flight Review: Oman Air Economy Class B787-9 Jakarta – Muscat

Lounge Review: Primeclass Lounge Muscat International Airport

FOTO: Impresi Mengunjungi Muscat, Oman Dalam 1 Hari

Flight Review: Oman Air Economy Class B737-8 Muscat – Moscow, Business Class on a Budget

Lounge Review: SAS Lounge Copenhagen Airport

Flight Review: Austrian “Europe” Business Class A319-100 Copenhagen – Vienna

Flight Review: Turkish Airlines Business Class A330-300 Vienna – Istanbul (New Airport)

Lounge Review: Turkish Airlines Lounge New Istanbul Airport

Flight Review: Singapore Airlines Business Class 777-200ER Istanbul – Singapore

Lounge Review: Singapore Airlines SilverKris Lounge Terminal 3 Changi Airport

Lounge Review: Singapore Airlines SilverKris Lounge Terminal 2 Changi Airport

Flight Review: Singapore Airlines Business Class A350-900R Singapore – Jakarta


Penerbangan ini adalah kali pertama saya mencoba Oman Air, sebuah maskapai “boutique” nasional asal Oman. Saya pribadi selalu merasa excited untuk mencoba maskapai dan mengunjungi negara baru.

Saya akan menginap 1 malam di Muscat & akan menjelajahi kota Muscat untuk beberapa jam setelah beristirahat di Primeclass Lounge di bandara Muscat.

Kamar tidur layaknya hotel di Primeclass Lounge bandara Muscat, Oman. Foto: PinterPoin.

Prosesi di Bandara

Oman Air terletak di pintu/gate 2 terminal 3 internasional bandara Soekarno Hatta. Lokasi konter check in terletak di area B21-23.

Saat saya melakukan check in, hanya terdapat 3 agen yang bekerja, namun tidak terlalu banyak orang yang mengantri. Saya berhasil melakukan check in dalam hitungan menit & segera menuju ke imigrasi dan kemudian ke gate.

Boarding melalui Gate 7 di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta.

Mesin Boeing 787-9 Dreamliner yang masif.

Nomor Penerbangan: WY850 

Jenis Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner

Registrasi Pesawat: A4O-SE

Rute: Jakarta (CGK) – Muscat (MCT)

Tanggal: Jumat, 31 Mei 2019

Waktu Berangkat: 15:04 (Waktu seharusnya 14:50)

Waktu Tiba: 19:51 (Waktu seharusnya 19:25)

Durasi Penerbangan : 7 jam, 47 menit

Kursi: 20K

Kursi

Kursi asli saya adalah di baris 47K, alias kursi jendela di baris paling belakang. Namun, karena tidak bisa membeli upgrade ke business class, agen Oman Air memindahkan saya ke kursi bulkhead sebagai goodwill. Cerita selengkapnya bisa Anda baca di bawah.

Penampakan kursi economy class Oman Air Boeing 787-9 Dreamliner.

Kursi bulkhead tentunya akan memberikan ruang gerak kaki yang lebih luas. Untuk bisa memilih kursi ini, saya aslinya harus membayar Rp 1,2 juta yang tentunya cukup mahal.

Agen yang memindahkan saya ke kursi depan menjanjikan jika saya akan mendapat 1 baris untuk saya sendiri. Saya anggap wajar karena untuk memilih kursi ini, penumpang diwajibkan membayar. Saya juga menganggap jika kru kabin akan secara proaktif menjaga baris ini agar eksklusif.

Namun beberapa orang dari belakang kemudian pindah ke baris ini setelah lepas landas. Meski saya tidak mempermasalahkan, namun hal tersebut menunjukkan sikap Oman Air yang cukup fleksibel di kabin economy. Saya sarankan Anda untuk mencoba pindah ke baris kursi bulkhead saat terbang dengan Oman Air.

Ruang gerak kaki yang luas memungkinkan saya untuk keluar & masuk kursi tanpa mengganggu tetangga sebelah, walaupun aslinya saya tidak memiliki seatmate di penerbangan ini 😉 .

Di tiap kursi telah tersedia sebuah bantal, selimut, dan headset. Namun, saya selalu menggunakan headset pribadi saya yaitu Shure SE215.

Tidak lama setelah duduk, pramugari kemudian membagikan menu kepada tiap penumpang. Berikut adalah menunya:

Sebagai informasi, kru kabin akan meminta kembali menu dan selimut sebelum penerbangan berakhir. Pastikan Anda tidak menyimpan atau merusak menu tersebut.

Di tiap kursi juga terdapat colokan listrik yang sayangnya tidak berfungsi.

In flight entertainment (IFE) di baris kursi bulkhead terlipat tersembunyi di antara kursi.

Tidak lama setelah lepas landas, pramugari kemudian membagikan minuman dan makanan ringan.

Kurang lebih 1 jam+ setelah lepas landas, meal service dimulai, saya memilih opsi Vegetable Biryani yang sayangnya terlalu hambar bagi saya. Namun tetap saya habiskan karena kondisi perut yang sedang kosong.

Satu hal yang saya apresiasi saat terbang di economy class adalah pembagian botol air kepada setiap penumpang. Saya pribadi kurang menyukai konsep meminta air kepada pramugari dengan gelas plastik karena saya biasanya minum sangat banyak di dalam pesawat.

Kamar Mandi

Kamar mandi yang saya gunakan terletak di belakang baris 33 atau di depan baris 34. Sayangnya, kondisi kamar mandi tidak dalam keadaan terbaik. Entah mengapa lantai kamar mandi terasa lengket dan sedikit berbau tidak sedap.

Sama halnya ketika saya pindah ke kamar mandi yang lain, lantai di kamar mandi terasa agak lengket.

Penampakan kabin economy class Boeing 787-9 dari belakang.

Sebelum mendarat, kru kabin kemudian membagikan snack yang berupa sandwich, buah, kue, air jeruk, dan air mineral.

Tidak Bisa Upgrade ke Business Class

Sebagai informasi, saya membeli tiket sekali jalan Jakarta – Muscat – Moscow seharga Rp 3,9 juta.

Kurang lebih 3 hari setelah saya membeli tiket, saya masih melihat opsi Instant Confirmed Upgrade ke business class seharga Rp 5.900.000, namun opsi tersebut menghilang setelahnya.

Alternatifnya, Oman Air menawarkan Bid Upgrade ke business class, dimana untuk rute Jakarta – Moscow ini dilelang mulai dari US $449 atau seharga Rp 6.200.000.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan membeli upgrade pada saat check in di airport setelah pihak Oman Air mengonfirmasi bahwa hal tersebut mungkin dilakukan.

Sesampainya di bandara, saya segera menghampiri konter check in Oman Air & menanyakan opsi upgrade ke business class di sektor Jakarta – Muscat. Harga yang ditawarkan ternyata sama dengan harga awal, yaitu sekitar Rp 5,9 juta+.

Akhirnya saya setuju untuk membayar harga tersebut untuk upgrade. Menurut saya harga tersebut cukup good deal mengingat reputasi Oman Air yang sangat baik terutama di kabin premium. Saya merasa Rp 5,9 juta untuk kursi business class Apex Suites, Laurent-Perrier Champagne, dan makanen fine dining tentu saja sangat menarik.

Namun, saya diinformasikan jika upgrade tidak bisa dilakukan karena mesin EDC milik Oman Air kehabisan kertas & ternyata belum dipindahkan alamatnya dari Terminal 2 ke 3.

Akhirnya saya harus bertahan dengan reservasi awal di economy class. Jika Anda mengikuti akun sosial media PinterPoin, mungkin Anda sempat melihat jika saya mengirimkan story kepada pihak Oman Air Indonesia.

Saat prosesi boarding untuk memasuki pesawat, seorang pegawai yang nampaknya adalah station manager Oman Air menghampiri saya dan meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Beliau juga menginformasikan jika pihak Oman Air Indonesia telah memberikan beberapa instruksi. Salut untuk tim Oman Air yang telah merespon dengan cepat.

Saya ditawari untuk pindah ke bulkhead seat, baris kursi economy class paling depan yang memiliki benefit ruang gerak kaki yang luas, seperti yang telah Anda baca di atas. Namun tentunya Oman Air wajib membenahi permasalahan ini agar tidak terulang kembali. Saya merasa Oman Air telah kehilangan revenue dengan masalah ini.

Penutup

Penerbangan dengan Oman Air di economy class bisa dibilang cukup menyenangkan. Tentunya hal tersebut ditolong oleh fakta bahwa Oman Air mengoperasikan pesawat Boeing 787-9 di rute Jakarta. Saya sangat menyayangkan hilangnya kesempatan untuk mencoba business class Oman Air yang terlihat fenomenal.

Jika dibandingkan dengan maskapai Timur Tengah lainnya seperti Qatar, Emirates, dan Etihad, saya menganggap jika economy class Oman Air masih sedikit kalah dibanding Qatar & Emirates namun jauh lebih baik ketimbang Etihad.

Saya pribadi cukup optimis jika Oman Air akan semakin tumbuh menjadi maskapai kelas dunia. Bandara baru Muscat juga sangat impresif meskipun tidak terlalu luas.

Bagaimana pendapat Anda tentang Oman Air?