Sudah menjadi rahasia umum bahwa Garuda Indonesia memang sedang struggling di rute penerbangan ke/dari London. Bagi Anda yang melewatkan saga rute London Garuda Indonesia:

Artikel ini saya tulis untuk memberikan pendapat saya terhadap produk terbaru yang diperkenalkan oleh Garuda Indonesia khusus pada rute Jakarta – London dan London – Denpasar.

Bagi Anda yang mungkin melewatkan beritanya, Garuda Indonesia secara khusus memperkenalkan 2 kelas kabin baru (ESCort & Premium), eksklusif untuk rute Jakarta – London dan London – Denpasar.

ESCort (Economy Sleeping Comfort)

Pertama-tama, saya merasa bahwa “ESCort” merupakan pemilihan nama yang cukup aneh.

Kata escort sendiri secara harafiah berartikan “pengawal”, “pengiring” atau “kawalan”. Apakah Garuda Indonesia akan menawarkan fasilitas pengawalan/escort menuju ke bandara atau bahkan ke pesawat? Sepertinya tidak.

Economy Sleeping Comfort atau ESCort. Kredit: Garuda Indonesia.

Berikut adalah deskripsi dari produk “ESCort” yang dikutip langsung dari website Garuda Indonesia:

Kursi ESCort cocok untuk Anda yang ingin berbaring selama penerbangan jarak jauh Anda. Kami menata satu baris kursi di kabin Economy Class dengan matras, bantal, duvet, dan juga selimut khusus untuk kenyamanan tidur Anda. Selain itu, kami juga menyediakan berbagai fasilitas tambahan, seperti:

  • Gratis bagasi hingga 40 kg
  • Hidangan dan amenity kit business class
  • Penanganan bagasi prioritas
  • Free USD5 wifi voucher mulai 26 Januari 2019
  • Special mileage 200%
  • Matrass, Pillow, Duvet, Blanket

Sebenarnya, jenis kursi seperti ini sudah ada sejak lama. Air New Zealand (Skycouch) dan China Airlines (Family Couch) terlebih dahulu telah memperkenalkan produk serupa.

Air New Zealand merupakan maskapai pertama di dunia yang memperkenalkan konsep Skycouch. Kredit: Air New Zealand.

Bagi saya, ESCort merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh Garuda Indonesia untuk mengisi kabin yang hampir selalu sepi pada rute ke/dari London.

Namun, sangat disayangkan karena  harga yang ditawarkan juga tidak terbilang murah. Anda harus membayar hampir 2x lipat  dari harga Eco Promo untuk kursi ESCort.

Tabel perbandingan harga tiket economy class di rute Jakarta – London.

Padahal, penerbangan Garuda Indonesia ke/dari London bisa dibilang selalu sepi. Banyak sekali orang yang berhasil mendapatkan 3 kursi untuk diri sendiri tanpa harus membayar mahal.

Bagi saya, Garuda Indonesia secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa rute ke/dari London memang tidak profitable.

Premium (Premium Economy)

Garuda Indonesia tidak akan memperkenalkan kursi khusus untuk kelas Premiumnya. Melainkan, Garuda Indonesia hanya akan mengosongkan kursi di tengah untuk memberikan ruang gerak ekstra.

Intinya, Anda tetap akan mendapatkan kursi economy class yang sama, namun kursi di tengah akan dikosongkan untuk ruang gerak lebih. Konsep ini menganut konsep intra-Europe business class yang dilakukan oleh maskapai-maskapai besar di Eropa.

Business class intra-Europe British Airways. Kredit: View From the Wing.

Berikut adalah deskripsi yang dikutip langsung dari website Garuda Indonesia:

Kursi premium memberikan Anda ruang duduk lebih untuk kenyamanan penerbangan jarak jauh Anda di kabin Economy Class. Selain mengosongkan satu kursi di sebelah Anda, kami juga menawarkan berbagai fasilitas tambahan, seperti:

  • Gratis bagasi hingga 40 kg
  • Duvet
  • Hidangan dan amenity kit business class
  • Penanganan bagasi prioritas
  • Free USD5 wifi voucher mulai 26 Januari 2019
  • Special mileage 150%
Mengapa Saya Tidak Menyukai Kedua Produk Baru Ini?

Alasan utamanya adalah kemungkinan besar Anda bisa mendapatkan 1 baris untuk diri Anda sendiri di penerbangan ke/dari London karena sepinya penumpang di rute ini.

Sehingga, menurut saya sebenarnya kurang “worth it” untuk membayar lebih mahal untuk produk Premium Garuda Indonesia karena alasan berikut:

  • Tidak seperti maskapai lainnya yang membedakan jenis kursi Premium Economy dan Economy Class, kursi di Premium Garuda Indonesia tetap menggunakan kursi economy class biasa
  • Anda bisa dengan mudah mendapatkan 1 baris untuk diri Anda sendiri tanpa harus membeli ESCort atau Premium dikarenakan sepinya penerbangan ke/dari London

Premium economy Singapore Airlines menggunakan kursi yang berbeda dengan economy class. Kredit: Singapore Airlines.

Sedangkan untuk produk ESCort, saya pribadi tidak akan membayar hampir 2x lipat dari harga Economy untuk produk ESCort mengetahui kemungkinan besar penerbangannya akan sepi.

Fasilitas yang didapatkan seperti 200% miles, 3 frekuensi atau makanan dan amenity business class tetap saja tidak mendorong saya untuk membayar hampir 2x lipat untuk produk ini.

Tidur di 1 baris Economy Class tidak senyaman yang Anda bayangkan

Saya sendiri merasa cukup beruntung karena sudah beberapa kali mendapatkan 1 baris economy class karena sepinya penerbangan. Namun, saya merasa bahwa tidur merebah di 1 baris kursi economy class tidak senyaman yang Anda bayangkan.

Garuda Indonesia masih menggunakan konfigurasi kursi 3-3-3 di kabin economy classnya. Tentunya itu merupakan hal yang baik bagi para penumpang karena kebanyakan maskapai sudah menerapkan konfigurasi 3-4-3.

Seat map economy class Garuda Indonesia. Kredit: SeatGuru.

Namun, untuk berbaring lurus di baris kursi economy class, saya sendiri setidaknya memerlukan 4 kursi.

1 kursi economy class Garuda Indonesia di pesawat Boeing 777-300ER memiliki lebar sebesar 43cm. Asumsinya, jika 3 kursi digabungkan, maka Anda akan memiliki ruang untuk berbaring sepanjang 129cm.

Jika Anda memiliki tinggi badan melebihi 130cm, maka kaki Anda akan menjulur keluar dari baris kursi Anda dan akan mengganggu lalu lintas di kabin. Artinya Anda harus tidur secara tengkurap sepanjang penerbangan ke/dari London selama 14 jam lebih!

Tidak Ada Attachment atau Sambungan di Kursi

Kursi ESCort Garuda Indonesia juga sepertinya tidak menggunakan attachment tambahan untuk tambahan ruang gerak. Yang dimaksud dengan attachment tambahan adalah sebagai berikut:

Kredit: China Airlines.

Dengan menambah attachment seperti ini, penumpang akan mendapatkan ruang gerak tambahan.

Kredit: Emily McNutt – The Points Guy.

Beberapa Hal yang Bisa Dipertimbangkan oleh Garuda Indonesia

Stop Rute London!

Sejujurnya, saran utama saya adalah Garuda Indonesia seharusnya menghentikan rute London karena memang tidak menguntungkan. Saya merasa bahwa rute London tetap diperjuangkan hanya karena alasan prestige.

Fokus pada Amsterdam (atau mungkin Paris)

Garuda Indonesia seharusnya lebih fokus pada codeshare agreement seperti yang sedang dilakukan dengan KLM, salah satu maskapai rekanan SkyTeam. Dengan codeshare agreement, penumpang akan terbang ke Amsterdam dengan Garuda Indonesia kemudian melanjutkan ke destinasi Eropa lainnya dari Amsterdam dengan KLM.

Pesawat Boeing 777 milik Air France. Kredit: RoutesOnline.

Dikarenakan Air France juga merupakan maskapai partner SkyTeam, Garuda Indonesia mungkin bisa mempertimbangkan codeshare agreement tambahan dengan Air France via transit Paris.

Air France sebelumnya terbang ke Indonesia melalui Singapura, namun dihentikan karena sepinya arus penumpang. Indonesia dinilai lebih sebagai destinasi wisata ketimbang destinasi business. Namun tetap saja, saya merasa Paris akan lebih masuk akal bagi Garuda Indonesia ketimbang London.

Meningkatkan Arus Penumpang Dari Eropa – Australia dan Sebaliknya

Permintaan pasar untuk penerbangan dari Eropa – Australia dan sebaliknya sangatlah besar dan menjanjikan. Jakarta dan Bali terletak di antara kedua destinasi tersebut. Seharusnya Garuda Indonesia lebih fokus “menjual” rute ini.

Mungkin Garuda Indonesia juga bisa memberikan fasilitas gratis hotel di Bali atau Jakarta untuk menarik minat traveler. 

Penutup

Bagi saya, rute ke/dari London tetap dipertahankan karena alasan prestige saja. Mengapa mempertahankan rute yang tidak menghasilkan uang? Terhitung sudah beberapa kali Garuda Indonesia melakukan perubahan pada rute ini.

Dengan memperkenalkan produk ESCort dan Premium, Garuda Indonesia secara tidak langsung telah menunjukkan bahwa rute ke/dari London selalu sepi.

Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan oleh Garuda Indonesia untuk meningkatkan arus penumpang ke/dari London?